9🌻

841 76 0
                                        


  ****




Menjadi seorang ibu, apa yang membuatmu bahagia selain kebahagiaan sang anak, pun dengan kesehatannya.
Itulah yang dirasakan Lisa, ibu dari dua anak ini.

Ia lebih menginginkan anaknya sehat ketimbang menjadi juara.
Ia lebih menginginkan sang anak tertawa tanpa beban ketimbang tersenyum sembari menutupi luka.

Akhir-akhir ini Lisa hanya menginginkan bungsunya baik-baik saja. Tidak menutupi rasa sakitnya dengan senyuman, dan mengadu jika sakit.
Bungsunya itu, sangat pandai dalam menyembunyikan luka.

Seperti pagi ini, tiba-tiba bungsunya itu drop padahal semalam masih tertawa bersamanya.

"Ke rumah sakit aja ya dek."

Lagi, Lucas menggeleng. Padahal kondisi anak itu jauh dari kata baik-baik saja. Wajahnya yang pucat, pun dengan nafas yang tak teratur.

"Minum obat aja Bun, nanti sembuh sendiri kok," ucap Lucas terlampau lirih. Tata dan Lisa saling tatap dan keduanya menghela nafas pelan.

"Yaudah, tapi hari ini jangan sekolah dulu ya." Kali ini, ucapan Lisa mendapatkan anggukan oleh Lucas.

Sementara ayah tengah menyiapkan obatnya, bunda pun turun kebawah membuatkan bubur untuknya.

"Maaf ya yah, adek ngerepotin lagi," ucapan Lucas berhasil menghentikan aktivitas Tata sejenak. Kemudian, Tata mendekatinya dan mengelus surainya pelan.

"Ayah nggak suka adek ngomong kayak gitu loh. Adek sama sekali nggak ngerepotin ayah sama bunda. Jangan bilang kayak gitu lagi ya dek, ayah nggak suka."

"Maaf yah." Lucas menunduk dan dengan cepat Tata menangkap pipi Lucas.

"Ayah maafin, senyum dulu dong." Lucas pun tersenyum tipis dengan bibir keringnya yang pucat itu.

"Ayah jemput kakak jam berapa?"

Hari ini memang hari kepulangan Juno setelah satu bulan menjalani program pertukaran pelajar di Jepang.

"Sekitar jam sembilan."

"Mau ikut boleh?"

"Adek istirahat saja di rumah ya."

"Yaudah deh."



**

Remaja tujuh belas tahun itu tampak tersenyum lebar sembari menghela nafas panjang. Akhirnya ia bisa menghirup udara di tanah kelahirannya setelah satu bulan lamanya.

Sembari menarik koper lengkap dengan tas punggungnya, pemuda tinggi itu celingukan, mencari ayah yang menjemputnya.

Ia merogoh ponselnya dan menelepon seseorang.
"Hallo Mark."

"Kenapa kak?"

"Hari ini tim Lucas tanding kan? Dimana?"

"Lho, Lo nggak tau kalau Lucas udah keluar dari tim?"

"Maksud Lo?"

"Lucas mengundurkan diri jadi kapten dan keluar dari tim basket."

"Kenapa? Ada masalah sama coach?"

"Nggak tau kak. Gue tanya juga orangnya diem aja."

"Yaudah makasih infonya ya Mark."

"Sama-sama kak."

Telepon pun terputus bebarengan dengan ayah yang melambai ke arahnya.
Lalu, Juno berlari ke arah ayah dan memeluknya guna melepas rindu.

"Wih... Anak ayah keren banget sih."

Lu(C)AsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang