Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(5 Tahun Kemudian...)
Angin pagi Batavia berhembus lembut di sela dedaunan jati. Matahari baru terbit di balik kabut tipis, menumpahkan cahaya keemasan ke halaman rumah kecil Laras dan Wibawa.
Burung-burung berkicau di genting, seakan menyambut hari yang baru dengan gembira. Di dapur, aroma nasi liwet dan ikan asin yang baru matang menyebar perlahan. Laras duduk di tikar pandan, mengenakan kebaya warna lembut, rambutnya disanggul rapi, tangan halusnya memotong potongan kecil sayur lodeh untuk anak laki-lakinya yang kini berumur empat tahun. Sebuah anugerah yang datang dari doa panjang dan air mata yang pernah tumpah di malam-malam sepi.
Anak itu bernama Jaka. Tatapan matanya teduh seperti Wibawa, tapi caranya tersenyum… ah, itu seperti Albertus dulu, lembut dan menenangkan. Kadang Laras menatap wajah anak itu terlalu lama, bukan karena ia ingin mengenang masa lalu, melainkan karena di wajah kecil itulah ia belajar menerima masa kini.
Wibawa masuk dari halaman, keringatnya membasahi dahi, membawa sekeranjang hasil kebun.
“Sayurmu harum sekali, bu,” katanya, menaruh keranjang di dapur. Suaranya dalam dan hangat, seperti pagi yang tak pernah lekang.
Laras tersenyum, tangannya terhenti di atas piring. “Kau selalu memuji masakanku, padahal bumbunya itu-itu saja.”
Wibawa mendekat, menepuk pundaknya perlahan. “Karena aku selalu lapar setiap melihatmu di dapur.”
Laras terkekeh kecil. Keakraban itu tumbuh perlahan, bukan karena cinta yang membuncah di awal, melainkan karena waktu, kesabaran, dan keberanian untuk bertahan. Ia menatap suaminya yang kini tengah bermain dengan Jaka di halaman. Tawa mereka berpadu dengan gemericik air di pancuran belakang. Di wajah itu, ia melihat cinta yang tidak berteriak, tapi hidup dalam tindakan, dalam tangan yang menanam, dalam pundak yang bersandar, dalam dada yang tak pernah pergi.
Namun di balik semua itu, Laras tahu, di sudut jiwanya yang paling sunyi, masih ada nama yang ia sebut hanya dalam doa yang tak bersuara. Nama yang terkubur rapi, tapi belum mati.
“Maafkan aku, tuan Albertus…” bisiknya pelan suatu malam.
“Aku telah memilih bertahan di jalan yang bukan bersamamu. Tapi mungkin, Tuhan memang menulis bahagia dalam bentuk yang lain.”
Ia menatap Wibawa yang tidur di sampingnya, dada pria itu naik turun teratur. Laras meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
Beginilah cinta, mungkin tak seindah mimpi masa muda, tapi nyata dan bertumbuh, seperti akar pohon yang tak tampak namun kokoh di bawah tanah.
****
Sementara itu, jauh di rumah besar dengan jendela kaca dan taman bunga mawar yang selalu terawat, Isabel duduk di kursi rotan dekat jendela. Angin dingin sore menelusup lewat celah gorden tipis. Di tangannya, segelas teh melati yang sudah hampir dingin.