[v] Cinta Sang Adik

112 12 3
                                        

Cahaya matahari pagi menembus tipis-tipis tirai jendela kamar Albertus

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cahaya matahari pagi menembus tipis-tipis tirai jendela kamar Albertus. Udara Batavia masih segar, meski bayang semalam terasa pekat di setiap sudut ruangan. Aroma alkohol masih menggantung samar di udara.

Albertus mengerang pelan saat membuka matanya. Kepalanya berdenyut hebat, seperti ada puluhan tukang palu yang sedang menghantam tempurung kepalanya tanpa henti.

Tangannya meraba pelipis, napasnya berat.

“Aku... mabuk?” gumamnya, samar.

Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Botol-botol berserakan. Suara isabel. Suara Mama. Papa. Eliza. Semua kabur. Tapi satu yang pasti, ia kehilangan kendali. Dan ia mengingat rasa sakit itu, rasa kehilangan, dan nama yang tak henti ia sebut. Laras.

Tok... tok...

Pintu terbuka perlahan.

“Selamat pagi, kakak...” sapa Elizabeth lembut, melangkah masuk dengan baki berisi semangkuk bubur hangat, segelas air, dan obat.

Gadis itu duduk di sisi tempat tidur, dan tanpa berkata banyak, ia mengelus rambut kakaknya dengan penuh kasih.

Albertus menoleh, tersenyum lemah. “Eliza...”

“Kakak bisa membohongi Mama dan Papa,” ucap Elizabeth lirih, jemarinya masih menyisir helai rambut coklat sang kakak.

“Tapi kakak tidak bisa membohongiku.”

Albertus menarik napas, mengangkat tangan dan mengusap wajah adik satu-satunya itu. “Aku tidak apa-apa, Eliza. Jangan khawatirkan aku. Aku hanya mabuk semalam.”

Elizabeth menggeleng perlahan. “Kau bukan seorang pemabuk, Albert. Aku tahu betul siapa dirimu. Bahkan sejak kecil kau tak pernah suka minuman keras.” Ia menatap tajam mata kakaknya. “Apa yang membuatmu minum sebanyak itu? Hingga belasan botol?”

Albertus terkekeh pahit, lebih seperti tertawa menyembunyikan luka. “Aku hanya pusing dengan sesuatu. Aku perlu melampiaskan diriku.”

Elizabeth menggenggam sendok, mengaduk pelan bubur hangat dalam mangkuk putih di tangannya. Uapnya mengepul pelan di udara pagi.

“Kalau hal yang membuatmu tertekan adalah tentang pernikahanmu dengan Isabel... kau bisa menundanya, Albert.” Ia menatap mangkuk di tangannya, suaranya lembut tapi teguh. “Tunda sampai kalian benar-benar siap menikah.”

Albertus menoleh, menggenggam jemari adiknya.

“Lihat aku, Eliza.”

Elizabeth mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.

Air mata langsung jatuh dari sudut mata Elizabeth. Ia menggigit bibir, lalu tertawa kecil dalam isaknya. “Aku... bahagia kau akan menikah, Albert. Melihatmu yang dulu selalu menggangguku bermain, yang suka menarik kepang rambutku hanya untuk terlihat menyebalkan... kini akan menjadi suami seseorang.”

Batavia dalam LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang