Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu, Laras duduk bersama ibunya di dapur kecil yang hanya diterangi pelita. Ia tak banyak bicara. Tapi saat ibunya menyodorkan sepiring singkong rebus, Laras menggenggam tangan tua itu dan berbisik pelan,
"Bu... aku akan mencoba."
Ibunya terdiam, menatap Laras tanpa berkedip.
"Apa maksudmu, Nak?"
"Mas Wibawa. Aku... akan mencoba membuka hati padanya."
Tangan ibunya gemetar. Piring nyaris jatuh dari tangannya, tapi ia buru-buru meletakkannya di meja. Air matanya tumpah, mengalir deras.
"Ya Allah... Laras... Nak..." Ia menarik putrinya ke pelukannya, memeluk erat seperti anak kecil yang baru pulang setelah lama hilang.
"Kau tidak tahu betapa aku berdoa siang malam... aku takut kau tenggelam dalam kesedihan. Aku takut kau memilih mati dalam diam, seperti aku dulu."
Laras memeluk ibunya lebih erat. "Aku tidak ingin seperti Ibu, Bu. Aku ingin... hidup."
Ibunya mengusap rambut Laras yang lembab karena keringat.
"Wibawa itu lelaki baik, Laras. Tak banyak laki-laki seperti dia di dunia ini. Dia bukan bangsawan. Bukan De Groot. Tapi hatinya besar. Dan dia akan melindungimu, lebih dari siapapun. Ibu bisa lihat itu dimatanya."
Laras hanya bisa mengangguk, matanya berkaca. Ia belum bahagia. Tapi... ia sudah tidak sendiri lagi. Dan kadang, itu lebih dari cukup untuk memulai sebuah lembaran baru.
****
Hari itu, langit Batavia begitu teduh. Tidak panas, tidak pula hujan. Angin bertiup pelan, membawa aroma kayu manis dan daun kering dari dapur-dapur penduduk yang mulai sibuk memasak. Hari itu, rumah kecil di sudut Batavia tampak lebih bersinar dari biasanya.
Bukan karena cat temboknya berganti. Bukan karena perabotnya baru. Tapi karena ada harapan baru yang mencoba ditumbuhkan oleh seorang perempuan tua, yang selama hidupnya hanya mengenal luka, airmata, dan kesepian.
Ia bangun lebih pagi dari biasanya. Mengepel lantai sampai dua kali, menanak nasi dengan tangan gemetar, lalu menyusun beberapa bunga melati di dalam mangkuk kecil dari porselen tua hadiah di masa mudanya.
Di dalam kamar, ia menatap kebaya biru muda yang telah ia siapkan. Kebaya itu dulu miliknya, ketika ia masih gadis. Kini, ia setrika hati-hati, seperti menyeterika masa lalu yang kelam agar tak menempel di tubuh anaknya.
Rumah kecil yang dinaungi pohon asam tua itu penuh suara berisik, suara ibu Laras terdengar paling riuh. Menyiapkan air rendaman bunga melati di mangkuk-mangkuk kecil, menyusun gelas-gelas terbaik yang mereka miliki di atas nampan anyaman bambu.
"Laras, tolong pastikan rambutmu sudah disisir rapi. Sanggul rambutmu dengan tusuk konde yang ibu siapkan di atas meja riasmu. Di dalam kotak berwarna cokelat. Pakai kebaya biru muda, yang Ibu simpan di lemari," ujar sang ibu, suaranya lebih tinggi dari biasa.