Chapter 19
Tangan Prilly masih bergetar, dadanya naik turun mengatur nafas bagaimana pun juga perkelahian Ali dan sang Ayah memancar kekhawatiran sendiri baginya.
Air mata ketakutan itu masih bertengger di pipi mungil nya itu
"Ini" Ali memberikan selembar tissue untuk menghapus mata Prilly yang sedikit berair. Prilly menerima nya dengan senyum tulus seraya mengucapkan "Terimakasih" jantungnya yang berdetak kencang mulai normal .
Ali kembali fokus dengan setir nya dan jalanan yang mulai ramai, Prilly mengamati wajah Ali detail, kekesalan masih tersirat di iris mata hitam pekatnya tidak sengaja mata Prilly beralih ketangan Ali yang memerah dan memar
"Ali tangan kamu?" Prilly menggapai kepalan tangan kiri Ali "Ini pasti sakit" Sambungnya mendapat sesimpul senyum dari Ali "Kamu masih bisa senyum dalam situasi kayagini?" gerutunya lalu bergeleng kepala
"Aku gapapa, cuma memar kan?" Ali bersikap santai kembali menyetir mobilnya dengan tenang Prilly menyeringai dan bercih "Ali stop disini!" Permintaan Prilly membuat Ali berkerut kening bingung seolah tahu Ali akan bertanya Prilly menjawab "Lakuin aja"
Setelah berhenti disisi jalan, tanpa basa basi Prilly meraih tangan Ali lalu membalutnya dengan perban yang ia temukan dijok mobil Ali "Prilly ini berlebihan" Tolak Ali "Ini cuma memar" Ungkapnya sambil tersenyum kembali dan "Auuu!!! kenapa dipukul?" Ali meringis mendapat pukulan tepat dimemarnya "Ga ada hal lain yang bisa kamu lakuin selain ketawa dan bersikap jagoan?" Prilly menghentikan aktifitasnya ditangan Ali lalu melanjutkan "Kamu tega ngeliat orang lain khawatir liat aksi kamu yang kaya tadi?" Wajah Prilly mulai serius dan Ali kini menundukan kepalanya bersalah
"Maaf, aku bikin kamu terlibat dalam persoalan aku sama lelaki bejat itu" Sesal Ali, pandangannya menatap kosong sisi jalanan "Sebenarnya apa yang bikin kalian kayagini? kamu keliatan ga suka sama dia, bukannya dia-Ayah mu?" Tutur Prilly ragu, Ali membulatkan matanya tenggorokan nya tercekat tidak mampu menjawab pertanyaan Prilly.
Merasa tak enak hati Prilly meralat "Maaf, aku fikir kalian adalah ayah dan anak karena pria tadi bilang kalau kamu itu an...". "iya" Jawab Ali singkat menghentikan pernyataan Prilly
"Kamu pasti tahu kan sikap dia yang kaya tadi adalah salah satu alasan kenapa aku benci sama dia, dan gara-gara dia mamah aku sakit" Prilly tertegun rupanya pertanyaan nya sudah membuat Ali kembali mengingat luka keluarganya
"Ta.. tapi ga seharusnya kamu bersikap kaya tadi". "mana mungkin aku bisa diam kalau kamu dihina dia kaya gitu Prill? ga lah, mana mungkin aku rela kamu dihina kayagitu aku itu....." Ali tersadar dan segera menghentikan ucapannya Prilly mengkerutkan kening sesegera mungkin ingin Ali melanjutkan ucapan nya "Kamu itu apa???" ulang Prilly. "Aku itu...." Ali mulai salah tingkah ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sementara Prilly masih menunggunya
"Aku itu,, aku sama kamu teman dekat jadi mana mungkin orang terdekat aku biarin dihina orang" Prilly mengerjap matanya mengedip dan menganggukan kepalanya sembari masih menoleh pada Ali
"Menurut kamu itu mungkin?" kali ini Ali menoleh pada Prilly, membuat gadis itu kaget karena sikap Ali barusan jantung Prilly sampai berdebar kencang karena wajah Ali yang begitu dekat dengannya saat menoleh tadi. Memang hanya sesaat , tapi itu benar-benar dekat
"Em" Prilly bukan bingung menjawab diaasih belum siap karena jantungnya yang berdebar keras dia butuh waktu untuk sedikit menormalkan detak jantungnya
"Hah" Ali mendesah seolah dengan seperti itu beban dalam dirinya hilang, memberikan ruang untuk Ali merasa nyaman "Aku harap es itu belum mencair" Canda Ali mendelik pada bungkusan yang ada pada Prilly. membuat keduanya tersenyum dan dengan segera Ali menancap kan gas nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[NF] Us, Love and Oddity
Teen FictionAku mencintai nya, mencintai segala ke anehan nya dan keanehan yang Tuhan telah ciptakan di antara kami berdua. Keanehan yang membuat cerita kami sempurna.
![[NF] Us, Love and Oddity](https://img.wattpad.com/cover/26202490-64-k785245.jpg)