Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, Isabel duduk di ruang tengah dengan balutan gaun sutra warna krim pucat. Rambut pirangnya digelung rapi dengan tusuk konde gading. Di tangannya, selembar kertas undangan bertinta emas sedang dikaji ulang oleh pelayan pribadinya, Klara.
"Pastikan kertas itu sampai ke rumah Van Riemsdijk sebelum sore. Dan... titip salam pribadi dariku."
"Ya, Nyonya."
Isabel melirik daftar nama di atas meja. Baris demi baris tokoh penting perempuan Batavia tertulis rapi di sana. Istri residen, janda pengusaha gula, putri salah satu komisaris VOC, dan perwakilan dari gereja Protestan.
Ia menunjuk satu nama, matanya menyipit. "Keluarga Van Loon. Aku dengar suaminya baru saja menjabat sebagai pengawas baru dermaga?"
Klara mengangguk. "Betul, Nyonya. Orang-orang mengatakan mereka sekarang dekat dengan Gubernur Jenderal."
Isabel tersenyum kecil. "Bagus. Undang. Taruh dia di meja paling depan, hadapkan langsung ke kursi kehormatan."
Ruang tamu besar itu kini dipenuhi kain dan porselen dari Eropa yang digali kembali dari gudang. Isabel memerintahkan semua pelayan untuk mengubah suasana rumah menjadi panggung diplomasi. Tidak lagi tempat tinggal keluarga semata.
"Ini bukan sekadar pesta minum teh," katanya pada Klara.
"Ini presentasi. Aku akan jadi topik di seluruh meja makan ibu-ibu kolonial selama seminggu ke depan."
Klara ragu-ragu sejenak. "Apakah... Tuan Albert tahu tentang acara ini?"
Isabel tersenyum, tenang. "Tidak. Dan aku tidak butuh persetujuannya. Aku istrinya, bukan pelayannya. Ini rumahku juga."
Ia berdiri, melangkah ke cermin besar di ujung ruangan, lalu membetulkan letak bros emas di dadanya.
"Kalau dia tak bisa mencintaiku, biar Batavia yang memujaku."
****
Keesokan harinya, pesta teh itu digelar.
Taman belakang keluarga De Groot disulap menjadi lanskap Eropa. Meja-meja bundar dilapisi linen putih. Vas kristal di setiap sudut, bunga hydrangea dan mawar putih tertata indah. Pelayan-pelayan mengenakan seragam khusus, membawa nampan berisi petit four dan teh rempah Belanda.
Perempuan-perempuan paling berpengaruh di Batavia datang dengan payung renda, topi bulu, dan perhiasan-perhiasan keluarga. Mereka tertawa, bersulang, saling menyentuh lengan dengan gestur lembut namun penuh pengawasan.
Isabel bergerak di antara mereka seperti ratu yang sudah lama ditunggu. Ia mencium pipi kiri dan kanan, mengingat nama anak-anak mereka, menanyakan kabar kebun, hingga menyebut kain bordir dari Amsterdam yang pernah mereka kagumi bersama. Semua dilakukannya tanpa cacat, tanpa salah.
"Lihatlah Isabelle De Groot... dia benar-benar naik takhta," bisik salah satu istri pejabat pelabuhan kepada rekannya.
"Padahal dulu keluarganya jatuh... memalukan... tapi sekarang? Luar biasa. Wanita cantik memang tidak bisa diragukan," sahut yang lain.