Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah besar keluarga De Groot dihiasi aroma harum dari dapur, dan percakapan yang hangat di meja makan. Albertus dan Isabel duduk berdampingan, sementara Hannah dan Anthony menyambut pagi dengan wajah segar.
“Kapan kalian akan pergi ke Bandoeng?” tanya Hannah sambil menuangkan teh.
“Besok pagi, Mama,” jawab Albertus. “Kami akan memeriksa perkembangan pabrik dan… mungkin tinggal beberapa hari di sana.”
Anthony mengangguk puas. “Bagus. Itu penting. Kita butuh laporan perkembangan langsung.”
Hannah tersenyum pada Isabel. “Jagalah suamimu baik-baik, sayang.”
Isabel mengangguk sambil membalas senyum itu. Namun suasana tiba-tiba berubah saat Anthony mengangkat satu alis.
“Dan... kapan kami bisa menimang cucu, hmm? Kenapa tidak sekalian berbulan madu? Kalian bisa tinggal lebih lama di Bandoeng.” katanya bercanda.
Isabel tertawa pelan, tapi wajahnya memerah. Albertus hanya tersenyum tipis. “Kami sedang membicarakannya, Papa.”
Hannah bertepuk tangan pelan. “Ach, goed nieuws! (Ah, kabar baik!)”
Eliza menatap sang kakak dengan hati-hati. Ia tahu, belum lama ini Albertus berdiri di persimpangan hati yang remuk. Tapi hari ini… ada sesuatu yang berbeda. Mungkin bukan cinta, tapi sebuah keputusan untuk mencoba.
****
Hari keberangkatan ke Bandoeng disambut hujan rintik-rintik. Isabel mengenakan mantel wol biru tua, sementara Albertus memakai setelan abu-abu yang rapi. Mereka naik kereta malam menuju dataran tinggi, meninggalkan Batavia dan segala luka yang menempel di dinding-dinding rumah tua itu.
Perjalanan mereka sunyi. Tapi bukan sunyi yang asing. Sunyi yang seperti… pelan-pelan mulai bisa diterima. Albertus sesekali menatap jendela, melihat pepohonan yang berlari di balik kabut.
Isabel membuka map laporan.
“Laporan keuangan dari pabrik gula bulan lalu,” katanya, menyodorkan map itu pada sang suami.
Albertus mengangguk, lalu membaca. “Kau menyoroti pengeluaran pada bagian distribusi?”
Isabel mengangguk. “Ada selisih yang tak masuk akal. Kita harus pastikan tak ada korupsi. Kalau ada, kita bisa sangat merugi.”
Albertus mengangguk pelan. “Aku suka kecermatanmu.”
Isabel tersenyum. “Terima kasih. Aku hanya ingin menjadi istri yang berguna, meskipun bukan istri yang kau cinta.”
Albertus tak menjawab, namun senyumnya tidak menghilang. Setidaknya malam itu, ia memandang istrinya bukan sebagai musuh, tapi sebagai sekutu.
**** S
esampainya di Bandoeng, udara dingin menyambut mereka. Pabrik besar yang dulu hanya berupa tanah lapang kini telah berdiri gagah. Mereka disambut pengelola pabrik, lalu berkeliling. Isabel mencatat semua hal yang ia temui. Tenaga kerja, stok bahan baku, sistem distribusi. Ia mencium aroma ketidakberesan dan langsung menyusun strategi perbaikan.