warn! 3k words! siapin tissu; last of chapter.
***
Malam telah menyelimuti, di balkon kamarnya, pikiran Morgen kembali berputar pada kejadian empat tahun lalu. Dan disaat-saat seperti ini ia merindukan Rose, sahabat sekaligus wanita yang pernah mengisi relung hatinya. Lintingan tembakau yang sedari tadi ia pegang hanya menjadi mainan, ia sudah benar-benar meninggalkan aktivitas merokoknya, tetapi disaat sedang dalam kondisi gelisah seperti ini ia ingin sekali kembali merasakan manisnya tembakau.
Kalau ia bisa memutar waktu, ia akan menolak tawaran project di LA waktu itu. Memilih tetap di Jakarta bersama Erin menemani gadis itu hingga akhirnya hidup bahagia selamanya tanpa Wisnu di dalamnya. Namun penyesalan hanyalah menjadi penyesalan. Kini ia harus berjalan ke depan menghadapi kenyataan.
Lelah hanya memainkan lintingan rokok itu, ia akhirnya membuangnya ke tempat sampah. Mau bagaimana pun ia sudah berhenti untuk tidak merokok lagi. Ia akhirnya keluar dan berjalan melewati tangga. Saat berada di anak tangga terakhir ia mendengar suara pecahan gelas dari dapur membuatnya langsung buru-buru melangkahkan kakinya kesana.
Morgen terkejut melihat Erin yang tengah kesakitan dengan darah menetes pada kakinya yang baru saja tertimpa pecahan gelas.
"Astaga Erin.." Morgen lantas menghampiri dan menyingkirkan pecahan gelas itu dari sekitar Erin. Dengan sigap ia langsung membantu Erin untuk berdiri dan mengobati lukanya.
"Maaf ya Gen.. gara-gara aku kamu jadi repot." Ucap Erin ditengah Morgen yang masih membalut kakinya dengan plester.
Morgen hanya diam. Pria itu khawatir apalagi ketika melihat mata Erin sembab setelah seharian tidak keluar dari kamar.
"Memang tadi kamu mau ngapain? kok bisa kejatuhan gelas gini?" tanya Morgen. Lukanya telah selesai ia obati.
"Entahlah kayaknya tadi aku ngelamun, tiba-tiba aja gelas yang aku pegang lepas gitu aja."
Morgen dapat melihat kegelisahan serta kesedihan dari raut wajah Erin. Kejadian siang tadi membuat Erin menangis seharian di kamar. Mau bertanya pun rasanya Morgen tidak sanggup, karena Erin pasti butuh ruang jadi ia biarkan hingga malam ini mereka baru bertemu.
Dengan perasaan yang berat, Morgen akhirnya berani menanyakan apa maksud ucapan Erin siang tadi pada Wisnu. Dan sungguh jawaban yang sudah menjadi dugaan Morgen sejak awal.
Erin terpaksa berbicara seperti itu hanya agar Wisnu percaya dan mau menceraikannya. Morgen tersenyum tipis, bukan karena senang melainkan miris sekaligus sedih. Erin memang sudah jauh berpaling. Mau lari sejauh apapun, Wisnu tetap selalu berada di depannya.
"Aku cuma gak ngerti kenapa kamu tetap mutusin buat pisah.. kalau kalian memang sudah saling cinta, harusnya gak ada alasan buat pisah cuma karena restu orang tuanya Wisnu" Morgen bertanya lagi.
Erin hanya diam. Rasanya memang sederhana tapi baginya terlalu rumit.. dan ia tidak bisa menjelaskannya pada siapapun.
"Kamu didesak? atau diancam seperti dulu?" pertanyaan itu membuat Erin menatap Morgen sebentar, "Iyakan? kamu gak akan ngelakuin ini kalau bukan karena dorongan seseorang, persis seperti aku sama kamu dulu."
Erin menelan ludah, ucapan Morgen benar. Kenapa ia bisa terjebak dalam situasi yang sama? rasanya lelah sekali menjalani hidup yang seperti ini.
"Siapa kali ini yang ancam kamu? mama Wisnu? ayahnya? atau siapa Rin?"
"Gak, gak ada yang ancam aku Gen."
"Jangan bohong Rin... aku kenal kamu"
"Gen udah ya, aku capek. Bukan berarti aku minta tolong kamu, kamu boleh ikut campur urusan aku." Ucap Erin dengan nada yang mulai meninggi membuat Morgen terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wisnu & Erinna
FanfictionLaman situs jual beli rumah yang ia kunjungi malam itu rupanya membawa ia pada sebuah ikatan pernikahan dengan wanita yang belum ia kenali sebelumnya. Mempertemukan ia dengan sosok Erinna- wanita mandiri yang sedang Wisnu cari. Tidak tau pasti apa...
