Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, udara Batavia berembun. Matahari belum tinggi, tapi hiruk-pikuk sudah mengisi sudut-sudut rumah keluarga De Groot. Albertus berdiri di depan kamar Elizabeth. Tangannya mengepal, lalu perlahan mengetuk pelan.
Satu... dua... tiga ketukan yang ragu.
"Eliza, kau ada di dalam?"
"Masuklah, kak," suara Elizabeth terdengar dari dalam, pelan.
Pintu terbuka. Albertus melangkah masuk, dan menatap adiknya yang tengah duduk sambil menyulam benang emas ke bantal kecil. Senyum Elizabeth muncul sebentar, lalu menghilang saat melihat wajah kakaknya yang tak biasa.
"Temani aku," ucap Albertus. Hanya itu.
Elizabeth mengerutkan dahi. "Ke mana?"
"Ke pernikahan Laras."
Gadis itu menelan ludah. Jemarinya yang tadi sibuk menyulam kini berhenti. "Tidak bisa, kak... Aku sudah memutuskan untuk tidak datang ke acara pernikahannya."
Albertus melangkah mendekat, berlutut di hadapan adiknya. "Tolong... aku tak bisa sendirian ke sana. Laras hanya mengundangmu, Eliza."
"Eliza... aku tidak akan mengganggu... aku hanya ingin melihatnya dari jauh. Sekali ini saja. Datanglah ke pernikahannya, Eliza. Berilah ucapan selamat pada Laras. Sebagai seorang mantan majikan. Setelah itu... aku akan menyerah. Biarkan aku mengantarmu ke pesta itu, Eliza."
Wajah Elizabeth penuh keraguan. "Kak, kalau Laras melihatmu... atau suaminya... atau tamu-tamunya..."
Albertus menunduk, menarik napas dalam.
"Aku akan tetap di luar. Aku janji. Hanya di kejauhan. Biarkan aku melihatnya menikah, agar hatiku bisa berhenti berharap."
Sunyi sejenak. Hanya suara burung kecil yang terdengar dari luar jendela.
Akhirnya Elizabeth mengangguk. "Baiklah... tapi hanya sebentar, kak... kau hanya melihat, lalu kita pulang."
Albertus tersenyum, meski pahit.
"Terima kasih, Eliza."
****
Mobil hitam itu berhenti di persimpangan jalan tanah, tak jauh dari rumah tempat pernikahan Laras dan Wibawa dilangsungkan.
Elizabeth turun lebih dulu. Gaun sederhananya mengibar pelan diterpa angin pagi. Gadis itu berjalan sendirian di antara keramaian orang-orang pribumi yang berdatangan dari segala penjuru. Bau dupa, suara sinden, dan tabuhan gamelan terdengar merayap dari kejauhan.
Sementara itu, Albertus tetap di dalam mobil. Ia menurunkan sedikit jendela mobilnya. Dan di sana, di pelataran rumah panggung yang dihias janur dan bunga melati, berdiri perempuan yang dulu mengisi setiap doa dan jiwanya.
Laras.
Begitu anggun dalam kebaya putih yang menyatu lembut dengan warna kulitnya. Rambutnya disanggul rapi, disematkan tusuk konde emas berbentuk bunga kamboja. Tangannya menggandeng seseorang, lelaki pribumi yang mengenakan beskap hitam.