***
Sebenarnya Juno tidak ingin mengatakan kata-kata yang menyakiti hati adiknya. Ia hanya takut, setiap detiknya, Juno hanya takut jika harus kehilangan adiknya.
Saat berpapasan dengan Lucas di depan kamarnya tadi, sejujurnya ia ingin memeluk tubuh rapuh itu. Juno ingin memberikan afeksi besar kepada adiknya. Juno tidak ingin kejadian waktu kecil terulang kembali. Saat ia membenci adiknya dengan alasan iri dengan kasih sayang yang diberikan orang tuanya. Juno tidak ingin mengulang kembali dan membiarkan adiknya kesakitan sendiri.
Juno mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Juno melihat ada sebuah truk yang melaju dengan kencang. Juno tersenyum tipis, kemudian dengan sengaja ia menambahkan dirinya. Tubuh Juno terguling beberapa meter. Dalam kesakitannya, Juno menggumamkan harapan besar untuk adiknya.
"Tuhan, tolong biarkan aku mati dan berikan jantungku untuk adikku." Setelahnya kegelapan menjemputnya diiringi dengan teriakan para warga pun dengan sirine ambulan.
***
Lucas terbangun dari tidurnya, dilihatnya jam menunjukkan pukul satu siang. Lucas mendudukkan dirinya, menoleh kesamping kala ada afeksi lain di sampingnya dan ternyata samchon menemaninya tidur.
Lucas melenguh sakit sembari memijat dadanya yang nyeri. Ia melihat gelas kosong di nakas samping ranjangnya. Kemudian ia beranjak dari sana.
Lucas memasuki dapur. Dilihatnya Tante Airin yang tengah membuat adonan kue.
"Siang Tante," siapanya dengan senyum lebarnya.
"Lucas sudah bangun?"
Lucas mengangguk sebagai jawaban.
"Hari ini tim basket Derry tanding,kan? Tante nggak nonton?"
"Setelah ini Tante mau berangkat. Masih ada satu jam ini."
"Salam buat Derry dan teman-teman ya Tante."
"Lucas mau makan siang?"
"Nggak, ini Lucas mau ambil minum soalnya haus. Oiya... Tante dapat kabar dari bunda nggak? Keadaan kakak gimana?"
"Kakak kamu baik-baik saja. Lagi tidur di rumah sakit soalnya kata dokter akhir-akhir ini Juno sering nggak tidur."
"Makasih ya Tante informasinya." Setelahnya Lucas beranjak dari dapur setelah menuangkan air ke gelasnya tadi.
Lucas mendudukkan dirinya di ruang keluarga. Ia kembali mencengkram dadanya yang terasa sakit. Ia menggeram sakit, kali ini, sakitnya bertambah berkali lipat sampai ia menitikan air matanya.
"Lucas." Mendengar suara pamannya, Lucas merubah mimik wajahnya.
"Samchon, tolong telepon ayah dong. Mau tau keadaan kakak." Kian mengangguk. Ia mendudukkan dirinya di samping Lucas sembari menghubungi kakaknya.
"Kenapa Ki?"
"Lucas mau ngomong." Kemudian, mereka beralih ke panggilan video. Lucas tersenyum cerah, menatap ayah yang nampak lelah.
"Ayah, kakak bagaimana?"
"Kakak kamu baik-baik saja. Beberapa jahitan di dahi, kakak kamu lagi tidur sama bunda." Ayah mengalihkan kameranya ke arah Juno yang tengah memejamkan mata dengan dahi yang di perban pun beberapa lecet di area tangan, juga dengan tangan yang terinfus. Di sampingnya, ada bunda yang tengah tertidur. Lucas tersenyum tipis.
"Ayah, kapan pulang?"
"Nanti kalau kakak kamu sudah bangun."
Lucas mengangguk mengerti.
"Lucas sayang banget sama ayah, sama bunda, sama kakak. Tolong sampaikan ke kakak ya yah, kalau adek sayang kakak melebihi apapun."
Ayah nengernyitkan dahinya bingung. Perasaannya menjadi tak enak setelah mendengar perkataan Lucas yang terkesan berpamitan.
"Adek bisa sampaikan nanti kalau kita pulang."
"Ayah... Adek tutup teleponnya ya. I love you ayah." Lucas menutup telepon secara sepihak setelah rasa sakit itu tidak bisa di tahannya lagi. Lucas menggeram, mencengkram dadanya dengan kuat.
"Lucas, kenapa?" Kian menahan tangan Lucas. Lucas menatap pamannya itu dengan air mata yang mengalir.
"Sakit," lirihnya.
"Kita ke rumah sakit ya." Lucas menggeleng. Belum genap sehari ia pulang dari rumah sakit setelah berminggu-minggu dirawat di sana.
"Jangan, samchon." Lucas berusaha menahan sakitnya lagi.
"Samchon nggak bisa obati Lucas, ke rumah sakit saja ya!"
Lagi, Lucas menggeleng. Ia memeluk samchon dengan wajah pucatnya.
"Samchon, ini rasanya hangat, seperti pelukan ayah. Lucas suka di peluk. Bunda juga sering peluk adek."
Kian menitikan air matanya. Ia mendekap keponakan mungilnya dengan hati-hati.
"Kalau begitu, samchon akan sering peluk Lucas."
"Samchon, setiap kali adek rindu dengan haraboji adek selalu lihat bintang, bintang yang paling terang. Nanti, samchon bisa lihat bintang kalau rindu Lucas."
"Kenapa Lucas bicara seperti itu? Samchon bisa langsung peluk Lucas kayak gini."
Lucas tersenyum. Ia menghapus air mata pamannya kemudian kembali memeluknya.
"Tolong sampaikan ke kakak juga ya, kalau rindu, harus lihat bintang, nanti adek datang." Nafas Lucas mulai tak beraturan tapi ia masih memeluk pamannya dengan erat.
"Tolong ikhlasin adek ya. Adek mau sembuh samchon."
Dalam tangisnya, Kian mengangguk, ia mengelus surai Lucas dengan bergetar.
"Samchon ikhlas. Lucas bisa pergi dengan tenang, Lucas bisa menggapai kebahagiaan Lucas bersama tuhan." Lucas tersenyum sembari memejamkan matanya untuk selamanya.
Kian memekik, ia menangis histeris sampai membuat Tante Airin dan pak Mamat mendatanginya.
"Kian apa yang terjadi?" Airin bersimpuh di depan Lucas yang nampak memejamkan mata.
"Lucas Tante, Lucas nggak mau bangun, hiks.." Kian mendekap tubuh tak bernyawa itu. Tante Airin mengambil alih tubuh Lucas, meriksa nadinya yang sudah berhenti berdetak. Sementara Pak Mamat menghubungi ambulance.
**
Derry mendesah kecewa, menatap ponselnya yang tidak mendapat balasan dari ibunya. Ibunya kembali mengingkari janji untuk datang mensupport timnya secara langsung.
"Der, di panggil coach suruh kumpul." Suara Dejun berhasil menyadarkan dirinya dari lamunan. Ia menaruh ponselnya di tas disimpannya di dalam loker khusus. Berjalan mengikuti teman-temannya menuju coach.
"Sebelum tanding, coach ada kabar duka dari teman kalian. Semoga, kabar ini tidak mengganggu performa kalian."
"Kabar duka? Maksud coach?"
Jackson menghela nafas pelan sebelum menjawab.
"Hari ini, tepat jam satu lebih lima belas menit, Lucas teman kalian meninggal karena penyakitnya. Kita doakan semoga Lucas tenang di pangkuan tuhan."
"Coach, jangan bercanda." Gara meninggikan suaranya, sementara anggota timnya tampak kebingungan dengan berita yang mendadak ini.
"Kita dedikasikan pertandingan kita ini untuk Lucas. Ia rela melepas mimpinya karena sakit."
"Katakan itu semua nggak benar coach," ucap Dejun. Karena ia teman sekelas Lucas, ia tahu temannya itu tidak masuk sekolah selama dua Minggu, tapi dengan izin liburan.
"Berita seperti ini, tidak pantas untuk di bercandakan. Jadi, saya mohon, sebagai coach kalian, tolong menangkan pertandingan ini untuk Lucas." Setelahnya, Jackson beranjak dari sana.
Derry terdiam, menatap kosong ke bawah, dimana kakinya di balut dengan sepatu pemberian Lucas. Sementara teman-temannya yang lain tampak sudah menangis.
"Gue janji, gue janji akan sukses. Akan wujudin impian Lo Cas. Semoga, Lo tenang disisi tuhan." Sekarang, ia mengerti, kenapa ibunya tidak datang. Kenapa Lucas berucap seperti itu waktu terakhir kali ia bercengkrama dengan Lucas.
"Di dunia ini, tidak ada yang sempurna Der, Lo harus selalu ingat itu."
Ayo, mau sad apa happy??
Btw setelah ini kayaknya bakal jarang up🥺 tinggal ending sama epilognya aja sih, hehehe😆
Terus, happy new year yeorobun 🥰🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
Lu(C)As
Fiksi PenggemarIni tentang si bungsu, yang hatinya sangat luas dalam menerima garis takdir sang pencipta. Kata orang hidupnya sangat sempurna. mari kita lihat, sesempurna apa hidup si bungsu.
