10🌻

869 75 0
                                        




***

Juno terbangun dari tidur siangnya. Ia ketiduran setelah kelelahan menangis. Ia berharap ucapan ayah tadi hanya mimpi. Tapi, ketika ia membuka mata dan menemukan sang adik tengah tertidur di sampingnya dengan wajah pucatnya, Juno sadar, itu bukan mimpi. Adiknya tengah sakit.

Juno memeluk sang adik dan kembali menyelami alam mimpi. Lucas pun semakin menenggelamkan wajahnya pada dada sang kakak. Membuat detak jantung Juno menjadi lagu pengantar tidurnya.

"Kak," ucapnya lirih.

"Tidur lagi dek, kakak masih ngantuk." Setelahnya, mereka benar-benar kembali tertidur sampai akhirnya bunda datang dan membangunkan mereka berdua. Rencananya, keluarga Cemara ini akan makan malam di luar dalam rangka merayakan kepulangan si sulung.

"Kak, dek, ayo bangun! Siap-siap gih." Bunda menggoyangkan pundak Juno dan tidak butuh waktu lama, Juno langsung terbangun dan merenggangkan ototnya.

"Kakak cuci muka dulu Bun," ucap Juno yang mendapat anggukan dari bunda.

"Dek, mau ikut makan diluar nggak?"

"Hoam... Mau... Tapi adek ngantuk," ucap Lucas masih dengan mata tertutup.

"Cuci muka nanti hilang ngantuknya."

"Hmmm, iya iya bun." Lucas terduduk sebentar, dengan masih mata terpejam. Bunda terkekeh melihatnya.

"Anak bunda gemesin banget sih," ucap bunda sembari mengelus surai Lucas.

"Udah sana gih. Kakak sudah selesai tuh!"

Lucas mengangguk malas kemudian ia benar-benar beranjak dari ranjang empuk itu.




**

Saat ini, ayah, bunda, Juno, Lucas, dan juga Kian, tengah menikmati hidangan restoran Eropa. Lucas dengan nikmat menikmati spaghetti yang disuapi bunda. Dan yang lainnya sibuk memakan steak.

Sebenarnya, Lucas juga ingin memakan steak. Tetapi sekarang, apapun itu yang berbentuk daging adalah pantangan tersendiri untuk tubuh Lucas. Dan Lucas harus menerimanya dengan hati yang luas.

"Bun, besok adek boleh sekolah kan?"

Bunda tersenyum sebelum menjawabnya.
"Boleh dong, adek kan sudah sehat."

"Makasih bunda."

"Sama-sama sayang."

"Kakak juga, besok sekolah nggak?" Tanya ayah sembari menatap sulungnya.

"Sekolah yah, mau tes kenaikan kelas duluan habis itu libur sampai masuk kelas tiga."

"Enak banget sih." Lucas memanyunkan bibirnya, iri kepada kakaknya karena libur yang begitu panjang.

"Kenapa nggak akselerasi aja," celetuk Kian yang telah selesai memakan steaknya.

"Emang boleh yah, Bun?" Juno menatap ayah dan bunda secara bergantian.

"Kalau kakak mampu dan ingin, bunda selalu support kok kak," jawab bunda yang mendapat anggukan dari sang ayah.

"Tapi, kalau kakak merasa nggak mampu, jangan di paksain ya."

"Sebenarnya kakak ingin sih, tapi nanti kakak coba konsultasi sama sekolah."

"Wih, kakak gue keren banget sih." Lucas mengangkat kedua jempolnya yang mendapat kekehan gemas dari mereka.

Lucas menatap steak bunda yang tinggal setengah itu sembari menelan salivanya. Bohong kalau ia tidak ingin memakannya. Ia menatap bunda yang sibuk berbincang dengan Kian dan ayah, juga Juno yang sibuk bermain ponsel. Kemudian ia memegang garpu untuk mengambil daging sapi itu dan melahapnya dengan sekali suap. Ia memalingkan wajahnya sembari mengunyah. Menikmati steak yang mungkin hanya bisa ia makan saat ini saja.

Lu(C)AsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang