[xix] Dia Kembali

11 0 0
                                        

Hujan sore itu turun perlahan, menetes di atap rumah keluarga De Groot yang megah di sudut Batavia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan sore itu turun perlahan, menetes di atap rumah keluarga De Groot yang megah di sudut Batavia. Di ruang kerjanya, Isabel duduk di kursi rotan, menatap jendela besar yang dibingkai tirai renda. Di pangkuannya, sebuah amplop kertas lusuh tergeletak. Sedikit lembap oleh embun. Surat itu tiba pagi tadi, dibawa oleh kurir berpakaian abu-abu yang tidak menyebutkan nama pengirimnya. Tapi begitu matanya membaca baris pertama, lutut Isabel melemas.

Tulisannya rapi, bergaya khas Eropa, tulisan tangan yang tak mungkin ia salah kenali.

Mijn geliefde Isabel,

Aku sudah tiba di Hindia, seperti janji kita dulu di Leiden. Apakah kau lupa akan perjanjian yang kau buat di bawah pohon ek itu? Lima tahun cukup lama untuk menepati kata. Aku menunggumu di pelabuhan tua, di balik gudang yang dulu disita oleh perusahaan gula milik ayahmu. Malam ini, saat bulan naik separuh, datanglah. Jangan membawa siapa pun.

Met alle liefde,
James.

Isabel memejamkan mata. Jantungnya berdetak kencang, seolah menggedor tulang rusuknya dari dalam. James. Nama itu saja sudah cukup membuat seluruh tubuhnya bergetar. Antara takut, marah, dan perasaan yang sulit ia beri nama. James bukan hanya masa lalunya. Lelaki itu adalah bayang hitam di balik semua kesalahan yang kini membentuk hidupnya.

Surat itu dibacanya berkali-kali, sampai tinta hitamnya mulai pudar di bawah jari gemetar. Ia tahu seharusnya ia membakar surat itu di perapian. Namun hatinya tak sekuat itu. Ada bagian kecil dari dirinya, bagian yang busuk, rapuh, dan penuh penyesalan, yang ingin tahu apa yang akan dikatakan James.

Malam itu ia menulis balasan, dengan tangan yang bergetar.

"Kita tidak boleh bertemu, James. Aku telah menikah. Hidupku kini berbeda."

Tapi surat itu tidak pernah ia kirim. Sebab surat kedua datang lebih cepat dari yang ia duga. Kali ini bukan ajakan lembut, melainkan ancaman halus.

"Als je niet komt, zal ik alles vertellen. Alles over Leiden, over de nacht dat je je ziel aan mij gaf." (Jika kau tidak datang, aku akan ceritakan segalanya. Segala yang terjadi di Leiden, tentang malam di mana kau menyerahkan jiwamu padaku)

Isabel nyaris pingsan membacanya. Dingin menjalar dari ujung jarinya ke tulang punggung. Ia tahu betul James bukan sekadar omong kosong. Laki-laki itu memegang terlalu banyak rahasia. Surat, catatan, bahkan saksi. Semua yang bisa mengguncang reputasinya dan menghancurkan nama keluarga De Groot.

Maka malam itu, Isabel menulis satu kalimat balasan:

"Baiklah, kita bertemu di taman tua di dekat pelabuhan Sunda Kelapa. Hari Sabtu. Saat matahari tenggelam."

Ia menggenggam surat itu, menatap tulisan tinta yang mulai memudar. Lima tahun lalu, di Leiden, di bawah langit kelabu Belanda, mereka memang pernah berjanji. Sebuah janji yang sekarang terasa seperti kutukan. Isabel menelan ludah, menatap pantulan dirinya di cermin. Mata birunya tampak dingin, tapi di baliknya bersembunyi badai yang tak kunjung reda.

Batavia dalam LukaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang