keempatbelas💌

5.3K 375 17
                                        

Chanyeol mengernyitkan keningnya bingung. Rekan kerjanya tuan Jeon memberi sebuah pesan melalui sekretarisnya untuk menyampaikan bahwa Sehun sendiri meminta untuk dirinya bersiap menyambut kedatangan rekan kerjanya itu besok pukul dua siang di perusahaannya.

Ada rasa senang di lubuk hatinya bahwa pebisnis yang terkenal akan kekayaannya di Busan Seoul dan China itu ingin bertemu, mungkin saja akan membicarakan tentang kerja sama lagi kedepannya.

"Mark, tolong siapkan beberapa jamuan mahal dan tolong suruh beberapa orang untuk membersihkan ruangan ku tanpa ada noda sedikitpun. Akan ku periksa besok pagi hasil kerja kalian, mengerti?"

"Baik tuan. Apa ada lagi yang ingin tuan sampaikan?"

Chanyeol terdiam sebentar lalu menepuk dahinya pelan seakan baru mengingat sesuatu

"Ahh.. tolong kau besok jemput Taehyung di rumah dan katakan padanya untuk berpakaian formal saat datang ke perusahaan ku jam 1:30 siang. Katakan juga padanya ini sangat penting tidak bisa di tolak, tuan Jeon ingin anakku di ikut sertakan dalam pertemuannya"

Mark mengangguk tanda mengerti. Ia pamit permisi keluar setelah mendapat persetujuan dari Chanyeol dan meninggalkan pria paruh baya itu sendiri di ruangannya

"Tunggu sebentar, tapi untuk apa Sehun menyuruh Taehyung datang eoh?" Chanyeol baru tersadar

"Apa dia ingin meminang anakku untuk anaknya? Kalau tidak salah Sehun memiliki anak manis di rumahnya, astaga jika benar Sehun menginginkan Taehyung maka dengan senang hati aku memberinya secara cuma-cuma" pikir laknat Appa dari Kim Taehyung itu dengan wajah sumringah

.

.

Taehyung berjalan dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya angkuh. Tak tinggal dua sahabatnya yang setia itu berjalan beriringan di kanan dan kirinya sambil sesekali menggoda adik kelasnya yang tidak sengaja berjalan melewati ketiganya.

"Piwit halo manis"

"Arum ah, kau semakin sexy saja eoh" jimin mengedipkan sebelah matanya pada adik kelas yang ia tegur barusan

"Namaku Yeji brengsek! Dasar penjahat kelamin!"

Hoseok dan Taehyung meringis lalu tertawa mengejek. Jimin yang di tertawakan hanya mampu mengelus dada sabar dan memberi tanda musuh pada adik kelasnya yang sudah berjalan menjauh setelah dengan tega mengatakan hal yang terdengar menjijikkan padanya

"Iya aku tau aku ini brengsek, tapi tidak usah juga mengatai penjahat kemaluan sipit!" Teriak jimin pada Yeji tidak terima

Yeji menoleh kebelakang dan hanya mengacungkan jari tengahnya yang panjang ke arah Jimin yang mana semakin membuat tawa Hoseok menggelegar sedangkan Taehyung hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu, atau lebih tepatnya tingkah sepupunya sendiri

"Si sipit itu ingin ku cekik rasanya" ujar Jimin kesal

"Ahahahhaha... Jimin penjahat kelamin hahaha.. y-yak!! Tolong jangan jahati kelaminku nee Jimin ssi hahhahaha...!!!!"

Jimin mendelik dan menatap tajam Hoseok yang tidak henti hentinya tertawa.

"Diamlah brengsek!"

"Sudah sudah, kalian tidak ingin cepat makan hah? Aku sudah lapar dari tadi idiot!"

Hoseok dan Jimin hanya memberi cengiran lucu mereka kemudian melangkah kembali mengikuti Taehyung yang sudah berjalan lebih dulu setelah mengatakan ucapan sarkas tadi

Namun baru lima langkah berjalan mereka kembali berhenti saat melihat Taehyung yang terdiam memandang lurus kedepan. Jimin menaikkan sebelah alisnya dan mengikuti arah pandang sahabatnya yang mana terdapat sosok makhluk indah pujaan lelaki Kim itu tengah berjalan di hadapan mereka dengan tujuan yang sama ke kantin

"Jika kau ingin dia kembali maka kejar terus jangan hanya diam melihatnya seperti itu"

Taehyung menoleh ke arah Jimin dan mengangguk paham "Aku memang menginginkan nya, tetapi aku tidak bisa untuk selalu mendekatinya Jim. Dia menghindar"

"Tak apa, coba pelan pelan. Jangan membuatnya merasa kau sama sekali tidak ada perjuangan"

"Tidakkah kau liat perjuanganku mendapatkan nya lagi? Tapi apa? Di saat aku berjuang mendapatkan maafnya dia pasti akan memberi tatapan yang terlihat sekali begitu benci. Ada kalanya aku juga merasa lelah Jim, tapi aku juga tidak ingin menyerah. Aku mencintainya"

"Maka berusahalah lebih keras lagi. Jungkook memang sudah dimiliki tapi selagi belum sah tak apa apalah jika ingin merebut" sahut Hoseok tiba-tiba

Taehyung menatap lurus ke arah Jungkook yang masih berjalan bersama sahabatnya kemudian mengangguk yakin

"Kalian benar, dan aku percaya bahwa Tuhan menciptakan Jeon Jungkook hanya untuk Kim Taehyung"

..

"Jungkookie wajahmu pucat, kau sakit?"

Jungkook melipat kedua tangannya di atas meja setelah menyingkirkan mangkuk berisi makanan yang ia pesan tadi. Mata bulat menatap tidak selera dan perutnya mendadak kembali mual namun berusaha ditahannya

"Umhh aku tidak apa-apa Bamie, hanya... Perutku yang tidak baik baik saja" lirihnya

Bambam mengernyit bingung "perutmu? Memangnya apa yang kau rasakan? Perutmu sakit?"

Jungkook sontak terdiam kaku. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja di hadapan sahabatnya. Dirinya tidak ingin mengatakan bahwa ia tengah berbadan dua pada Bambam meskipun pria itu menyandang sebagai sahabat terbaik dan terdekatnya

"Itu.. perutku... Kenyang. Padahal aku tidak berniat menyisakan makananku ini, jika tidak dimakan kan mubazir"

Bambam mengerucutkan bibirnya berbentuk O. Maka dengan santai tangannya meraih makanan Jungkook dan memposisikan tepat didepannya untuk ia santap

"Kalau begitu aku saja yang habiskan"

Jungkook menggeleng kepalanya malas. Terlampau biasa dengan tingkah Bambam yang ada kala bermanfaat di waktu tertentu

Semakin lama di tahan entah kenapa rasa mualnya semakin menjadi jadi. Jungkook menutup mulutnya merasakan akan siap mengeluarkan isi perutnya dan dengan tergesa juga ia bergerak berlari menuju toilet namun tubuhnya malah tidak sengaja menabrak sesuatu yang terasa bidang dan tegap di hadapannya

Jungkook memekik kaget dan mendongak menatap wajah sosok lelaki yang kini tengah merengkuh pinggang rampingnya nyaman tanpa bergerak sedikitpun

"Lepaskan!" Sentak Jungkook galak

Namun lelaki itu hanya diam dan menatap lamat wajah manis Jungkook yang mendongak dengan kening berkerut kesal mengarah padanya

"Kookie... Kau sakit"

Jungkook mengerjap lalu kembali memberontak.

Jangan tanyakan bagaimana kondisi kantin saat ini. Ramai, dengan mata yang saling menatap dua insan di tengah tengah keramaian. Jungkook dan Taehyung menjadi pusat perhatian

Jungkook hendak mengeluarkan suaranya lagi akan tetapi tertahan sebab tubuh gempalnya di angkat dengan posisi bridal hingga reflek anak itu melingkarkan tangannya pada leher sang dominan

"Sunbae! Yak Kim Taehyung! Apa yang kau lakukan?!"

"Diam atau ku cium disini hingga kau mendesah" ancamnya tak main-main. Jungkook menggertakkan gigi gigi kelincinya menahan gejolak amarah. Ia kembali tenang dan mulai pasrah saat tubuhnya di gendong dan di bawa entah kemana oleh mantan kekasihnya ini. Jungkook bahkan tak sadar rasa mual tadi malah menghilang saat kemunculan Taehyung yang menguras emosi pagi harinya.

Jungkook di bawa pergi dan meninggalkan tanda tanya pada Bambam yang memandang lurus keduanya dari awal hingga berakhir meninggalkan kantin.

"Jika Taehyung kembali bersama Kookie lalu Yeonjun..? Ah molla.. Yeonjun untukku saja jika tidak ada yang mau. Lumayan untukku dijadikan Atm berjalan" pikir Bamie cabe cabean tingkat matre











Tbc






Issues [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang