Dua Puluh Satu

12 1 0
                                        

Lanjut bro!

***

Suasana hening menyelimuti kediaman keluarga Dellan. Rumah itu hanya berisi beberapa asisten rumah tangga, tukang kebun, dan satpam keluarga. Bahkan pemilik rumah pun hingga pukul 11.00 malam belum kembali. Akhir-akhir ini mereka diketahui pulang larut malam karena ada beberapa hal penting yang mendesak.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil memasuki gerbang rumah tersebut dan memarkir mobilnya di area parkir. Humm rupanya salah satu keluarga disini, karena ia terlihat berbincang sebentar dengan satpam rumah. Seorang wanita yang tak lain ibunda dari Gisha dan Regan keluar dari mobil tersebut.

Ia terlihat sedikit lelah dan mengantuk saat memasuki rumah. Langkah nya langsung menuju pantry dan menuangkan air, lalu meneguknya hingga tandas. Jujur saja ia kelelahan saat di butik, hingga ia lupa minum.

"Nyonya, mau mandi air hangat? Biar saya siapkan air hangatnya." Tawar salah satu asisten rumah tangga nya.

"Kamu belum istirahat?" Sera malah bertanya hal lain. Harusnya pukul 10.00 para pegawainya sudah beristirahat, terkecuali satpam yang berjaga malam.

"Maaf, Saya menunggu nyonya pulang."

Sera tersenyum, ia sangat menghargai sikap orang di depannya. Bagaimanapun menunggu itu melelahkan.

"Gisha udah tidur?"

"Nona Gisha belum pulang, ia pergi sore tadi."

Sera memijat pelipisnya, pusing. "Humm baiklah, sekarang kamu istirahat saja. Sudah larut."

" Baik Nyonya terima kasih." Asisten rumah tangga itu pun pergi pamit undur diri.

Sera pergi menuju ruang kerjanya. Sekarang pikirannya teralih pada Gisha yang hingga larut kini belum pulang.

Ia membersihkan tubuhnya sebelum beranjak ke atas tempat tidur. Mengambil handphonenya dan mengetik nama anak perempuannya sebelum berdering. Dalam beberapa detik kemudian telepon tersambung. "Reghisa... Kenapa belum pulang? Ini susah larut malam lho." Tanya nya dengan suara lembut.

"Hallo mama, aku nginep di apartemen nya kak Regan." Suara Gisha terdengar setengah sadar. Mungkin Gisha sudah tidur.

Sera menghela napas panjang, "ahh mama kira kamu main keluar. Syukurlah, tidur nyenyak sayang."

"Okey mam, good night mam." Gisha menutup teleponnya sepihak.

Sera menghela nafas berat, perasaan nya tak tenang. Ia lalu menggelengkan kepalanya, menghapus pemikirannya yang negatif. Anak-anak nya pasti baik-baik saja walaupun akhir-akhir ini hubungan mereka sedikit renggang.

Suara pintu terbuka membuat ia sedikit terhenyak, suaminya yang terlihat lelah tampak kusut. Sera segera mengambil tas kantor dan mengambil segelas air putih untuk diminum suaminya.

"Akhir-akhir ini sibuk sekali ya Ma." Ken Papa menerima minuman yang disodorkan dan meminum nya hingga tandas.

"Iya pa, butik banyak sekali yang harus urus." Keduanya berbincang singkat.

Ken mendudukkan dirinya di sofa dengan tangan sibuk membuka kaus kaki nya. "Aku pikir, lebih baik setelah lulus SMA Regan aku kirim ke luar negeri, ia harus berkuliah dan meneruskan perusahaan kita."

Sera mengangguk mengiyakan. "Aku setuju, tapi apa Gisha akan baik-baik saja?"

"Gisha pasti mengerti, dia harus bersikap dewasa dan tidak bergantung pada kakak nya." Ken mengusap wajah nya yang lelah. "kita akan membicarakan ini lain kali. Sekarang saatnya beristirahat." Ia menutup pembicaraan nya sebelum masuk ke kamar mandi.

***

Regan berjalan santai di koridor sekolah setelah bel pulang berbunyi beberapa menit lalu. Ia menuju kelas adik nya dan berencana mengantar adiknya pulang.

Pikiran nya melayang pada ucapan orang tuanya tadi.

"Regan, nanti akhir pekan tolong pulang ya. Ada yang mau papa dan mama bicarakan." Suara telepon papa nya siang itu terdengar serius. Regan hanya mengiyakan perintah papa nya. Kalau sudah terdengar serius berarti memang serius. Ia pun tidak berani bertanya ada apa atau pertanyaan lainnya. Dia cukup mengerti ucapan orang tuanya.

Setelah beberapa langkah ia sampai di depan kelas adiknya itu. Seperti biasa gadis itu tersenyum manis saat melihat Kakak nya datang, hanya saja setelah mengetahui perasaan mereka, Gisha sering tersipu saat Regan menggoda nya. Dan sedikit tidak petakilan.

Keduanya mulai berjalan kembali menuju parkiran, dan naik ke mobilnya.

"Gi, akhir pekan kakak pulang kerumah." Gisha langsung berbalik menatap kakaknya.

Mata Gisha berbinar bahagia. "Itu bagus, tumben tiba-tiba banget nih pulang."

Regan mengendarai mobil nya dengan santai. "Tiba-tiba kangen rumah. Kangen kamar kakak." Ia tidak tidak akan memberi tahu adiknya, jika yang menyuruhnya pulang adalah papa nya.

Gisha mengerucutkan bibirnya, "lagian sih kakak pake pindah segala. So mandiri." Cibirnya sedikit merajuk.

Regan mengusap kepala adiknya gemas. "Kan biar Gisha mandiri juga." Keduanya terkekeh kecil sebelum beberapa menit kemudian mobil mereka menepi dipinggir jalan.

"Kenapa kak?" Tanya Gisha saat Regan membuka pintu mobil nya mengajak Gisha keluar mobil.

"Cari ice cream yu, udah lama kan gak makan ice cream bareng?"

Mata Gisha berbinar untuk kesekian kalinya,  suasana hati nya benar-benar sedang bagus.
Keduanya berjalan menuju penjual ice cream. Masih dengan seragam sekolah yang sama, orang akan mengira mereka anak remaja yang sedang kasmaran.

Lalu keduanya duduk di kursi dibawah pohon pinggir jalan, dengan ice cream ditangan mereka. Angin berhembus menerbangkan anak rambut mereka, tak luput sesekali Gisha membetulkan rambutnya yang berantakan terbawa angin.

Mata indah Regan tak luput memperhatikan perempuan di samping nya yang kerepotan dengan angin yang berhembus. Ia mengambil jepit rambut dari saku nya. Regan selalu membawa jepit rambut kesayangan adik nya.

Ia mulai menjepit anak rambut Gisha dengan telaten. Gisha sedikit terpaku, tatapannya tak pernah lepas dari wajah kakak nya. Jantung nya selalu berdegup kencang setiap mendapat perlakuan dari Regan. Untuk kesekian kalinya, hatinya selalu jatuh cinta pada kakak nya. Yang dimakan ice cream, yang meleleh hatinya.

"Makasih kak, aku lupa bawa iket rambut tadi." Gisha melanjutkan makan ice cream nya yang tertunda.

"It's okey. Kakak yang harus siaga kalau gitu." Regan tertawa renyah, sebelum menjawil hidung adik nya gemas. Ia tahu kebiasaan adiknya yang pelupa.

"Akhir pekan aku ada undangan ulang tahun teman sekelas kak." Gisha memberi tahu Regan perihal undangan temannya Minggu depan.

Regan menatap wajah adiknya, lalu mengangguk kecil. "Kakak anterin kamu ya, jam berapa?"

"Mungkin jam 10 pagi. Aku malas pergi, tapi gak enak hati kalau gak datang." Ia sedikit cemberut. "Mau main sama kakak dirumah. Gisha kangen kakak ada dirumah."

Tawa kecil keluar dari mulut Regan. Ia mengerti keinginan adik nya. "Kakak bakal nginep ko dirumah. Masih banyak waktu kita."

Gisha menghela napas malas sebelum menjilat ice cream nya. "baiklahhh..."

Setelah ice cream mereka habis, mereka beranjak dan melajukan mobilnya menuju rumah.

***

To be continued ❤️

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 12, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SECRETLY [ON GOING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang