***
Juno menatap langit malam dari balkon kamarnya. Malam ini angkasa nampak cerah, bintang-bintang bertaburan keseluruh angkasa. Ia tersenyum tipis. Jadi ini, yang membuat adiknya setiap malam menatap angkasa. Terasa indah dan menenangkan.
Sesekali ia menghisap rokoknya. Kalau dihitung, ini sudah rokok ke enam di hari ini.
Dirumah tidak ada siapapun kecuali dirinya. Kata ayah, besok Lucas sudah boleh pulang setelah dua Minggu mendekam di rumah sakit, dan Juno bersyukur untuk itu.
Semenjak adiknya di nyatakan koma dua Minggu yang lalu, Juno mulai mengonsumsi barang nikotin itu untuk menenangkan pikirannya sejenak. Dan kini ia sudah mulai kecanduan. Walaupun ayah melarang keras anak-anaknya untuk merokok, selagi tidak ketahuan tidak apa, fikirnya.
Dalam sunyi malam yang indah itu, Juno menggumamkan harapan besar untuk adiknya kepada angkasa yang luas itu.
"Tuhan... Tolong berikan waktu yang lama untukku bersama adikku," ucapnya dalam hati.
***
Sang Surya muncul ke permukaan angkasa, menggantikan tugas rembulan untuk menyinari bumi.
Pemuda yang genap enam belas tahun itu menatap patuh pada dokter yang akan mencopot infus yang beberapa Minggu ini terpasang di tangan kanannya.
"Nah, sudah selesai. Akan terasa sakit sedikit nanti," ucap dokter cantik itu.
"Lucas, tetap sehat ya supaya tidak bertemu dokter lagi."
Lucas mengangguk.
"Tapi... Nanti Lucas rindu dokter cantik lagi."
Dokter itu terkekeh gemas.
"Kita bisa bertemu di luar rumah sakit. Nanti akan dokter perkenalkan dengan anak dokter yang seumuran kamu."
"Wahh... Dokter sudah punya anak yang besar. Tapi... Kenapa dokter cantik sekali."
"Ekhem..." Deheman bunda membuat Lucas kembali mengatupkan bibirnya. Bundanya cemburu, fikirnya.
"Ibu negara cemburu dok. Ehehe..."
Dokter cantik yang di ketahui Lucas bernama mawar itu mengacak pelan surai Lucas. Kemudian mulai beranjak dari sana.
"Anak bunda pinter banget gombalin orang." Lisa mulai mendekat sementara Lucas hanya nyengir.
"Ayah mana Bun?"
"Lagi ngurus administrasi. Kenapa cari ayah heum?"
"Pengen di gendong sama ayah."
Cklek...
Ayah memasuki ruangan rawat Lucas diikuti Kian samchon.
"Kakak nggak ikut?" Lucas merasa aneh karena selama ia sadar dari komanya, kakaknya itu cuma satu kali datang menjenguknya.
"Kakak lagi sibuk ngurus akselerasinya," jawaban ayah membuat Lucas mengangguk mengerti.
"Ayah, gendong!"
Ayah terkekeh gemas kemudian mengecup singkat dahi bungsunya dan berbalik badan. Lucas pun menempel pada punggung ayahnya. Ia menyenderkan wajahnya pada ceruk leher ayah. Kalau boleh jujur, kepalanya masih merasa pusing.
"Adek ringan sekali. Nanti, makan yang banyak ya," ucap ayah yang di balas anggukan oleh Lucas. Mereka berempat pun pergi meninggalkan rumah sakit yang yang dua pekan ini selalu mereka kunjungi.
Setelah menempuh jarak yang cukup lama, akhirnya mereka telah sampai di kediamannya. Ayah dan bunda masing-masing membawa peralatan yang dibutuhkan Lucas selama di rumah sakit. Sementara Kian memapah Lucas untuk memasuki rumah.
"Samchon, duduk dulu deh. Tolong ambilkan adek minum!" Kian mengangguk dan mendudukkan Lucas di sofa ruang tamu.
"Terimakasih samchon," ucap Lucas sembari menerima segelas air putih dari pamannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lu(C)As
Fiksi PenggemarIni tentang si bungsu, yang hatinya sangat luas dalam menerima garis takdir sang pencipta. Kata orang hidupnya sangat sempurna. mari kita lihat, sesempurna apa hidup si bungsu.
