Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Albertus terjaga di dalam kereta yang melaju cepat, menembus jalan-jalan sempit Batavia. Perasaannya kacau. Ia tahu bahwa malam ini adalah malam yang akan menentukan hidupnya, dan bahkan hidup Laras. Namun, meski ia berusaha untuk tetap tenang, bayangan Isabel yang selalu mengawasi semakin menghantuinya.
"Ke mana kita sebenarnya akan pergi?" tanya Albertus, suaranya terdengar lebih tegas dari yang ia rasakan.
Lelaki bertopi yang duduk di sampingnya tetap fokus pada jalan, namun suaranya sedikit berubah. "Tempat ini tidak akan aman untuk kita jika Isabel sudah tahu kita melarikan diri. Kami harus menyembunyikanmu di tempat yang lebih aman, tempat yang hanya sedikit orang tahu."
Albertus menatap lelaki bertopi itu. "Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau menolongku?"
Lelaki itu hanya tersenyum samar. "Seseorang yang memiliki banyak informasi yang tidak ingin dibagikan Isabel."
Tiba-tiba, kereta itu berhenti dengan kencang. Albertus terhuyung sejenak, dan pria bertopi itu segera turun, menatap ke sekitar dengan cermat. "Kita sudah sampai. Waktunya menyembunyikanmu."
Albertus mengikuti lelaki itu dengan cepat. Dalam sekejap, mereka memasuki sebuah bangunan yang tersembunyi di balik tembok tinggi dan rapat, jauh dari pandangan orang. Begitu masuk, Albertus disambut oleh beberapa orang yang tampak tak asing. Mereka mengenakan pakaian lusuh dan membawa senjata, tampaknya mereka adalah bagian dari jaringan yang lebih besar.
"Siapa mereka?" tanya Albertus.
Lelaki bertopi itu menatap Albertus dengan serius. "Mereka adalah bagian dari kelompok yang lama terlupakan, tapi penting. Jika kita ingin bertahan, kita harus bergabung dengan mereka."
Albertus merasa ragu, tetapi ia tahu tidak ada pilihan lain. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Jaga diri dan rahasiakan segala informasi yang kau tahu," jawab lelaki bertopi itu, mengarahkannya ke sebuah ruangan tersembunyi yang lebih jauh di dalam bangunan itu.
****
Sementara itu, di rumah besar Isabel, suasana semakin mencekam. Isabel berdiri di depan meja kerjanya, menatap surat yang baru saja ia tulis. Surat itu adalah pesan tersembunyi yang akan mengarah pada kehancuran Albertus dan Laras.
"Sudah waktunya," bisiknya pelan, saat ia menyimpan surat itu di dalam amplop merah, simbol dari kedekatannya dengan kekuatan gelap Batavia.
Namun, sebelum ia sempat memanggil pelayan untuk mengantarkan surat itu, pintu ruangan terbuka dengan suara keras, dan seorang pelayan masuk, terlihat cemas.
"Nona Isabel, ada kabar buruk," katanya, berusaha menenangkan dirinya.
Isabel menatapnya dengan dingin. "Apa yang terjadi?"
" Tuan Albertus... dia melarikan diri, Nona. Kami tidak dapat menemukannya di mana pun."
Isabel terdiam sejenak, matanya menyipit. "Bagaimana bisa? Tidak ada yang bisa lolos dari mata-mata kita."