[iii] Malam Kelam

153 11 6
                                        

Di sudut lain Batavia, Isabelle GoedHart tersenyum tipis di balik jendela rumah besar yang diterangi lampu minyak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sudut lain Batavia, Isabelle GoedHart tersenyum tipis di balik jendela rumah besar yang diterangi lampu minyak. Mata birunya berkilat dalam gelap, memandangi pantulan dirinya di kaca. Gadis keturunan Belanda itu memang sangat cantik. Bak sebutir berlian di tengah tumpukan jerami lusuh. Isabel benar-benar wanita yang sempurna. Ia adalah bayangan keanggunan yang tajam, berlapis kemewahan dan ambisi yang tak terpadamkan.

Netherlands begitu indah. Tapi wanita itu memilih Hindia Belanda. Tujuannya datang ke negeri jajahan bangsanya bukan hanya untuk mengembangkan bisnis keluarga, tidak sekadar untuk membangun pabrik-pabrik besar. Misi wanita pirang itu lebih rumit daripada semua yang orang lain pikirkan.

Isabel harus bergerak dengan cepat dan presisi. Langkah demi langkah ia perhitungkan agar tidak hancur di tengah jalan. Meski indah, negeri jajahan tetaplah sesuatu yang tak bisa ia prediksi dengan mudah. Semua bisa lenyap dalam sesaat. Hindia Belanda bagai musuh dalam selimut. Siap menelan siapa saja, baik bangsa eropa, maupun bangsa pribumi.

"Liefde is een spel, en ik ben altijd de winnaar." (Cinta adalah permainan, dan aku akan selalu jadi pemenangnya.) Bisikannya hampir seperti mantra, menari-nari di udara sebelum lenyap dalam hening malam.

Gaun sutranya berdesir lembut saat ia melangkah menuju pintu, menuju tempat di mana Albertus mungkin berada. Malam masih panjang, dan ia tak akan membiarkan siapapun merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya. Dalam permainan ini, hanya ada satu pemenang, dan ia telah bertekad untuk tetap menjadi yang terakhir berdiri.

Di luar rumah besar itu, seorang lelaki berdiri dalam bayang-bayang. Wajahnya tersembunyi di balik topi lebar, tetapi sorot matanya tajam mengamati setiap langkah Isabel. Bibirnya menyunggingkan senyum samar.

"Kau bisa memenangkan permainan ini, Isabel, tapi kau lupa... permainan ini memiliki lebih dari satu pemain."

Ia lalu melangkah pelan, menyelinap ke dalam gelapnya gang-gang sempit Batavia, membawa serta rahasia yang mungkin akan mengubah segalanya.

Di balik tembok kota yang tinggi, di gang-gang kecil tempat aroma anyir laut bercampur dengan harum cendana, seseorang tengah memetik dawai kecapi dengan lembut.

Nada-nada lirih itu menari di udara, membelah keheningan malam. Seorang pemuda duduk bersila, memandang langit yang seolah menyimpan jawaban yang ia cari.

"Laras..." desisnya pelan.

Namanya adalah suara yang telah lama ia simpan dalam dada, sebuah rahasia yang berdenyut dalam keheningan. Tangan kanannya mengepal erat, menyembunyikan sesuatu di dalam genggaman. Sebuah cincin emas sederhana yang pernah ia rencanakan untuk melingkari jari gadis itu. Namun, nasib telah menuntunnya ke arah lain.

Ia bangkit, menyelipkan kecapinya di punggung sebelum melangkah ke lorong-lorong gelap. Batavia mungkin telah menelan banyak kisah, tetapi ia belum menyerah. Tidak malam ini.

Batavia dalam LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang