Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Batavia sore itu seperti lukisan tua, langitnya berwarna tembaga, jalanan basah sisa hujan, dan bau tanah yang bercampur dengan aroma kayu dan daun-daun jati kering.
Pedati berlalu pelan di jalanan, kuda-kuda menghela napas berat, dan anak-anak pribumi berlarian sambil tertawa di sudut gang. Di antara keramaian itulah, Laras berjalan sambil menggandeng tangan kecil putranya, Jaka.
Angin sore menelusup ke dalam selendangnya, mengibaskan ujung kebaya yang sederhana tapi rapi. Di tangan kirinya ada keranjang berisi kain hasil tenunan yang hendak ia antarkan ke pelanggan. Di tangan kanannya, telapak mungil Jaka menggenggam dengan hangat, seperti jangkar kecil yang membuatnya tetap kuat berdiri di dunia yang dulu sempat meremukkannya.
Jaka, anak itu, berusia lima tahun. Matanya bening seperti permukaan air di sawah selepas hujan. Ia banyak bertanya, cepat menangkap sesuatu, dan gemar mengulang kata-kata bahasa Belanda yang kadang didengarnya dari ibunya. Sejak kecil, Laras mengajarkan sopan santun dan bahasa pada anak itu, bukan karena ingin membanggakan diri, tapi karena ia percaya, kelak anaknya harus bisa hidup di dua dunia. Dunia pribumi yang hangat, dan dunia kolonial yang keras dan penuh aturan.
“Bu, kapan kita sampai di toko kain itu?” tanya Jaka dengan logat manisnya.
“Sebentar lagi, Nak. Setelah tikungan besar itu, kita akan tiba.”
“Boleh Jaka beli permen di sana?”
Laras tersenyum, matanya lembut. “Boleh. Tapi tidak banyak, ya. Gigi Jaka bisa sakit kalau kebanyakan.”
Jaka mengangguk, matanya berbinar.
Langkah mereka berdua berhenti di depan pasar kecil di distrik Weltevreden. Beberapa nyonya Belanda tampak berjalan di depan, membawa payung renda. Laras menunduk sopan saat berpapasan, seperti kebiasaan lama yang masih ia pertahankan.
Ia tak menyadari bahwa di seberang jalan, dari arah berlawanan, seorang pria turun dari kereta kuda hitam dengan topi tinggi di kepala. Tubuhnya tegap, wajahnya sedikit lebih tirus dibanding lima tahun lalu, tapi matanya masih sama, tajam, dalam, dan penuh luka yang disembunyikan rapi.
Albertus.
Ia baru saja tiba dari Meenteng setelah mengunjungi perkebunan teh di Depok. Kini ia sedang menuju kantor dagang untuk menandatangani beberapa dokumen ekspor gula. Namun langkahnya berhenti seketika, seperti waktu menolak bergerak.
Di seberang jalan, di bawah langit senja, berdiri sosok yang dulu menghantui setiap malamnya, Laras.
Kebaya itu, langkahnya yang tenang, dan wajah teduh yang tak berubah sedikit pun, membuat jantung Albertus seperti diremas. Lima tahun berlalu, tapi rasanya baru kemarin ia melihat perempuan itu berjalan keluar dari rumah keluarganya dengan mata sembab dan hati remuk.
Di samping Laras, ada seorang anak kecil, kira-kira lima tahun. Anak itu menggandeng tangan ibunya dengan manja, dan saat tertawa, ada sesuatu di rautnya yang begitu familiar, seperti cermin kecil masa lalu.