[xx] Sebuah Dosa Besar

26 0 0
                                        

Di rumah keluarga De Groot, lampu minyak menyala temaram

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di rumah keluarga De Groot, lampu minyak menyala temaram. Cahayanya menari lembut di dinding kayu jati yang mengilap. Di sana, Isabel duduk di kursi rotan, tangannya menggenggam secangkir teh melati yang telah dingin.

Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Dan di dadanya, sesuatu berdenyut antara rasa takut dan penyesalan.

Sejak sore tadi, surat itu datang. Tinta di atas kertas kuning kecokelatan itu adalah milik James van Houten, lelaki yang dulu mengisi masa mudanya di Leiden, lelaki yang seharusnya sudah terkubur dalam kenangan masa lalu.

Namun hidup tak pernah sesederhana itu.

Dalam aksara tegak dan kaku, James kembali menulis:

"Ik ben hier, in Batavia. (Aku ada disini, di Batavia) Kita perlu berbicara lagi. Mengenai segalanya, Isabel. Aku sudah memberimu waktu selama 3 hari untuk berpikir."

Kalimat itu sederhana, tapi bagi Isabel, bunyinya seperti sabit yang menebas leher tenangnya.

Ia sudah mencoba hidup baik-baik. Sudah berusaha menjadi istri yang patuh, lembut, bahkan nyaris sempurna. Namun rahasia yang ia simpan dari masa lalu, dari Leiden yang jauh dan dingin, tak pernah benar-benar mati. Ia berpikir, mungkin Tuhan sudah mengampuninya. Mungkin cinta Albertus yang lembut bisa menutup masa lalu yang hitam. Tapi malam itu, ketika membaca surat James, Isabel tahu. Masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi, menunggu saatnya bangkit.

****

Mereka bertemu di kedai tua dekat pelabuhan, tempat para saudagar Belanda sering melepas lelah sambil meneguk kopi dari Priangan. Isabel datang memakai kebaya putih gading dan kain batik Lasem, wajahnya ditutup sedikit oleh tudung renda halus. Ia berjalan cepat, namun gugup. Sementara James sudah duduk di sudut ruangan, menunggu dengan rokok yang separuh habis di tangannya.

"Isabel," katanya, suaranya dalam, serak, dan tajam. "Kau datang juga."

Isabel menelan ludah. "Kau seharusnya tidak di sini, James. Tidak di negeri ini. Tidak... dalam hidupku. Aku sudah memintamu pergi."

James tertawa kecil, namun tawa itu seperti luka yang terbuka. "Aku tak bisa tinggal diam di Eropa sementara semua urusanku di sini belum selesai. Kau tahu betul itu."

"Urusan kita sudah berakhir. Sudah bertahun-tahun berlalu. Aku sudah bahagia James, dan aku harap kau tidak mengganggu hidupku."

"Berakhir?"

Ia mematikan rokoknya dengan tekanan lembut di asbak.

"Tidak ada yang berakhir, Isabel. Tidak dengan cara seperti itu. Kau meninggalkanku tanpa kepastian diatas janji yang kau buat sendiri, menikah dengan Albertus De Groot, membawa semua... rahasia kita."

Isabel menatapnya tajam, meski tangan di bawah mejanya gemetar. "Jangan bicarakan hal itu di sini. Aku tidak akan biarkan segalanya diantara kita ..."

"Ah, kau masih seanggun dulu."

Batavia dalam LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang