Hari terus berlalu. Sudah terhitung tiga bulan sejak hari dimana Erin memutuskan untuk mencabut gugatannya dan memilih untuk kembali dengan Wisnu, suami yang begitu ia cintai.
Erin lupa tepatnya kapan, tapi kehadiran Wisnu mampu membuatnya terus bertahan. Begitupun dengan Wisnu, kehadiran Erin di sampingnya bagaikan mampu merubah segalanya. Jika tanpa Erin dihidupnya, Wisnu tidak tahu akan seperti apa ia sekarang.
Erin kembali ke rumahnya, rumah yang begitu banyak kenangan dengan keluarganya. Dari Erin kecil hingga ia dewasa, dan dari semunya masih bersama hingga tersisa Erin sendiri.
"Kamu mikirin apa kok ngelamun?" Suara Wisnu membuat Erin yang tengah melamun di dekat jendela tersadar. Memandangi rintikan air hujan yang jatuh di luar sana.
"Mas Wisnu bikin kaget aja." Tanpa sadar tangan Wisnu sudah melingkar di pinggangnya, menopangkan dagunya pada bahu Erin.
"Lagian kamu bengong aja, mikirin apa sih? Wanita hamil ga boleh kebanyakan bengong loh!"
"Ya kan Mas yang bikin aku bengong kaya gini."
Alis Wisnu mengerut, meminta penjelasan.
"Oh jadi kamu lagi mikirin Mas dari tadi?"
"Ish bukan! Aku bingung mau ngapain, karena Mas udah siapin dua ART di rumah ini buat bersihin rumah dan masak, aku jadi bingung sekarang mau ngapain??" Ujar Erin yang membuat Wisnu tersenyum geli.
"Oh karena itu, bukannya bagus ya? Kan kamu jadi ga perlu repot- repot bersihin rumah dan masak buat Mas."
Ya, kalau itu dulu dilakukan oleh Wisnu mungkin Erin akan senang karena ia masih ada kesibukan untuk bekerja. Sekarang Erin sudah total berada di rumah, Wisnu tidak mengizinkannya untuk kembali bekerja, apalagi kondisinya ia tengah hamil muda.
"Mas gak mau kamu capek, karena Mas tau selagi kerja dulu kamu bisa handle semuanya sendirian. Apalagi sekarang udah gak kerja, kamu akan sibuk dengan kegiatan bersih - bersih rumah kamu itu, apalagi sekarang kamu lagi hamil. Mas gak akan kasih kamu izin untuk sentuh pekerjaan rumah sedikitpun."
"Ya tapi bukan berarti wanita hamil gak boleh ngapa-ngapain loh Mas. Aku juga mau sesekali bantu Mba Sum di dapur atau paling ngga beresin kamar aku sendiri."
"No no ya Erinna, kan Mas udah bilang, lagian kamu juga udah Mas daftarin kelas yoga. Kamu bisa yoga, nonton tv, rangkai bunga. Apapun asal jangan sentuh pekerjaan rumah. Ya? Cukup dulu aja, Mas terlalu tega membiarkan kamu urus rumah sendirian."
Erin membalikkan badannya, menatap suaminya dengan penuh cinta, "Makasih ya suamiku."
Terbang, rasanya Wisnu terbang ke angkasa mendengar kata suamiku dari bibir istri cantiknya.
"Jangan tinggalin Mas lagi ya Rin.." kalimat itu Wisnu ucapkan dengan sadar, dengan segala trauma ditinggal Erin dulu rasanya Wisnu tidak sanggup kalau harus merasakan seperti dulu lagi.
Erik mengelus pipi suaminya, "Nggak Mas, apapun yang terjadi aku sama kamu."
Kalimat itu sudah cukup membuat hati Wisnu tenang, "Meskipun sekarang Mas cuma karyawan biasa dan bukan direktur seperti dulu lagi, kamu tetap sama Mas kan?"
Erin tersenyum, "Mas.. mau kamu cuma karyawan biasa sekarang, aku gapapa. Yang penting kamu tetap jadi suami yang bertanggung jawab dan memperlakukan aku dengan baik, itu udah cukup."
Rasanya Wisnu ingin berterima kasih kepada Tuhan berkali-kali karena sudah menakdirkan Erin di hidupnya.
"Maaf dulu Mas gak memperlakukan kamu dengan baik ya Rin.. Mas suka merintah, suka bikin kamu kesel. Mas cuma gak tau gimana cara ungkapin perasaan Mas ke kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Wisnu & Erinna
FanfictionLaman situs jual beli rumah yang ia kunjungi malam itu rupanya membawa ia pada sebuah ikatan pernikahan dengan wanita yang belum ia kenali sebelumnya. Mempertemukan ia dengan sosok Erinna- wanita mandiri yang sedang Wisnu cari. Tidak tau pasti apa...
