Albertus De Groot, putra sulung keluarga terpandang. Menikahi Isabelle GoedHart demi kehormatan dan kekuasaan dua dinasti besar. Tapi hatinya tak pernah hadir dalam pesta itu. Hatinya tertinggal pada Laras, perempuan pribumi yang ia cintai diam-diam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mobil hitam tua buatan Jerman itu berderit pelan saat melaju membelah jalan tanah merah yang menuju ke selatan Batavia. Kabut pagi masih menggantung rendah di atas barisan pohon teh yang berjajar rapi sejauh mata memandang, menebarkan aroma segar yang menyatu dengan embun dan tanah basah. Di dalam mobil, duduk dua manusia yang dulu saling mencinta, atau mungkin, masih berusaha untuk kembali memahami apa itu cinta.
Albertus De Groot duduk di balik kemudi. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam. Setelan linen abu kehijauan membalut tubuhnya dengan rapi. Sementara di sebelahnya, Isabel istrinya, duduk anggun dengan rambut pirangnya yang dibiarkan tergerai, ujungnya menari-nari diterpa angin dari jendela mobil yang terbuka separuh.
Tak ada percakapan di sepanjang perjalanan. Hanya deru mesin tua, suara roda menghantam bebatuan kecil, dan sesekali derik burung yang lewat di atas mereka. Keduanya diam, tapi tidak bisu. Ada luka yang terlalu dalam untuk bisa diungkap dengan kata. Dan ada perasaan yang terlalu rapuh untuk bisa dihadapkan pada kenyataan.
Perkebunan teh milik keluarga De Groot terbentang luas di hadapan mereka. Hamparan hijau yang begitu rapi, mengalir mengikuti lekuk tanah perbukitan. Para pekerja pribumi menyambut kedatangan mobil itu dengan anggukan sopan, beberapa menunduk rendah seraya meletakkan tangan di dada.
Albertus turun lebih dulu, mengecek laporan panen, menandatangani slip gaji, berbicara singkat dengan kepala pengelola. Wajahnya serius, penuh perhitungan. Sementara Isabel melangkah ringan ke arah para pekerja perempuan yang sedang memilah daun teh.
"Berapa banyak yang dipetik hari ini?" tanyanya dalam Bahasa Melayu yang cukup fasih.
"Kurang lebih empat karung, nyonya," jawab seorang perempuan paruh baya.
Isabel mengangguk. Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya, lalu berjalan ke arah gudang penyimpanan. Di sana ia berbicara dengan pengelola soal pasokan pupuk kandang, soal keranjang bambu yang sudah mulai rusak, dan soal waktu pengangkutan hasil panen ke pelabuhan.
Albertus memperhatikannya dari balik jendela kantor. Ia melihat sosok perempuan itu bergerak sigap, berbicara dengan percaya diri, mencatat dengan teliti. Dan untuk sesaat, ia melihat kembali bayangan masa kecil mereka, dua anak pebisnis Belanda yang selalu bersaing di ruang kelas.
"Ze is altijd slim geweest," (Dia memang selalu cerdas.) gumamnya lirih.
Pikiran itu tak ia sangkal. Isabel, meski menyimpan bisa ular dalam senyumnya, tetaplah sosok yang tajam. Dan mungkin, justru itu yang membuat Albertus dulu jatuh cinta padanya.
Perjalanan mereka berlanjut ke pabrik gula milik keluarga. Di sana, Isabel langsung meminta laporan bulanan. Ia duduk di meja besar dengan tumpukan kertas, membaca tiap angka dan mencermati kolom demi kolom.
"Maaf, ini tidak wajar," katanya tegas sambil menatap bendahara pabrik.
"Pengeluaran untuk pengangkutan melonjak lebih dari tiga kali lipat. Mana nota pendukungnya?"