Laman situs jual beli rumah yang ia kunjungi malam itu rupanya membawa ia pada sebuah ikatan pernikahan dengan wanita yang belum ia kenali sebelumnya. Mempertemukan ia dengan sosok Erinna- wanita mandiri yang sedang Wisnu cari.
Tidak tau pasti apa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
cekrek
cekrek
cekrek
Bunyi kamera serta lampu blitz masih memenuhi ruangan, di belakang kamera Erin begitu terpukau dengan kemampuan Morgen yang menurutnya semakin luar biasa. Saat pria itu telah menyelesaikan sesi photoshootnya Erin memberikan dua jempolnya yang dihadiahi senyum manis dari sang model.
"Luar biasa, kereeen!" puji Erin.
Lelaki itu tersipu malu, ini kali pertama Erin memujinya setelah sekian lama.
"Ini berkat kamu juga kok, makasih ya.."
Erin mengangguk, lalu menyodorkan air mineral botol untuk Morgen. Sesekali ia melirik pada orang diujung sana yang tengah memperhatikannya dengan tatapan yang hampir membunuh. Tidak tau pasti apa motifnya yang jelas Erin yakin pria itu tengah mengawasinya.
"Eh kamu pasti capek gak sih? duduk aja duduk." Pinta Erin kemudian mereka duduk bersebelahan.
Disana, Erin dapat melihat Wisnu juga tengah membenarkan posisi duduknya dengan tatapan yang masih tertuju padanya dan Morgen. Dari awal pemotretan berlangsung pria itu memang terus-terusan berada disana, menjadikan situasi ini kesempatan bagus untuk Erin.
"Gimana tadi pemotretannya? kamu seneng?"
"Wah seneng banget sih aku baru ini foto untuk produk kecantikan. Bagus gak ya hasilnya nanti?"
"Pasti baguslah, apalagi ini Morgen Nawantara si model papan atas yang sudah mulai berkancah di dunia perfilman!"
"Haha, apasih kamu Rin.."
Di ujung sana, Wisnu menatap keduanya yang tengah asyik bercengkrama dengan tatapan sinis.
"Eumm, Maaf pak" ucapan Isabel menginterupsinya.
"Sebentar lagi ada meeting, jadi sepertinya kita harus bergegas." Lanjutnya.
"Batalin." Jawab Wisnu dengan tegas.
"S-semua pak?" tanya isabel, terhitung hari ini ada tiga meeting yang harus Wisnu hadiri.
"Ya, saya mau fokus sama pemotretannya."
"Tapi pak- " Isabel berhenti bicara saat Wisnu memberikan tatapan yang menyeramkan. "B-baik pak."
Pemotretan akhirnya selesai, Erin segera mengemasi barang-barangnya untuk segera bergegas pulang. Tugasnya hari ini telah selesai dan ia harus siap datang lagi besok pagi untuk mengawal project shooting iklan. Saat hendak keluar, tangan Erin tiba-tiba ditarik membuatnya sedikit terkejut.
"Ayo pulang."
Erin segera melepaskan tangannya saat tahu yang barusan menarik tangannya adalah Wisnu.
"Apasih bikin kaget aja, ini juga kan mau pulang."