12🌻

770 69 2
                                        


***

Rembulan bersinar dengan redup kala awan hitam berusaha menghalangi sinarnya. Bintang pun enggan memunculkan wujudnya. Tangisan langit berjatuhan sampai ke bumi. Mengiringi deru motor Juno yang telah terparkir di garasi rumahnya.
Juno melepaskan jas hujannya, pun dengan Lucas. Mereka berdua harus siap terkena omelan karena pulang sangat telat. Mereka memasuki rumah lewat pintu garasi. Dilihatnya sang bunda yang tengah menangis di ruang tamu pun dengan ayah yang sedang menelpon seseorang.

  "Bunda," ucap Lucas sembari berlari menghampiri bundanya. Sementara ayah nampak menatap keduanya dengan tajam.

"Lucas, Juno, duduk!" Ayah berucap dengan datar dan itu berhasil membuat keduanya menggigil takut.

"Dari mana saja?"

Keduanya tampak menyenggol satu sama lain. Tidak berani menjawab dan itu malah terlihat lucu di depan Kedua orang tuanya. Tetapi sebisa mungkin ayah mempertahankan raut marahnya.

"Jawab yang bener!"

"Dari pantai yah. Maaf nggak izin dulu karena baterai lowbat," ucap Juno menjelaskan.

"Ponselmu, juga lowbat?" Ayah menatap Lucas dan diangguki oleh Lucas.

"Jawab yang benar."

"Iya ayah. Ponsel adek juga lowbat."

Ayah nampak menghela nafas pelan, memikirkan hukuman apa yang cocok untuk kedua anaknya. Sementara bunda sudah berpindah memeluk keduanya.

"Lain kali izin dulu ya. Bunda khawatir banget takut terjadi apa-apa sama kalian," ucap bunda dengan lembutnya.

"Maafin kami ya Bun. Nggak akan di ulangi lagi kok," ucap Juno.

"Iya bun," lanjut Lucas.

"Kak, mana kunci motornya. Untuk seminggu kedepan kakak di larang bawa motor kemanapun. Dan untuk adek."

"Cuci mobil yah? Adek sukaaa," pekik Lucas yang memotong ucapan sang ayah.

"Nggak. Kamu mulai sekarang tidak boleh mengikuti pelajaran olahraga."

"Ih kok gitu. Nanti teman-teman curiga." Lucas memanyunkan bibirnya.

"Ini bukan tawaran tapi perintah."

Lucas mendengus sebal.
"Iya iya.."

"Jadi, selama ini teman-teman Lo nggak tau kalau Lo sakit?" Lucas mengangguk.

"Yaudah sana, kalian bersih-bersih! Habis itu, turun kita makan malam bareng."

"Iya bunda," balas keduanya seperempak.

**

Setelah makan malam, Lucas kembali ke kamarnya. Kebiasaannya untuk menatap angkasa malam yang kali ini terasa sepi dan hitam. Tidak ada bulan ataupun bintang yang senantiasa menemani sang angkasa malam. Mereka seakan enggan untuk memberi cahaya untuk malam yang gelap.

"Langit sepi sekali, bintang dan bulan ninggalin kamu apa mereka di tutupi oleh kabut supaya kamu terlihat sangat kesepian?" Lucas berbicara sendiri.

"Langit, aku masuk dulu ya. Soalnya dingin, hehehe.." Lucas menggosokkan Kedua tangannya kala hawa dingin semakin menguasai tubuhnya.
Ia memasuki kamarnya, terduduk di tepi kasur sembari menatap jejeran piala hasil jerih payahnya. Pun ia menatap koleksi sepatu basket yang entah kapan lagi ia bisa memakainya dipertandingan.

Atensinya teralih, menatap dengan lekat kotak sepatu yang belum pernah ia sentuh. Ia adalah sepatu Jordan impiannya yang di belikan sang ayah sebagai hadiah keberhasilannya sebagai kapten basket. Lucas belum sempat memakainya karena penyakit sialannya.

Lu(C)AsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang