13

219 9 0
                                        

Krisan sadar ia bagai pesakitan yang menyedihkan. Hari ini kakaknya pamit untuk kembali ke Indonesia karena urusan pekerjaan.

"Are you okay, sweet heart?" Tanya Ester, tantenya Krisan.

"I'm not sure." Krisan menyandarkan kepalanya di pundak tantenya.

"Why?" Ester mengusap lengan Krisan.

"Tante pernah suka sama seseorang tapi gak bisa memiliki?" Krisan mendongak.

"Hmmm. Tentu pernah. Kamu lagi patah hati?" Tanya Ester. Krisan mengangguk.

"Don't worry darling. Everything Will be okay." Ester tersenyum.

Sejak kepergian ibundanya, Ester adalah tempat berkeluh kesah. Sayangnya tantenya tersebut tinggal di Bern Swiss.

Malam sudah tiba. Makan malam pun sudah selesai. Seseorang menekan bel dan suami Ester pun membuka pintu.

"Krisan, someone is looking for you." Suami tante Ester mengetuk pintu.

"Oh?" Krisan membuka pintu kamarnya.

"Thank you, Uncle." Krisan tersenyum.

"Okay." Pete kembali ke ruang keluarga.

"Siapa yang datang, Krisan?" Tanya Ester.

"Aku juga nggak tahu." Krisan menggeleng pelan.

Gadis cantik itu berdiri mematung ketika ia melihat pria tampan dengan jaket tebal dan tas di pundaknya.

" I miss you!" Pria itu meraih Krisan ke dalam pelukannya.

"Al..." Krisan memeluk pria itu erat, erat sekali.

"That's person. Am i right?" Ester terkekeh.

Krisan mengangguk.

Alpha tersenyum.

"Ya sudah kalian mengobrol lah ya. Tante oke aja kalo kalian mau tidur di kamar yang sama. Aku bisa jaga rahasia kok. Ester terkekeh. Tapi ingat, jaga batasan, okay?" Ester mengusap puncak kepala Krisan.

"Thank you, Pete and Ester." Ujar Alpha.

Pete mengangguk lalu menggandeng istrinya masuk ke kamar.

"Kangen gue gak?" Tanya Alpha.

"Nggak," Dusta Krisan. Alpha terkekeh lalu meraih Krisan kembali ke dalam pelukannya.

"Emang mau sama calon duda?" Tanya Alpha.

"Hah?"

Lalu Alpha bercerita tentang semuanya. Ia bercerita sambil memeluk Krisan gadis yang ia rindukan.

Krisan mendongak.

"Boleh cium gak?" Tanya gadis itu. Al terkekeh. Lalu ia menunduk dan menempelkan bibirnya pada bibir Krisan.

"Kangen, Al!!" Krisan semakin memeluk Alpha.

***

Alpha dan Krisan tidur di kamar yang sama yaitu di kamar Krisan. Jauh bagi Alpha untuk berfikiran memanfaatkan keadaan sekarang. Ia hanya ingin tidur dan memeluk Krisan.

Gadis itu keluar dari kamar mandi. Alpha mengernyitkan keningnya ketika ia melihat Krisan mengenakan kaos oblong miliknya yang ia bawa dari Jakarta dan celana panjang piyama milik Krisan sendiri.

"Baju gue?" Tanya Al. Krisan terkekeh lalu melompat ke pangkuan Al.

"Nanti gue khilaf lho." Alpha mengusap punggung Krisan.

"Mau di bunuh ayah?" Krisan terkekeh.

Alpha yang juga sudah berganti pakaian membiarkan Krisan menempeli dirinya. Gadis itu betul-betul tak mau melepaskan Alpha. Ia memeluk Alpha. Melingkar kan tangannya di perut Alpha.

"Mau nunggu gue?" Tanya Alpha. Krisan mendongak.

"Mau." Ia tersenyum penuh arti.

"Ampun Tuhan!!!" Alpha memekik.

"Kenapa Al?" Tanya Krisan.

"Iman gue gak sekuat itu Krisan!" Alpha menyambar bibir Krisan dan melumatnya pelan. Degub jantunganya makin tak beraturan. Bayangkan saja, setelah dua tahun ia tak menyentuh wanita manapun, kini di pelukannya ada seorang gadis yang masih polos tengah memeluknya.

Krisan mengalungkan tangannya di leher Alpha. Sesekali Alpha mengusap punggung Krisan dan menahan tangannya supaya tak kemana-mana.

Krisan tak mengerti kenapa Alpha langsung tiduran telungkup.

"Kenapa sih, Al?" Tanya Krisan.

"Hmmmm..." Gumam Alpha.

"Al? Lo kenapa?" Tanya Krisan.

"Ck, udah diem dulu, Krisan!" Alpha sewot.

Ia menahan supaya junior nya bisa di ajak kerja sama untuk tak keluar dari sarangnya.

ImaginationTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang