"Jangan sampai tidak datang, Mina. Aku pamit."
-------------------------------------
Flashback 1 bulan lalu
"Jeong, apa kau benar-benar tidak mau berhubungan lagi dengan Mina? Aku tahu kau sangat sakit hati padanya. Ini sudah 3 tahun. Tapi—"
"Sudah, Mo. Aku mohon sudahlah, aku sudah jauh darinya, aku sudah hidup bahagia sejauh ini, dan aku mohon jangan lagi sebut namanya. Semua sudah berakhir, seperti yang ia inginkan." Ucapku memotong omongan Momo. Sering kali Momo mengangkat pembicaraan ini dan berakhir dengan diriku yang langsung menolak dan menghindarinya.
"JEONGYEON!! Dengarkan aku sekali ini saja, kau tahu? Mina terus mencarimu Jeongyeon. Hingga saat ini." Ucap Momo yang cukup mengagetkanku.
"Maksudmu?" tanyaku khawatir pada Momo.
"4 bulan setelah kau pergi, ia putus dengan kekasihnya. Sejak itu dia terus menanyakan keadaanmu, kabarmu, dan dimana kau berada. Bahkan hampir setiap minggu selama setahun penuh dia pergi menemui keluargamu berharap mereka memberi tahu keberadaan dan kabarmu. Dan--" Jelas Momo padaku. Dadaku terasa sesak mendengarnya, aku hampir lemah, namun ku tepis semua itu dan memotong pembicaraannya.
"Hah... buat apa dia seperti itu? Ah sudahlah. Aku akan pergi keluar." Lalu aku mencium pipinya dan meninggalkan apartemen kami.
Aku sedang berjalan sendiri menikmati sore ini. Aku tersenyum melihat sepasang muda-mudi, mengingatkanku pada Mina dan diriku dulu. Entahlah mereka sepasang kekasih atau hanya sahabatan saja. Aku berharap aku tidak akan berjumpa dengannya lagi, bila pun harus, aku ingin ia tidak membahas semua kembali. Biar semua itu tertutup rapat dalam relung hati terdalam.
-------------------------------------
"Akhirnya kau pulang juga." Ucap Momo sambil memelukku yang baru selesai melepas jaketku dan menaruhnya di gantungan.
"Ya, aku akan mandi. Apakah kau memasak atau memesan makanan? Aku lapar." Tanyaku padanya.
"Aku memasak pasta kesukaanmu. Cepat bersihkan diri dan makan bersama, ok?"
"Baiklah, eomma." Ledekku padanya dan beralih menuju kamar mandi. Terdengar rengekannya dan aku hanya terkekeh.
-------------------------------------
"Huhh~ gomawo makanannya." Ucapku pada Momo saat selesai menyantap makananku.
"Jeong..." ucap Momo memecah keheningan.
"Mina sakti Jeong. Apa kau tidak mau menemuinya? Dia sangat lemah sekarang." Ujar Momo yang membuat ku tercengang.
"Ma-maksudmu?" tanyaku serius pada Momo.
"Mina... dia... depresi Jeong, sudah hampir setahun ini. Sejak kau pergi, ia terus menerus mencarimu hingga akhirnya dia menyerah. Lalu ia habiskan hari-harinya menjadi Mina yang pendiam tidak seceria dulu. Lalu entah bagaimana sekitar tahun lalu dia di diagnosis menderita depresi. Jeong, aku tahu kau masih sakit hati padanya. Namun, bisakah kau berbaik hati menemuinya lagi? Dia membutuhkanmu." Jelas Momo padaku.
"Aku... aku tidak tahu harus menjawab apa, Mo. Jujur aku memang masih mencintainya namun sudah kusimpan jauh di dalam hatiku." Ucapku sambil menggenggam tangannya dan menatapnya.
"Pikirkanlah dulu, Jeong. Minggu depan kau kembali ke korea bukan? Sebelum terlambat." Ucap Momo terseyum sambil membereskan piring kotor kami.
Flashback End
-------------------------------------
Mina POV
Aku kuatkan diriku untuk hadir di acara pertunangan ini. Jika bukan karena para ada orang tuaku yang datang juga, mungkin aku tidak kuat untuk hadir disini. Aku mengalami depresi setaun terakhir ini dan 3 bulan lalu aku resmi tidak menggunakan obat-obatan lagi. Saat mendengar bahwa Jeongyeon pulang ke Korea dari Dahyun yang tidak sengaja membocorkan, kecemasanku muncul bersamaan dengan rasa bahagiaku.
Rasa bahagiaku kembali merekah ketika Jeongyeon melalui Dahyun setuju untuk bertemu denganku. Namun, semua sirna ketika aku menerima undangan acara hari ini. Jeongyeonku akan bertunangan. Haha... aku menangisi diriku sendiri bahkan langit terlalu cerah dan tidak mendukung diriku yang sedang sendu ini. Mengapa tidak hujan saja? Agar acara ini batal, dan aku bisa merebut Jeongyeonku. HAHHH... aku rasa aku mulai lagi. Tidak... tidak boleh Mina. Ingat ini untuk kebahagiaan Jeongyeon, orang yang mencintaimu namun kau campakkan, kau buang, dan kau injak harga dirinya.
Ku lihat sosok Jeongyeon, begitu tampan dengan setelan jas warna maroon, senada dengan dressku saat ini, namun sayang bukan aku yang akan berdiri disampingnya nanti. Aku begitu penasaran siapakah perempuan paling beruntung itu. Tak lama ku lihat sesosok wanita cantik dengan gaun putihnya berjalan menghampiri Jeongyeon. Momo? Jadi... wanita itu Momo? Hahaha... bahkan semesta kembali mempermainkanku lagi. Orang yang paling ku cintai akan bertunangan dengan sahabatku dan Momo tidak pernah memberitahuku.
-------------------------------------
Momo menghampiri Jeongyeon dan membisikan sesuatu yang menyebabkan Jeongyeon tersenyum. Lalu mereka beralih dan melihat sekeliling dan terpaku pada satu sosok, Mina. Jeongyeon dan Momo menghampiri Mina yang terlihat sedang menahan air matanya untuk tumpah.
"Hai, Jeong, Momo, selamat ya. Aku bahagia atas pertunangan kalian." Ucap Mina sambil menahan rasa tercekat dalam tenggorokannya.
"Hah? Ak-" Ucapan Momo terpotong oleh Jeongyeon.
"Terima kasih, Mina. Silahkan nikmati waktumu. Ayo, Mo." Ajak Jeongyeon pada Momo.
Aku melihat mereka pergi dari hadapanku. Aku benar-benar tidak kuat, hatiku sakit sekali. Aku memutuskan untuk duduk di meja bersama orang tuaku. Bahkan meja orang tuaku tepat di depan panggung, sebanyak inikah hukuman untukku, Tuhan?
.
.
.
.
.
.
. Bersamboeng
Sambungan Why Would I Be dan Yes I Miss You. Yang belum membacanya bisa dibaca dahulu ya karena nyambung.
Kalau suka Vote & Comment ya ges ya

KAMU SEDANG MEMBACA
Our Love Songs || JEONGMI || Mina Jeongyeon || END
FanfictionKumpulan cerita pendek JeongMi. Terinspirasi dari beberapa lagu favorit yang saya rasa cocok untuk mereka. Btw, Maaf kalau interpretasi lagu kedalam ceritanya berbeda dengan kalian, ya. Maaf juga kalau ceritanya umum/biasa saja/mirip cerita diluar s...