**
Hari ini adalah hari yang paling berat untuk remaja yang sebentar lagi akan berusia enam belas tahun itu. Setelah pulang sekolah, ia tidak langsung mengganti seragamnya. Ia terduduk di balkon kamarnya, menatap langit sore yang mendung dan gerimis.
Tadi, teman-temannya seakan membencinya tatkala ia mengumumkan untuk mundur dari tim basket sekolahnya karena alasan ingin fokus kependidikannya. Tentu saja itu hanya alibi. Ia sakit dan tubuhnya menolak untuk mengerjakan hal-hal yang melelahkan.
"Selamat Cas, Lo sudah berhasil hancurin tim basket kita."
"Pengkhianat."
"Gue nggak nyangka Lo Setega itu Cas."
"Lo egois."
Perkataan dari temannya tadi seakan berputar bagai kaset rusak di kepalanya. Lucas menghapus air matanya tatkala mendengar getaran ponselnya dan nama sang kakak tertera disana.
"Baru pulang?" Tanya Juno yang melihat sang adik masih menggunakan seragam. Dan di balas anggukan lemas dari Lucas.
"Kenapa? Sakit?"
"Nggak. Lo kapan pulang sih kak? Gue kesepian."
"Teman-teman Lo kan banyak. Biasanya juga Lo basket terus."
"Kapan pulang?" Lucas memilih kembali bertanya.
"Dua Minggu lagi. Tapi kayaknya gue betah disini deh. Apa gue minta ayah buat pindahin gue aja disini." Juno melihat mimik sedih dari sang adik dan itu membuatnya terkekeh gemas, padahal ia hanya ingin menggoda adik satu-satunya itu.
"Gue becanda dek."
Lucas menggembungkan kedua pipinya.
"Ajarin gue naik motor dong kak."
"Naik tinggal naik."
"Maksudnya nyetir kakak ku sayang."
Lagi, Juno terkekeh melihat ekspresi kesal sang adik.
"Iya nanti kalau gue udah pulang."
"Yaudah gue mau mandi. Ada jadwal Mabar sama samchon. Bye.."
Setelah telepon terputus, Lucas mulai beranjak dari sana. Ia menggigil kedinginan, mungkin karena terlalu lama terkena angin sore yang gerimis.
**
Hari ini, setelah dua Minggu lebih resign dari pekerjaannya, Tata sudah rapi dengan jas kantornya. Ia akan kembali bekerja di perusahaan orang tuanya yang berada di Indonesia yang selama ini di kendalikan oleh Namjoon, teman sekaligus tangan kanannya.
Ia menikmati kopi paginya sembari menunggu sarapan dari istrinya. Atensinya teralihkan tatkala melihat bungsunya yang berjalan dengan menunduk.
Sebenarnya, ia sangat tidak tega melihat bungsunya yang takut dengannya. Tapi, sebagai orang tua ia harus tegas untuk kesehatan sang buah hati.
"A..ayah." ucap Lucas dengan lirih dan di balasnya dengan deheman.
"Adek minta maaf ya yah. Kemarin, adek sudah bilang sama coach."
"Ayah sudah tau dan ayah sudah maafin, asalkan jangan di ulangi lagi."
Lucas mengangguk.
"Adek sudah iklhas dengan takdir adek. Mungkin, masa depan adek bukan di basket."
Tata menghampiri sang anak. Ia sedikit berjongkok guna mensejajarkan tubuhnya dengan Lucas. Ia mengelus surai hitam itu.
"Adek, dengarkan ayah! Adek bisa kok basket lagi, tapi nanti, ada saatnya. Saat ini, adek harus fokus sama kesehatan dulu ya."
Lucas menatap sang ayah dengan senyum manisnya.
"Iya ayah." Kemudian, keduanya berpelukan.
"Ekhem... Bunda nggak diajak nih." Bunda datang sembari membawa sepiring nasi goreng. Lucas melepaskan pelukannya pada sang ayah dan berjalan menuju bunda. Memeluknya dari belakang dengan manja.
"I love you bunda."
Bunda tersenyum, sudah beberapa hari ini ia tidak mendapatkan kata itu setiap pagi. Bunda pun membalikan badannya dan mengecup pelan dahi Lucas.
"I love you more kesayangan bunda."
"Jadi, ayah nggak kesayangan nih."
Bunda menghela nafas pelan, ia lupa punya dua bayi disini.
"Nggak, kesayangan bunda kan adek." Lucas kembali memeluk bunda sembari menjulurkan lidahnya.
"Sudah! Sarapan dulu gih!"
Mereka bertiga pun menikmati sarapan dengan khidmat.
**
"Jadi bener Lucas keluar dari tim basket?" Mark, satu-satunya teman terdekat Lucas itu bertanya kepada Jihan tatkala mendengar percakapan para siswa di sepanjang koridor ia menuju ke kelas.
"Iya. Tiba-tiba mutusin buat keluar dari tim dan alasannya nggak masuk akal bagi seorang Lucas."
"Emang apa alasannya?"
"Ingin fokus belajar."
Mark terdiam sejenak, ia harus mencari jawaban langsung dari Lucas.
"Terus siapa penggantinya?"
"Gara."
"Tapi, tim lagi kacau banget sekarang. Nggak tau lah, pusing gue," lanjut Jihan kemudia ia menenggelamkan wajahnya dilipatan tangannya.
Mark pun beranjak, ia ingin mendengar penjelasan langsung dari Lucas.
**
Rasa sakit itu kembali hadir membuat Lucas merintih sakit di balik salah satu bilik toilet sekolah. Lucas memukul dada kirinya dengan keras, mencoba menghilangkan rasa sakit tetapi mustahil, rasa sakit itu tidak mau pergi.
"Tuhan tolong." Dalam rintihannya, ia menggumamkan doa. Setetes air mata jatuh, Lucas ingin berada di dekapan kedua orang tuanya, mengadu bahwa ia kesakitan. Akan tetapi, Lucas tidak ingin membuat bunda menangis. Sudah terlalu sering ia membuat bundanya menangis.
Saat rasa sakit itu sedikit demi sedikit menghilang, Lucas kembali merapikan seragamnya yang berantakan kemudian keluar dari bilik toilet. Ia menatap wajah pucatnya dari cermin sembari mencuci tangannya.
"Ekhem." Deheman itu berhasil mengalihkan atensinya.
"Kenapa Lo dengan gampangnya menyerahkan gelar kapten ke gue?" Ya... Itu suara Gara.
"Gapapa."
"Bulshit."
Lucas menghela nafas pelan, kemudian dirinya menghadap ke Gara dengan malas.
"Itu kan yang Lo mau. Jadi kapten basket."
"Tapi nggak gini caranya. Itu sama saja Lo buat gue menjadi pengganti Lo. Kenapa kalau Lo mau menyerah nggak dari dulu, sebelum seleksi mungkin."
"Bukan urusan Lo."
Gara mencekal lengan Lucas ketika akan beranjak.
"Lo pengecut."
"Gue tau Lo mampu. Dan tim nggak membutuhkan orang pengecut seperti gue."
setelahnya ia menyentakkan tangannya dan berlalu dari sana. Ya... Ia memang mengecut dan Lucas sangat membenci dirinya yang seperti itu.
Gara menatap punggung sempit itu sebelum hilang di balik tembok. Sebenarnya, apa yang di sembunyikan oleh mantan temannya itu? Setahunya, Lucas tidak akan menyerah semudah itu. Tersadar dari lamunannya, pemuda jangkung itu kembali melanjutkan hajatnya.
🌻🌻🌻
Kalian mau sad ending apa happy ending?
KAMU SEDANG MEMBACA
Lu(C)As
FanfictionIni tentang si bungsu, yang hatinya sangat luas dalam menerima garis takdir sang pencipta. Kata orang hidupnya sangat sempurna. mari kita lihat, sesempurna apa hidup si bungsu.
