**
Lucas tengah membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu, kala rasa lelah menyerangnya. Bagaimana tidak lelah, ia telah menyelesaikan mencuci lima mobil sebagai hukuman karena ia telah memakan kue bunda yang akan di antar ke customer sore nanti.
Bajunya setengah basah. Tetapi ia tidak peduli, ia benar-benar lelah sekarang.
"Astaga adek, kenapa baring disini? Sofanya jadi ikutan basahkan. Sana! Mandi habis itu ikut kakak jemput ayah."
Baru saja ia memejamkan mata, suara bunda berhasil membuatnya urung untuk terlelap.
"Ayah pulang hari ini Bun?"
"Iya."
Dengan segera ia beranjak dan berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Mengabaikan suara bunda yang menyuruhnya untuk berhati-hati.
"Astaga... Punya anak bontot ada aja kelakuannya." Bunda ngedumel sembari berjalan ke arah dapur. Melanjutkan membuat kue lagi.
Setelah beberapa menit, Lucas kembali dengan pakaian yang sudah rapih. Tangan kanannya menenteng sepasang sepatu.
"Mau susu strawberry dulu Bun," ucapnya sembari duduk di kursi pantry.
"Kakak kamu mana?"
"Masih di kamar." Lucas menerima segelas susu strawberry dan menegaknya habis.
"Terimakasih bunda," ucapnya dan di balas usapan sayang pada dahinya.
"Bun, aku berangkat ya." Seseorang muncul dari balik pintu. Itu, Juno, sulung di keluarga Kim.
"Hati-hati ya kak!"
"Siap bunda." Setelahnya, ia kembali berlalu dan diikuti oleh Lucas, setelah sebelumnya mengecup singkat pipi bunda.
"Juno tungguin...."
**
Mereka telah sampai di bandara Soekarno Hatta dengan selamat. Juno dan Lucas berjalan beriringan sembari netranya menjelajahi mencari sosok sang ayah.
Lucas menatap kakaknya dengan tatapan takjub sedari tadi.
"Lo hebat banget sih Jun, bisa nyetir mobil, punya SIM. Gue jadi pingin."
Juno melirik singat sosok yang lebih muda itu.
"Gue kan sudah tujuh belas tahun. Lah, Lo, enam belas aja belum," ucapnya.
"Tapi... Gue tinggi."
"Masih tinggian gue."
Lucas memanyunkan bibirnya. Menatap sinis sang kakak kemudian berjalan mendahului sembari menghentakkan kakinya. Dan itu membuatnya terlihat menggemaskan.
"Ayah......" Lucas berlari menghampiri sang ayah kala netranya menangkap sosok tinggi dengan seragam putih khas pilot.
Lucas memeluk ayahnya dengan erat.
"Adek rindu ayah banyak-banyak."
Tata mengelus pelan Surai sang anak.
"Ayah juga rindu adek banyak-banyak," balasnya.
"Sini yah, kopernya kakak bawain."
Ayah menyerahkan kopernya kepada si sulung. "Terimakasih kak," ucapnya.
"Nanti mampir supermarket dulu ya yah! Snack adek habis," ucap Lucas sembari menggandeng tangan ayahnya dengan manja.
"Sudah ijin bunda belum?"
"Ijinnya setelah beli aja yah. Kalau ijin sebelum beli mah auto nggak di ijinin."
Ayah terkekeh mendengar jawaban si bungsu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lu(C)As
Fiksi PenggemarIni tentang si bungsu, yang hatinya sangat luas dalam menerima garis takdir sang pencipta. Kata orang hidupnya sangat sempurna. mari kita lihat, sesempurna apa hidup si bungsu.
