𓂃。⋆ selamat membaca ⋆。𓂃
Mika
"Kenapa makna luka dijadikan sebagai konsep Art Gallery ini?"
"... Banyak alasan saya meengambil konsep makna luka untuk Art Gallery ini. Salah satunya adalah saya ingin mengajak teman-teman semua berdamai dengan luka batin. Mungkin apa yang saya katakan terdengar klise, tapi saya tahu bahwa setiap orang memiliki luka masing-masing. Oleh karena itu, saya ingin menjadikan Art Gallery ini sebagai ruang untuk mereka berdamai dengan luka." Aku menghela napas, menatap kamera yang menyorot kearahku. "Untuk benar-benar sembuh dari luka batin, kita setidaknya perlu untuk mendalami luka itu. Karya-karya seni saya yang terpajang disini bisa kalian nikmati sebagai luka-luka yang harus kalian sembuhkan."
Seorang perempuan yang bertugas mewawancaraiku dari salah satu instansi media itu mengangguk dengan pancaran kagum di matanya. "Lalu, apa yang membuat Teh Mika terdorong untuk mendirikan Art Gallery ini? Apakah Teh Mika pernah dilukai oleh seseorang sampai bisa menjadi seperti sekarang ini? Soalnya saya lihat komentar-komentar di konten yang Teh Mika buat, banyak yang tanya 'laki-laki mana yang menyakitimu, Teh Mika?' katanya."
Aku terkekeh pelan mendengar pertanyaan selanjutnya. "Kalau disakiti oleh seseorang saya mungkin nggak pernah, tapi ada beberapa hal yang mendorong saya untuk mendirikan Art Gallery ini. Di antaranya adalah mendiang adik saya, dan seseorang di masalalu yang saya ingat sampai saat ini. Saya sedikit berharap orang itu berkunjung ke Art Gallery ini untuk bisa benar-benar menyembuhkan lukanya."
Di kalimat-kalimat terakhir aku berbicara sambil menatap kamera, seolah seseorang yang aku maksud bisa menonton liputan ini.
"Waw! Sekarang terjawab ya teman-teman yang tanya siapa yang menyakiti Teh Mika, jawabannya nggak ada. Teh Mika ini adalah seorang seniman muda yang banyak menginspirasi muda-mudi yang seringkali akrab dengan yang namanya luka batin, itulah alasan Art Gallery ini didirikan. Untuk terakhir ya, Teh Mika, apa yang mau Teh Mika sampaikan kepada teman-teman diluar sana yang sudah pernah berkunjung dan belum berkunjung ke Art Gallery ini?"
Aku diam beberapa saat sambil memikirkan beberapa kalimat yang hendak aku sampaikan. "Dalam hidup itu nggak ada orang yang nggak memiliki luka, dan luka itu sebenarnya nggak pernah benar-benar sembuh, tapi dia hanya tersimpan rapih di dalam diri kita. Perlu teman-teman sadari juga bahwa ikhlas itu bukan menyembuhkan, tapi berdamai. Maka dari itu, Art Gallery dengan konsep makna luka ini mengajak teman-teman semua berdamai dengan luka melalui karya seni penuh makna yang terpajang. Selamat datang di Sanju Art Gallery."
Aku mendengar suara tepuk tangan nyaring dari arah depan tatkala wawancara eksklusif ini berakhir. Willa sejak tadi duduk di belakang kamera, menyaksikan obrolanku bersama jurnalis dari salah satu media yang cukup terkenal. Kurang lebih satu jam, Willa menemaniku disana sambil memberiku dukungan lewat kode tangannya.
Sudah lewat beberapa hari grand opening kafeku bersamaan dengan diresmikannya tempat ini sebagai Art Gallery pribadiku. Banyak yang berkunjung ke tempat ini, kebanyakan dari mereka adalah pengikut media sosialku. Entah itu hanya fomo atau memang tertarik pada lukisan-lukisanku, aku sangat senang karena lukisan-lukisanku bisa dipamerkan secara langsung kepada banyak orang.
Terlebih memiliki sebuah Art Gallery adalah impianku sejak dulu, dan akhirnya aku bisa menggapai mimpi itu. Hatiku rasanya berdebar ketika melihat ada beberapa orang yang nggak jarang berdiam diri di depan lukisan sambil mengamati dengan lamat-lamat, seolah hanyut ke dalam goresan-goresan kuasnya.
"It's your dream, Mika." Willa berbisik di telingaku saat aku tengah memperhatikan setiap sudut ruangan. "Aku ikut senang melihat kamu akhirnya bisa memancarkan sinar kebahagian yang salama ini kamu sembunyikan," lanjutnya, tatapan matanya itu membuat aku terharu, Willa adalah orang tulus yang pernah aku kenal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Makna "Kita dan Luka"
Novela JuvenilMika dan Arki awalnya adalah manusia yang berjalan di jalannya masing-masing. Tak akrab meskipun berada dalam satu kelas yang sama, tapi pada tahun terakhirnya bersekolah di SMA Garwana, mereka baru akrab menjadi kawan berbincang. Saling memeluk ke...
