[ix] Lelaki Tua dan Rahasia

14 1 0
                                        

Pagi itu, jalanan Batavia masih diselimuti kabut tipis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu, jalanan Batavia masih diselimuti kabut tipis. Riuh suara becak, kuda, dan bel pembuka toko baru saja memulai simfoni kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di sebuah gang sempit dekat pelabuhan tua, langkah kaki pria berdasi rapi terdengar mantap. Jasnya lembut, sepatu mengilap, tapi wajahnya, muram.

Albertus De Groot menelusuri gang dengan penuh waspada. Ia berhenti di sebuah rumah kayu tua yang catnya mengelupas, pintunya separuh lapuk dimakan usia. Ia mengetuk tiga kali, sesuai kode yang disepakati.

Rumah kayu reyot di belakang pelabuhan tua itu terasa seperti dunia yang jauh dari kemewahan rumah De Groot. Bau asin laut, dinding lapuk, dan rak kayu yang miring berisi botol-botol kaca tua menjadi latar tempat pertemuan dua dunia yang berbeda.

Pintu dibuka. Seorang lelaki tua berambut putih keluar, matanya tajam, sorotnya mengenali Albertus dengan cepat.

Albertus menunduk sopan. "Terima kasih karena tak melapor pada siapa pun, saat menyelamatkan saya malam itu."

Pria tua itu, seorang mantan pengurus gudang pelabuhan yang dulunya bekerja untuk keluarga Van der Velde, mengangguk pelan. "Kau hanya satu dari sedikit meneer muda yang masih tahu rasa terima kasih."

Albertus duduk di kursi kayu dengan tubuh tegak, tangannya menggenggam secangkir teh panas yang baru saja diseduh lelaki tua itu. Ia belum menyentuh minumannya, hanya menatap uapnya perlahan naik dan hilang di udara.

Lelaki tua itu duduk di seberangnya, menyandarkan punggung di dinding kayu lapuk sambil memandangi Albertus yang diam memeluk cangkir teh.

"Kau benar-benar menikahinya?" tanyanya pelan.

Albertus mendengus pendek. "Kalau tak ada tekanan keluarga dan politik, saya takkan berdiri di altar kemarin."

"Ah..." Lelaki tua itu menyedot rokok kretek kecil di ujung bibirnya. "Tuan muda di Batavia menikah bukan karena cinta. Sudah biasa itu."

Albertus mengangguk. "Tegen mijn wil."(Berlawanan dengan kehendak saya.)

"Saya tak punya pilihan."

Lelaki tua itu terkekeh, matanya menyipit. "Kau pikir hanya budak dan inlander yang menikah karena paksaan? Bahkan bangsawan pun bisa jadi tawanan, ya?"

Albertus tersenyum tipis. "Bedanya, saya tak diikat rantai besi. Tapi oleh janji suci dan ambisi keluarga."

"Saya mencintai Laras. Tapi tak ada satu pun dari mereka yang peduli dengan perasaan saya." Ia mendesah. "Jadi, saya menikah. Dengan wanita yang pernah menghancurkan hidup saya sendiri."

"Isabelle Goedhart." Lelaki tua itu menaikkan alis. "Wanita yang menyakitimu, menyekapmu, lalu menikahimu? Luar biasa. Dia tak hanya mencuri hatimu, tapi juga kebebasanmu."

Albertus tertawa kecil, pahit. "Saya bahkan tak yakin dia benar-benar menyesal. Tapi semalam, dia bilang akan berhenti mengejar cinta, dan mulai berpura-pura menjadi istri sempurna demi politik. Ironisnya, itu lebih membuat saya muak ketimbang saat dia merajuk."

Pria tua itu terkekeh. "Perempuan cerdas, namun berbisa. Menjijikkan, ya, kalau orang yang menyakiti kita tiba-tiba memilih jadi 'manusia baik' untuk merebut simpati."

Albertus menatap lurus ke depan. "Saya tidak benci dia. Tapi saya tidak bisa memaafkan juga. Terlalu banyak luka yang masih menganga. Ia, dan keluarganya... mewakili semua yang membelenggu hidup saya."

"Tentu saja," si lelaki tua menyeringai sinis. "Perempuan seperti Isabelle Goedhart tidak menyerah, Tuan De Groot. Ia menunggu. Dan saat kau lengah, ia akan menancapkan kukunya lebih dalam."

Albertus tertawa kecil, getir. "Dan saya? saya sudah jadi suaminya, secara hukum dan gereja, dihadapan Tuhan. Tapi hati saya... tidak di rumah itu. Hati saya masih bersama Laras."

Lelaki tua itu meletakkan cangkirnya. "Laras... dia tahu kau menikah?"

Albertus menunduk. "Saya tak sanggup menyampaikan secara langsung. Tapi Elizabeth... dia sudah memberitahu."

Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Laras itu kuat. Tapi perempuan seperti dia, yang mencintai dari luar pagar kekuasaan, selalu dibungkam sejarah."

Albertus menatapnya. "Saya ingin melakukan sesuatu. Membayar semua yang telah dikorbankannya demi saya. Saya ingin membuat perubahan... mulai dari perkebunan itu."

Albertus menunduk, jemarinya mengepal perlahan. "Ik hou van haar..."(Saya mencintainya...)

Lelaki tua itu berdiri, mengambil map kulit tua dari rak penuh debu. Ia meletakkannya di meja dan membukanya perlahan. Di dalamnya ada peta perkebunan, surat jual-beli, dan tanda tangan VOC yang terlihat palsu.

"Kau ingin melawan? Maka mulai dari sini. Tanah-tanah ini dulu milik rakyat. Keluargamu dan keluarganya, De Groot dan GoedHart mengambil semuanya."

"Dokumen ini, apakah semuanya asli?"

Lelaki tua itu mengangguk dalam. "Kalau kau serius... kita bisa mulai dari tanah-tanah curian yang dikuasai De Groot dan GoedHart. Aku punya catatan, lengkap. Nama-nama. Surat jual beli palsu. Banyak keluarga pribumi yang terlempar dari tanah sendiri."

Albertus membolak-balik dokumen itu, wajahnya mengeras.

"Kalau aku pakai ini, mereka akan bilang aku menghancurkan nama keluargaku sendiri."

"Kalau kau diam," potong lelaki tua itu, "kau tak lebih dari alat mereka."

Albertus menatapnya, lalu berkata lirih, "Als ik val..." (Jika saya jatuh..)

"Kalau saya dihancurkan karena semua ini, biarlah."

Lelaki tua itu mendekat, menatap lurus ke matanya. "Verzet begint met moed."(Perlawanan dimulai dengan keberanian.)

"Kalau kau sungguh mencintai Laras, dan kau benar ingin mengubah Batavia... maka jangan jatuh, anak muda. Bangkit."

Albertus tampak berpikir dalam. "Kalau saya bisa bawa dokumen itu ke meja dagang, ke Dewan Kota, mungkin saya bisa membalikkan kekuatan. Sedikit demi sedikit."

"Dan kalau berhasil, kau akan jadi ancaman bagi keluargamu sendiri." Lelaki tua itu menyipitkan mata. "Kau siap ditikam dari belakang oleh darahmu sendiri?"

Albertus tertawa, untuk pertama kalinya pagi itu, tulus dan getir.

"Saya sudah ditikam sejak saya dilahirkan sebagai anak sulung keluarga ini. Saya hanya belum berdarah."

Lelaki tua itu ikut tertawa, keras, serak, menggema di rumah kayu sempit itu. "Kau anak muda paling sinting yang pernah saya kenal."

Albertus mengangkat cangkir teh. "Dan anda lelaki tua paling berani yang pernah menyelamatkan nyawa saya."

Keduanya bersulang diam-diam, tanpa gelas kaca, tanpa anggur. Hanya teh panas dan tekad yang perlahan menyatu.

 Hanya teh panas dan tekad yang perlahan menyatu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Batavia dalam LukaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang