Laman situs jual beli rumah yang ia kunjungi malam itu rupanya membawa ia pada sebuah ikatan pernikahan dengan wanita yang belum ia kenali sebelumnya. Mempertemukan ia dengan sosok Erinna- wanita mandiri yang sedang Wisnu cari.
Tidak tau pasti apa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
••
"Alasannya apa Mas?" untuk yang kesekian kali Erin menanyakan hal yang sama pada Wisnu atas ucapannya siang tadi di Perpustakaan Nasional.
"Kan udah saya bilang Erinna.."
"Tapi saya masih belum paham, kenapa tiba-tiba? padahal waktu itu Mas Wisnu bersikeras nyuruh saya untuk berhenti kerja."
Wisnu menghela napas pelan...
"Di kantor saya lagi butuh karyawan, terus apa? Ya saya mau rekrut kamu. Kenapa? Masalah?"
"Pasti bukan cuma itu alasannya, kalau Mas Wisnu butuh karyawan kan bisa buka rekrutmen pasti banyak kok yang ngelamar," sanggah Erin masih ingin penjelasan lebih.
"Oke oke gini.." Wisnu nampak menyiapkan diri untuk berbicara.
"Ga seharusnya saya ninggalin kamu sendirian di rumah kamu juga berhak buat ngerasa bebas dan berinteraksi sama temen-temen kamu. Saya ngerasa terlalu mengekang kamu selama ini."
Erin terdiam sebentar lalu menutup mulutnya menampakkan wajah kaget, "Mas Wisnu serius bilang kaya gini ke saya?!"
"Hum. Gimana? Jawaban saya sudah bikin kamu puas?"
"Udah sih tapi-" Erin memikirkan bagaimana bisa Wisnunya mengucapkan kalimat yang terdengar manis dan tulus seperti itu. Ah tapi tidak seharusnya Erin memusingkannya. Yang terpenting sekarang adalah ia dapat bekerja kembali.
"Sekarang kamu istirahat besok kita udah mulai kerja kan."
Erin tidak bisa menyembunyikan senyumnya ia menjadi tidak sabar menanti hari esok.
***
Ini seperti mimpi setelah beberapa bulan pemandangan yang ia lihat hanyalah rumah dan rumah kini Erinna dapat melihat dengan jelas suasana kantor yang sibuk dan penuh dengan tekanan. Ketika orang lain menghindarinya, Erin justru menyukainya.
Pertama kali datang Erin sudah disambut oleh beberapa pekerja yang lewat dan mengenali dirinya sebagai 'Bu Erin istri pak Wisnu' meskipun mereka memutuskan berpisah ketika di lobby tidak menjadikan pekerja lama untuk tidak mengenali Erin.
Erin jadi malu tujuan ia kesini untuk bekerja bukan untuk dikenali sebagai istri sang direktur. Saat Erin sampai di ruang divisi produksi di lantai empat ia langsung menemui Devan selaku kepala divisi tersebut dan menyapanya.
Devan sempat terkejut tetapi kemudian ia ingat perintah dari bossnya.
"Hm saya harus panggil? Bu Erin atau?" ucap Devan merasa canggung karena memang ia belum pernah berinteraksi secara langsung sebelumnya, kecuali pada acara pernikahannya waktu itu.
"Panggil aja Erin karena saya kan anak buahnya pak Devan sekarang ini," ucap Erin berusaha menghapus jarak kecanggungan setelah sekian lama tak banyak berinteraksi dengan orang lain selain suaminya sendiri.