Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu dingin. Kabut tipis menyelimuti taman belakang gereja tua di Weltevreden. Pepohonan besar menaungi altar batu yang tak lagi digunakan. Angin membawa bau tanah lembap dan bunga kamboja yang gugur.
Albertus sudah tiba lebih dulu.
Ia berdiri di antara dua pilar batu, mengenakan mantel hitam panjang, rambutnya sedikit berantakan, dan tangan kanannya menggenggam liontin kecil. Liontin Laras yang pernah ia simpan diam-diam. Napasnya berat. Waktu serasa melambat.
Kemudian, langkah itu terdengar.
Laras muncul dari balik gerbang samping, mengenakan kebaya cokelat gelap dan selendang batik tipis. Wajahnya pucat dalam cahaya bulan, tapi sorot matanya tetap sama, tajam, tenang, dalam.
Mereka berdiri beberapa langkah jauhnya.
Diam.
Seperti dua orang asing… yang saling mengenal terlalu dalam.
“Laras,” kata Albertus lirih.
Laras menatapnya, lama, seakan memotret wajah pria itu ke dalam ingatan.
“Tuan... masih mengingat saya?”
Albertus tertawa pelan, getir. “Setiap hari, Laras.”
Laras menarik napas. “Lalu kenapa? Kenapa tuan menyerah?”
Albertus menatap tanah. Tangannya mengepal. “Karena saya... lemah. Karena saya tidak bisa menyelamatkan kita, Laras. Isabel menyandera saya dengan nama, keluarga, segalanya. Bahkan dengan nyawamu. Bagaimana saya bisa hidup jika saya mengorbankan dirimu dalam permainan kekuasaan ini? Saya… gagal. Maafkan saya.”
Air mata Laras jatuh. Ia berjalan pelan, dan kini berdiri hanya sejengkal darinya.
“Tuan, saya tidak marah pada tuan,” bisiknya. “Saya hanya... kecewa. Bukan pada tuan. Tapi pada dunia yang tak memberi kita ruang.”
Albertus meraih tangannya. Hangat. Kuat. Gemetar.
“Maafkan saya… Aku bahkan tak tahu harus bagaimana mencintaimu dengan benar di dunia yang salah.”
Albertus menarik Laras ke pelukannya. Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya berubah, ia menangis. Bukan sebagai lelaki bangsawan. Bukan sebagai anak VOC. Tapi sebagai Albertus, lelaki yang hanya ingin hidup damai bersama satu nama, Laras.
****
Suasana rumah keluarga De Groot hening ketika Isabel kembali dari pengukuran terakhir gaun pernikahannya. Sore itu langit Batavia kelabu, seolah tahu badai akan pecah, bukan di langit, melainkan di dalam rumah itu.
Isabel baru saja mengganti sepatunya ketika selembar kertas jatuh dari rak buku Elizabeth. Kertas itu digumpal, hampir sobek. Sepertinya salah tulis. Kertas itu tertiup angin, atau mungkin terbawa takdir. Matanya membaca cepat, dan ketika ia sampai di kalimat terakhir, wajahnya memucat, lalu memerah.