28; when distance fades

394 42 6
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.


Erin menatap layar ponselnya dengan gusar, sudah dua hari setelah obrolan malam itu dengan Wisnu, ia tidak mendapat kabar lagi dari suaminya. Nasi sudah menjadi bubur, Erin yakin Wisnu sedang marah karena ia sempat menyebutkan nama Morgen pada obrolan mereka waktu itu dan juga sepatu yang ia terima. Sepatu yang Erin kira hadiah dari suaminya, ternyata dari Morgen. Maka dari itu sekarang ia tengah menunggu kehadiran Morgen di salah satu coffee shop untuk meluruskan semuanya.

Morgen datang, dengan outfit serba hitam serta topi yang menutup kepalanya. Erin baru ingat sekarang ia sudah mulai banyak dikenal masyarakat luas, tidak heran penampilannya serba tertutup dan tidak mencolok. Pria itu tersenyum kecil lalu mengambil tempat duduk di kursi depan Erin.

"Apa kabar Rin?" pertanyaan basa-basi itu Erin jawab disertai anggukan "Baik."

Tanpa banyak basa-basi lagi, Erin langsung menyodorkan paper bag coklat kepada Morgen.

Morgen melihat isinya dan terdiam sebentar, "Kenapa dibalikin?"

"Maaf ya Gen, bukan aku nolak kebaikan kamu tapi aku rasa aku gak perlu nerima apa-apa lagi deh dari kamu."

Morgen tersenyum kecut, "Alasannya? ini kan cuma hadiah."

"Aku gak mau ada salah paham aja, kamu kan tahu.."

"Karena Wisnu?" Morgen memotong.

"Aku udah izin sama dia, dia bilang gapapa kok, hadiah ini juga karena kamu udah bantu aku selama ngejalanin project bareng."

Dahi Erin mengeryit.. "Mas Wisnu bilang gitu?" Morgen mengangguk sembari mendorong pelan paper bag itu kepada Erin.

"Terima ya Rin, aku bakal seneng kalau kamu mau terima ini."

Erin jadi bingung, jika Wisnu sudah mengizinkannya kenapa ia tidak bilang dari awal? dan apa alasan pria itu tidak memberikan kabar? membuat Erin khawatir setengah mati.

"Mumpung kita lagi disini, aku mau tanya sesuatu boleh?" Morgen angkat bicara.

"Tanya apa?"

Awalnya Morgen ragu mengatakannya tapi akhirnya ia beranikan diri bertanya tentang Erin, Wisnu dan pernikahan mereka atas jual beli rumah.

"Kamu sudah serius menjalani ini ya Rin? Gak ada keputusan lain yang akan kamu ambil nantinya?"

"Maksud kamu?"

"Aku cuma takut kamu gak bahagia nantinya, karena kamu melakukan ini ketika sedang terdesak. Kamu bohongin diri kamu sendiri, adik kamu, ibu, dan orang tua Wisnu. Kamu yakin gak mau memperbaiki ini semua sebelum terlambat Rin?"

Dahi Erin mengeryit, raut wajahnya berubah, "Justru sekarang aku sedang memperbaiki hubungan aku sama Mas Wisnu, aku yakin semua akan baik-baik aja kok."

Wisnu & ErinnaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang