Hanan
Hari pertama gue ngegabut di rumah setelah selesai dengan dunia perkuliahan. Istirahat bentar lah ya, buat narik napas sebelum kembali ke dunia yang enggak terlalu ramah ini. Enggak banyak aktivitas yang gue lakuin di rumah, cuman luntang-lantung sambil recokin Ibu yang lagi bikin kue.
Ibu emang suka eksperimen banget orangnya. Semua hal dicoba. Ini jadi eksperimen kue yang keempat kalinya setelah tiga kali gagal. Semoga hari ini gak gagal biar gue enggak perlu ngerasa jadi tumbal.
"Hanan, bisa diem gak sih? Ibu stres lihat kamu jalan-jalan muterin rumah sepuluh kali." Ibu akhirnya menegur gue dan menghentikan kegiatannya. Seganggu itu ya gue ternyata. Padahal gue rasa enggak nyampe sepuluh kali deh gue lewat di depan Ibu. "Yaudah, Hanan muterin teras aja."
"Gih sana. Ibu kunci pintunya biar kamu gak bisa masuk sekalian." Gue cuman ketawa aja dan mendudukan diri gue di sofa ruang keluarga. Sambil terus mencari film yang pas buat gue tonton sekalian menunggu Ibu selesai dengan kuenya.
Rumah milik Bapak sama Ibu ini enggak sebesar rumah Jo, bahkan kalau dibandingkan sama rumah Zora yang dia isi sendiri pun kayaknya besaran rumahnya. Rumah ini sebatas cukup buat dihuni Bapak, Ibu dan gue. Cukup buat Bapak yang suka ngoprek mobil di garasi, cukup buat Ibu yang suka ngurusin tanaman di halaman depan rumah, cukup buat Ibu yang suka melihara ikan di kolam ikan yang berada di sisi kaca, cukup buat ibu yang suka eksperimen di dapur, dan cukup buat gue muter-muter rumah dan pindah-pindah tempat rebahan.
Rumah yang enggak terlalu besar, tapi benar-benar seperti rumah. Rumah yang selalu jadi tempat gue kembali. Bukan hanya karena tempatnya, tapi karena manusia di dalamnya.
"Lanang Ibu, cobain deh. Enak gak?" Ibu datang sambil membawa bolu pisang yang dibuatnya tadi. Kalau dari tampilan sih bagus ya, enggak ada yang perlu dicurigakan. Satu-satunya yang perlu dicurigai sekarang cuman rasanya.
Gue mengambil satu potong dan menggigitnya. Gue menatap Ibu dengan lembut. "Gak enak ya? Gak usah dimakan deh, Ibu buang aja ya?" Ibu langsung mengangkat piringnya dan hendak bangkit dari duduknya.
"Enak Bu, berhasil nih akhirnya." Gue menahan pergerakan Ibu hingga Ibu kembali duduk di sofa, dan berakhir dengan Ibu yang langsung memukuli lengan gue. Pelan sih, cuman kerasa gregetnya. "Hampir aja Ibu jual mixer kalau kali ini gak enak lagi." Ibu ikut mengambil satu bolu pisang dan memakannya.
"Ih bener enak loh Han, Ibu bisa jual kue nih habis ini."
"Gak Bu, jangan. Kalau enaknya terus-terusan gapapa, takutnya besok udah berrubah rasanya nanti malah repot." Ibu kembali memukul lengan gue, kali ini lumayan keras sampe gue merasa panas di bekas pukulannya. "Besok-besok kamu gak Ibu kasih bagian, mau Ibu kasih ke Zora aja."
"Anaknya kan Hanan? Kok jadi buat Zora."
"Kalau bisa tuker juga Ibu mau nuker kamu sama Zora."
"Emang hadiah dererjen bisa dituker-tuker gitu."
"Mending juga hadiah deterjen dibanding sama kamu mah, lumayan piring cantik."
Udah deh, diem aja gue kalau udah gini. Gak akan menang juga, yang ada malah makin diejek sama yang mulia Ibunda Ratu. Gue dan Ibu asik makanin bolu sambil nonton drama korea yang gue pilih. Kalau gabut gini gue emang senengnya nonton, apapun itu. Mau drama korea, film hollywood, film bollywood, series indonesia, sampe ke FTV juga bisa aja gue tonton. Segabut ini anaknya.
"Han, kok gak cerita sih udah ada gantinya Kiana?" Ibu kayaknya mulai buka sesi curhat yang kadang ganti konsep di tengah jalan jadi sesi gibah. "Gapapa, biar surprise." Boro-boro surprise, kenal aja baru akhir Mei kemarin. Maaf ya Bu, anaknya bohong dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
92 Almost Forever
Ficción General"Kalau akhirnya lo yang jatuh lebih dulu, lo harus pergi sejauh-jauhnya dari hidup gue." "Deal." Hanan, seorang asisten dosen di salah satu prodi sekolah vokasi ternama yang hidupnya hanya berjalan sesuai dengan target yang telah dia buat. Terkesa...
