Hanan
Malam ini gue berjalan tergesa-gesa ke salah satu rumah sakit yang letaknya enggak jauh dari 247. Gue enggak tau apa yang terjadi, pikiran gue kosong. Gue enggak bisa membayangkan apapun itu.
Gue menghampiri kerumunan orang yang salah satunya gue kenal dengan baik. Semua orang di sini enggak kalah paniknya dengan gue. Mereka diam dengan tatapan penuh kekhawatiran. Enggak ada obrolan selain mereka yang sibuk merapalkan doa.
"Yon, ada apa lagi?" Gue langsung menarik Dion untuk menghadap ke arah gue, untuk menjawab pertanyaan gue. Pening dari minuman beralkohol yang gue minum tadi belum juga hilang, tapi kesadaran gue seperti ditarik seutuhnya setelah mendengar kabar mengagetkan dari sambungan telepon.
"Kecelakaan lagi, Han." Dion lesu. Tatapan putus asanya terlihat jelas. Ada banyak kekhawatiran yang terpancar dari sana.
"Sadar kan? Ringan aja kayak kecelakaan kemarin kan?"
Dion diam. Dia enggak menjawab pertanyaan gue. Hanya menatap gue masih dengan tatapan putus asanya.
"Kenapa? Jawab pertanyaan gue, anjir."
Dia menggelengkan kepalanya. Apa maksud dari gelengannya? Zora kenapa di dalam sana? Apa yang baru menimpanya? Dia kenapa ya Tuhan?
"Doain yang terbaik, Han. Gue enggak tau seberapa parahnya kejadian dia, gue juga enggak tau seberapa parah lukanya. Doain aja yang terbaik."
Jawabannya enggak memuaskan. Dia enggak menjawab kenapanya, padahal gue butuh sebuah penjelasan. Seenggaknya dengan penjelasan gue bisa mengira-ngira seberapa parah luka yang menimpanya.
"Mending lo duduk. Efek alkohol lo belum hilang." Dion mendudukan gue secara paksa dan memberi sebotol air putih yang langsung gue teguk sampai habis. Gue juga enggak bisa mengelak karena pusing dari alkohol yang gue minum masih terasa.
Gue diam sambil sibuk berdoa. Gue hanya minta keselamatannya. Bagaimanapun dirinya nanti, gue hanya ingin dia tetap selamat dan bertahan untuk terus hidup di dunia yang sama dengan gue.
Tuhan, jangan dulu ambil nyawanya. Dia belum menikmati waktu dengan ayahnya, dia belum melihat Dion kuliah seperti keinginannya, dia belum bertemu dengan gue bahkan pesan balasan gue belum dia baca. Ada banyak hal yang masih ingin dia capai, jangan ambil dia secara paksa dan setiba-tiba ini.
Izinkan gue dan orang-orang di sekitarnya untuk mempersiapkan diri. Seenggaknya, beri kesempatan untuk berbicara, melihat kondisinya dan bertemu meski untuk yang terakhir.
Di tengah lamunan gue, gue merasa seseorang duduk di samping kiri gue. Seorang laki-laki yang sepertinya lebih tua dari gue atau seumuran dengan gue. Dia memakai celana bahan yang udah sangat kusut. Ada bekas darah di tangannya yang belum dia bersihkan.
"Pacarnya Zora ya?" Gue tebak, dia seseorang yang ada di tempat yang sama saat Zora kecelakaan. Dan mungkin dia yang membawa Zora ke sini.
"Iya." Semoga gue enggak mendapat pukulan saat Zora sadar nanti karena masih mengaku sebagai pacarnya. Gapapa deh kalaupun dapat pukulan, artinya dia udah sadar sepenuhnya. Gapapa gue dipukulin asal langsung oleh tangannya.
"Mobilnya tergelincir karena tumpahan oli yang hampir menutupi semua bagian lintasan. Kecelakaannya jauh lebih parah dari kecelakaannya sebelumnya."
"Seberapa parah?"
"Mobilnya terbakar karena ada kongslet dari kecelakaannya dan mungkin karena ada hal yang terlewat saat perbaikan kemarin."
"Dia gimana?"
"Syukurnya dia enggak kena luka bakar, tapi keadaannya enggak dalam keadaan yang baik. Padahal dia udah janji sama gue buat enggak kenapa-napa."
Gue menghela napas dengan sedikit berat. Ini jelas bukan hal yang mudah. Melihat orang yang lo sayang sedang berjuang di dalam sana tanpa lo tau gimana keadaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
92 Almost Forever
Fiksi Umum"Kalau akhirnya lo yang jatuh lebih dulu, lo harus pergi sejauh-jauhnya dari hidup gue." "Deal." Hanan, seorang asisten dosen di salah satu prodi sekolah vokasi ternama yang hidupnya hanya berjalan sesuai dengan target yang telah dia buat. Terkesa...
