[viii] Malam Setelah Pesta

15 1 0
                                        

Mentari belum tinggi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mentari belum tinggi. Sinar keemasan menyelinap malu-malu melalui celah tirai tipis kamar pengantin. Di luar, Batavia masih setengah terjaga, tapi dari dalam kamar, kesunyian begitu nyata.

Isabel terbangun karena suara lemari terbuka dan tertutup dengan pelan. Matanya mengerjap pelan, mengira akan menemukan tubuh Albertus masih rebah di sofa yang kini dingin. Tapi ia tak melihat siapa-siapa di sana.

Ia duduk. Rambut pirangnya berantakan, gaun tidurnya lusuh oleh tangis semalam. Dan di depan cermin kayu ukiran Belanda, Albertus sudah berdiri dengan setelan lengkap, jas abu-abu lembut dengan dasi gelap. Rambutnya klimis, sepatu mengilap. Pria itu bahkan sudah mengenakan arloji saku, terlalu rapi untuk sekadar pagi setelah pernikahan.

Isabel mengerutkan dahi. "Sayang?"

Pria itu tak menoleh. Ia hanya mengambil selembar sapu tangan, memasukkannya ke saku jas dengan presisi dingin.

"Alle, kau hendak ke mana sepagi ini?" suaranya sedikit parau, serak oleh tangis yang belum pulih.

Baru kali ini pria itu menjawab, tanpa menatap, "Ada yang harus kuselesaikan."

Nada suaranya pendek. Datar. Tidak seperti seorang suami yang baru saja melewati malam paling penting dalam hidupnya.

Isabel bangkit dari ranjang, selimut terseret bersamanya. Ia berdiri dengan ragu. "Tapi ini... ini pagi setelah pernikahan kita. Kau tidak ingin sarapan bersamaku? Atau setidaknya, bicara baik-baik padaku?"

Albertus menoleh. Tatapannya tajam, lelah, dan seperti menyimpan sesuatu yang ingin diteriakkan tapi terus ditekan. "Kau ingin bicara? Kita sudah bicara cukup tadi malam, bukan?"

Isabel terpaku. Tapi ia mencoba menguatkan diri. "Aku hanya ingin tahu. Kau suamiku sekarang. Aku punya hak untuk tahu ke mana kau pergi."

Albertus menghela napas. Ia meraih topi, memutar badannya menuju pintu. "Kalau begitu hakmu sudah terpenuhi. Aku akan keluar. Jangan tunggu aku untuk makan siang."

Kalimat itu seperti cambuk.

Isabel mengejar. "Alle, tolong... jangan seperti ini. Aku tahu kemarin berat untuk kita berdua. Tapi setidaknya beri aku kesempatan... Sekali saja, untuk pernikahan kita."

Albertus berhenti di ambang pintu. Ia menoleh sekilas.

"Kesempatan yang kuberikan, sudah kau hancurkan waktu di Leiden. Bersama selingkuhanmu itu."

Lalu tanpa menunggu tanggapan, ia pergi. Pintu ditutup tanpa suara, tapi gaungnya menghantam dada Isabel lebih keras dari bentakan mana pun.

Ia berdiri diam beberapa saat. Napasnya menggantung. Lalu perlahan, ia duduk kembali di ujung ranjang, menatap pintu yang tak lagi terbuka.

Ia marah. Ia kecewa. Tapi ia memilih diam.

Isabel membuka matanya dengan dingin. Setelah mendengar suara pintu tertutup beberapa saat lalu, ia tahu Albertus telah pergi.

Batavia dalam LukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang