𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Mika
10 Tahun yang lalu adalah keadaan yang cukup krisis bagiku. Patah hati, kekecewaan, kehilangan, kebencian, dan kesalahan. Aku bergelut dengan itu semua sampai dua tahun setelahnya. Selama krisisku itu, aku nggak lepas dari hal-hal bodoh.
Salah satunya adalah menunggu Arki yang sudah benar-benar hilang seperti ditelan bumi. Aku sampai terus-terusan menanyakan cowok itu pada Bang Arka, yang aku yakini kalau ia mengetahui keberadaan adiknya.
Namun, keluarganya pun sedang mencari Arki yang pergi tanpa jejak apapun. Nggak ada mutasi dari rekeningnya, nggak ada jejak penerbangannya di bandara kalau saja ia kabur ke luar negeri, dan Arki seperti hilang menjadi abu yang tertiup angin.
Beberapa bulan setelah pencarian Arki diberhentikan, sebuah mobil yang terakhir Arki pakai untuk mengantarku pulang ditemukan tenggelam di bawah jembatan sungai besar. Mendengar kabarnya aku hampir gila, tapi aku juga sedikit bersyukur bahwa nggak ada tanda-tanda keberadaan Arki di dalam mobil itu.
Setelah diselidiki, nggak ada tanda-tanda Arki ikut tenggelam di dalam mobil. Yang masih menjadi teka-teki sampai saat ini adalah, kemana ia pergi? Kemana ia mengasingkan diri? Apakah sekarang ia masih hidup?
Setelah aku menghabiskan waktu dua tahun itu, aku mulai lebih fokus dengan hidupku yang harus terus berjalan demi sebuah mimpi, yang menjadi satu-satunya harapan aku hidup.
Aku mulai menata hidupku kembali, mulai belajar mengikhlaskan hal-hal yang memang sudah seharusnya hilang. Seiring berjalannya waktu, aku bertemu dengan orang-orang baru dan belajar lebih banyak dari isi-isi kepala setiap orang.
Aku juga mulai mencoba untuk berhubungan dengan cowok di masa kuliahku, tapi rasanya hambar, aku nggak merasakan hal yang pernah aku rasakan bersama Arki dulu. Terkadang, aku kesal pada diriku sendiri karena nggak pernah bisa membuka hati meskipun aku begitu keras mencobanya.
Di antara banyaknya lelaki baik yang aku temui, aku selalu mencari sosok dirinya. Tapi sayangnya, aku nggak pernah menemukan itu. Lalu, setelah aku lulus kuliah, aku berhenti untuk mencoba membuka hati. Aku berhenti untuk berusaha jatuh cinta lagi. Aku menjalani hari dengan perasaan yang benar-benar kosong sampai sekarang. Entah kapan berakhirnya perasaan kosong ini, aku pun nggak tahu. Aku berterimakasih kepada kehidupanku yang cukup sibuk hingga nggak ada celah untukku memikirkan kekosongan itu.
Namun, di waktu-waktu yang cukup melelahkan untukku, kadang aku mengistirahatkan diri dengan pergi ke tempat-tempat yang pernah aku kunjungi bersama Arki. Hal itu nggak pernah diketahui oleh siapapun, terutama Willa dan Nevan.
Mereka menganggapku benar-benar sudah melupakan Arki. Padahal di satu waktu aku kadang merindukannya dan ... masih menunggunya. Aku hanya membohongi diriku sendiri soal melupakan, padahal aku hanya pura-pura dan berharap nggak pernah melupakannya.
Dengan aku datang ke sebuah taman bermain di dekat komplek rumah kami dulu, ke taman kota dengan sunset yang indah, dan makan eskrim rasa coklat, adalah beberapa upayaku untuk terus mengingatnya.
Aku menghela napas tenang sambil bersandar di kursi panjang. Aku memejamkan mata sambil berlipat tangan, merasakan udara yang masih sejuk dan hangatnya sinar mentari sore ini.
Aku telah menghabiskan satu corong eskrim rasa coklat yang sampahnya aku simpan di dekat handbag yang terletak di sampingku. Sepertinya aku sudah cukup gila selalu membayangkan Arki duduk di sampingku, yang pada kenyataannya hal itu mustahil.
Mungkin kalau dulu, aku akan menghabiskan waktu disini sampai matahari benar-benar tenggelam, tapi sekarang aku memilih pulang sebelum matahari menunjukkan keindahannya, karena aku nggak mau terlalu berlarut-larut mengingat masalalu. Sampai aku kembali menemukan sosok wajah tampannya dalam ingatanku, rasanya sudah cukup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Teen FictionMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
