Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mentari pagi menyusup pelan lewat kisi-kisi jendela ruang makan keluarga De Groot. Cahayanya hangat, namun tak mampu mengusir dingin yang menggumpal di dalam dada. Suara sendok beradu dengan piring porselen terdengar ringan, nyaris malu-malu.
Semua orang tampak rapi pagi itu. Albertus duduk di sisi kanan meja, berseberangan dengan Isabel. Rambutnya disisir ke belakang, setelan krem melekat sempurna di tubuh jangkungnya, seperti pria-pria bangsawan di kota tua Amsterdam.
Namun matanya, mata yang dulu penuh harap dan semangat, kini tampak kosong. Hampa.
Isabel sesekali melirik. Ia tidak berharap banyak. Namun sekilas, saat Albertus tak segera pergi setelah suapan terakhirnya, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Tiba-tiba, suara Albertus memecah pagi.
“Mama… setelah ini, bolehkah kita berbicara sebentar?”
Semua kepala menoleh.
Isabel ikut menatapnya. “Alle? Ada apa?”
Albertus hanya menjawab lirih, tanpa memandang istrinya.
“Aku hanya ingin bicara dengan mama. Tidak lama.”
Hannah tersenyum lembut. Sebuah senyum yang penuh kerinduan akan putranya yang semakin menjauh sejak hari pernikahan.
“Tentu saja, Albert. Aku senang kau memintanya.”
Mereka menghabiskan suapan terakhir dalam diam. Isabel menunduk, menyembunyikan rasa canggung yang mencuat dari dada.
Tak berapa lama, Albertus berdiri dan menghampiri ibunya.
Balkon kecil di timur rumah itu seperti surga tersembunyi. Dipenuhi tanaman rambat, pot geranium, dan kursi rotan tempat Hannah biasa duduk menyulam di sore hari.
Albertus dan Hannah duduk berdampingan. Angin laut menyusup lembut, membawa aroma asin dan suara burung pagi. Untuk beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Hanya suara dunia yang tenang, seolah memberi ruang bagi luka yang hendak dibuka.
Albertus menunduk. Lalu suara itu keluar dari dadanya, pelan, hampir seperti berbisik.
“Mama… apakah benar… seorang anak bisa menjadi penghubung cinta dua orang tuanya?”
Hannah terdiam sejenak, lalu tersenyum, menatap putranya seakan mengerti sesuatu yang tak pernah diucapkan.
“Albert… anak adalah anugerah, bukan penyambung, tapi pengikat. Aku dan papamu dulu… kami bukan kisah romantis yang sering kau baca di novel-novel. Kami dijodohkan, untuk nama keluarga, untuk bisnis, untuk kehormatan juga.”
Suara Hannah gemetar, tapi bening.
“Namun ketika kau lahir, dan Elizabeth menyusul… aku mencintai papamu bukan karena aku harus, tapi karena aku ingin. Karena melihat dia menggendongmu, dengan tangan yang dulu hanya menggenggam laporan keuangan dan dokumen pabrik, membuat hatiku luluh.”