**
Juno memutar bola matanya malas, melihat drama keluarga antara bunda dan Lucas. Anak itu tampak merajuk karena tidak diijinkan sekolah karena masih demam. Sudah rapi dengan seragam basketnya, duduk di pantry sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Pokoknya adek mau sekolah, titik."
"Bunda nggak ijinin loh dek."
"Bunda... Hari ini itu ada pertandingan penting Bun. Seleksi captain basket. Hari ini penentuannya bun."
"Iya bunda tau, tapi adek masih demam kan."
"Ini cuma hangat doang kok Bun, nanti juga sembuh. Adek juga nggak pusing kok Bun."
Bunda menghela napas pelan, ia lupa akan sifat keras kepala sang anak. Bunda mematika kompor dan berjalan mendekati Lucas.
"Coba lihat memar kamu!"
Bunda menyingkap baju basket itu dan dilihatnya memar yang masih biru.
"Ini masih sakit?" Bunda menekan area memar membuat Lucas menahan ringisannya agar mendapatkan ijin.
"Nggak kok Bun," ucapnya pelan. Juno yang semula duduk di meja makan pun berlajan mendekat tatkala melihat memar menyakitkan di tubuh sang adik.
"Itu kenapa?" Tanyanya.
"Jatuh kemarin pas latihan tapi sekarang sudah nggak sakit kok."
"Yaudah bunda ijinin. Tapi kalau udah capek dan merasa nggak kuat adek harus istirahat, nggak boleh di paksain."
"Baik bunda. Terimakasih." Lucas memeluk bunda dengan senyum lebarnya.
"Sudah sana sarapan dulu. Kak, nanti bunda kesekolah kamu sekitar jam sepuluhan ya."
"Iya bun, nanti bareng aja. Kakak sudah ijin nggak masuk pkl kok," ucap Juno yang di balas anggukan oleh bunda.
**
Lucas menatap pin yang tersemat di baju basket yang di pakainya. Hari ini ia resmi menjadi kapten basket di sekolahnya setelah berhasil mengalahkan Gara dengan skor selisih sepuluh.
Lucas bahagia bisa mewujudkan mimpinya tapi ia juga takut, takut tidak bisa membimbing rekan setimnya sebagaimana tugas captain.
Ia memang mantan captain basket di SMP-nya dulu, dan itu cukup sulit. Tetapi ia menikmati, bagaimana kemampuannya berproses semasa itu.
Sekarang mimpinya adalah membawa teman setimnya untuk masuk ke tim nasional. Menjadi bintang lapangan yang di kenal oleh semua orang.
"Selamat ya Cas. Lo hebat." Lucas tersadar dari lamunannya tatkala mendengar suara Mark yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.
"Thanks Mark."
Mark itu sahabat Lucas sejak kecil. Mereka tinggal di kompleks yang sama dan satu SD. Mark juga sering main kerumah untuk merakit robot bersama Juno. Punya dua adik kembar yang selisih satu tahun dengannya, namanya Jae dan Joy.
"Lo videoin kan tadi?"
"Iya sampai pegel nih tangan gue."
"Yes... Sepatu Jordan i am coming."
"Pokoknya free Boba seminggu."
"Gampang itu mah."
"Gue denger-denger kak Juno mau ke Jepang?"
Lucas menghela napas pelan. Tatapan matanya menjadi sendu kala memikirkan jika ia akan terpisah dengan Juno.
"Iya, program pertukaran pelajar. Gue bangga banget punya kakak yang pintarnya over kayak Juno."
"Yah... Gue nggak bisa rakit robot lagi sama dia."
"Santai Mark, cuma sebulan."
"Emang kapan berangkatnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Lu(C)As
Fiksyen PeminatIni tentang si bungsu, yang hatinya sangat luas dalam menerima garis takdir sang pencipta. Kata orang hidupnya sangat sempurna. mari kita lihat, sesempurna apa hidup si bungsu.
