[1] M é m o i r e

252 16 0
                                        

Zenita berdiam diri di ruang kerjanya. Hari ini ia memutuskan untuk bekerja dari rumah, karena akhir-akhir ini ia merasa perutnya bermasalah. Ia tidak kaget dengan hal ini karena Zenita memang langganan asam lambung.

Ia memandangi ruang kerjanya yang sangat aesthetic. Zenita memang penggemar segala hal berbau estetik. Menurutnya jika ruang tempatnya bekerja tertata dengan baik maka terciptalah percikan energi positif yang memicunya untuk semangat bekerja.

 Menurutnya jika ruang tempatnya bekerja tertata dengan baik maka terciptalah percikan energi positif yang memicunya untuk semangat bekerja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Pic from kreamynotes's IG]

"Asam lambung kamu kumat lagi, dear?"

Zenita menoleh. "Iya, dear. Tadinya mau ke kantor tapi nggak jadi. Oh iya, kamu udah makan siang belum? Aku masakin makanan kesukaan kamu ya?"

Julian menahan Zenita yang hendak berdiri dari kursinya.

"Aku udah makan siang bareng klien tadi. Kamu nggak usah repot-repot. Kamu istirahat aja, soal kerjaan bisa dikerjain nanti. Oh iya, tadi kamu jemput Jeno pulang sekolah? Gimana sekolah dia?"

"Everything is fine. Jeno is a smart boy, seperti papanya. Tadi gurunya cerita, dia dapat nilai tertinggi di ulangan IPA. Kamu sih, nggak pernah luangkan waktu untuk antar atau jemput dia ke sekolah, kasihan dia pasti kangen main sama papanya," protes Zenita.

"Kan kamu ada. Lagian aku selalu sibuk, dear. Nggak ada waktu untuk main sama Jeno. Kamu juga tahu, sebentar lagi perusahaan mau launching produk sunscreen terbaru. Lagian semua kebutuhan dia terpenuhi, apapun yang dia mau aku turuti."

"Iya, aku tahu. Dear, apa nggak sebaiknya kita pertemukan Jeno dengan mamanya? Kita juga bisa menitipkan Jeno barang sehari. Kasian dia, keluarganya sibuk semua."

Zenita melanjutkan pembicaraan, "Neneknya yang seorang direktur utama super sibuk, kamu super sibuk, pekerjaanku sebagai translator di penerbit Global Books juga cukup menyita waktu. Boleh ya, Jeno ketemu mamanya?"

"Nggak! Kamu kan tahu, aku nggak akan pernah ijinkan Jeno bertemu ibunya. Biarkan Serenity menyesal karena sudah menggugat cerai aku. Aku tak kan biarkan dia bertemu Jeno! Kamu paham? Kalau kamu memang tidak mau mengurus Jeno bilang!" Julian lalu keluar dengan membanting pintu kamar.

Dada Zenita terasa sesak mendengar bentakan Julian. Bulir-bulir air mata tidak mampu ia bendung lagi. Zenita menangis dalam diam.

Diam-diam, Jeno putra sambungnya menyaksikan itu semua. Anak berusia 9 tahun itu berlari dan memeluk Zenita dari belakang. Zenita berbalik dan membalas pelukannya.

"Maafin Bunda ya, Nak. Bunda masih belum bisa mempertemukan Jeno dengan Mama."

Sambil menangis sesenggukan, Jeno menatap mata bundanya.

"Jeno tadi malam sholat, minta sama Allah biar Jeno bisa ketemu Mama. Jeno kangen Mama, Bun," tangisnya.

Zenita memeluk Jeno. Ia mendekap putra sambungnya, membiarkan ia menangis sampai hatinya lega.

Estetika RasaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang