Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam itu, Batavia diselimuti hujan yang turun perlahan seperti doa. Dari jendela besar yang menghadap ke kebun pala di belakang rumah keluarga de Groot, sinar lampu minyak menari lembut di udara yang lembap. Di kamar utama yang berdinding putih dan berlangit tinggi, Isabel menggenggam erat tangan Albertus. Napasnya terengah, matanya basah, dan rambut pirangnya menempel di dahi yang dipenuhi peluh.
Isabel menutup matanya, tubuhnya tegang menahan rasa sakit yang memuncak di perutnya. Sejak fajar, kontraksi datang silih berganti, seperti gelombang yang menuntut pasrah. Hannah dan bidan yang mereka panggil dari Weltevreden berdiri di sisi ranjang, memberi arahan dengan suara yang lembut namun tegas.
"Kuatkan diri anda, Nyonya. Bayinya sudah sangat dekat."
Lalu, dalam satu hentakan napas yang panjang, dalam satu jerit yang menggema di dinding kamar luas itu, lahirlah tangisan pertama Amélie De Groot. Tangisan nyaring, hidup, dan indah, menembus batas langit Batavia malam itu.
Albertus terpaku. Di pelukan bidan, bayi mungil itu menangis keras dengan wajah kemerahan dan rambut lembut berwarna pirang madu yang berkilau di bawah cahaya lampu. Mata cokelatnya perlahan terbuka, menatap sekeliling dengan tatapan polos yang menembus relung jiwa.
"Dia... sempurna," ucap Albertus, suaranya nyaris bergetar. Ia menerima Amélie dalam dekapannya, memandang bayi itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Welkom, kleine prinses." (Selamat datang, putri kecil)
Isabel hanya bisa menangis, antara lega dan takut. Ia menatap putrinya, menatap rambut pirangnya, menatap bola mata kecil berwarna biru lembut itu, warna yang sama dengan mata Albertus... atau James. Tapi di saat itu, ia menepis pikiran itu jauh-jauh.
Yang ada di hadapannya hanyalah kebahagiaan. Sebuah anugerah yang nyaris mustahil ia miliki setelah lima tahun pernikahan tanpa kabar baik.
Albertus mencium kening Isabel, lalu menatap putrinya dengan cinta yang nyaris tak terbendung.
"Engkau telah memberiku kehidupan baru, Isabel," katanya lirih, "dan aku berjanji akan menjaganya dengan seluruh nyawaku."
****
Kabar kelahiran Amélie de Groot menyebar cepat di kalangan keluarga besar dan para kenalan. Rumah besar di daerah itu menjadi ramai oleh ucapan selamat dan hadiah-hadiah yang datang silih berganti.
Hannah, sang ibu mertua, menangis haru saat pertama kali menggendong cucunya.
"Grote hemel... ze lijkt op jou, Isabel." (Ya Tuhan... dia mirip sekali denganmu, Isabel)
Isabel tersenyum, menunduk, menyembunyikan genangan air mata yang entah berasal dari rasa syukur atau rasa bersalah.
Anthony datang membawa boneka porselen dari Rotterdam, sedangkan Elizabeth membawa selendang sutra putih hasil tenunan pribumi yang katanya akan membawa keberuntungan bagi sang bayi. Semua orang tertawa, bernyanyi, dan berdoa. Rumah keluarga de Groot kembali hidup, seolah seluruh duka yang dulu pernah singgah kini sirna oleh tangis kecil seorang bayi perempuan.