Hanan
01 Juni 2023.
Gue melangkahkan kaki mendekati pusaran yang menjadi tempat tujuan gue. Tempat perempuan cantik gue beristirahat untuk selamanya.
"Hallo, cantik. Apa kabar?" Gue menaruh buket bunga lily dan tulip di atas pusarannya. Bunga yang sama dengan yang gue beri padanya saat makan malam di hari wisuda gue.
"Gimana di atas sana? Bahagia? Senyum terus kan?" Gue membersihkan beberapa daun kering yang ada di pusarannya. Enggak mau daun-daun itu mengotori perempuannya gue.
"Hari ini satu tahun setelah kita resmi pacaran. Bohongan sih, tapi perasaannya beneran." Gue menatap ke arah pusaran seperti menatap matanya saat dia masih ada di hadapan gue dulu.
"Hampir satu tahun kamu pergi, harusnya bisa mudah buat aku ikhlas akan kepergian kamu yang semendadak itu. Apalagi kalau ingat, aku gak boleh jatuh hati sama kamu."
"Tapi enggak pernah semudah itu, Ra. Kamu terlalu membekas buat aku, meski hadirmu sebentar."
"Ra, ternyata ada banyak kata terakhir yang kamu bilang sama aku di Samarinda kemarin. Bodoh ya aku? Enggak tau kalau terakhir yang kamu sebut itu beneran kali terakhir aku bisa sama kamu."
"Samarinda akan punya tempat tersendiri buat aku, Ra."
"Kamu, cantik banget selama di sana. Senyum kamu lepas, kamu bahagia banget di sana."
"Ayah sekarang pindah ke Samarinda. Aku masih terus kontakan sama ayah. Dia enggak sedih berkepanjangan kok, mungkin malah lebih panjangan aku periode sedihnya."
"Dion udah kuliah, Ra. Dia kuliah di sini, sesuai sama permintaan kamu. Dia mau nemenin kamu di sini, enggak mau pergi jauh-jauh dari kamu."
"Cio bawa mobil kamu buat diperbaiki sama dia. Dia bawa mobil kamu buat dia kenang kamu."
"Jujur, aku enggak berani liat mobil kamu, Ra. Aku gak berani ngebayangin gimana keadaan kamu di dalam mobil itu."
"Malam itu jadi malam terpanjang buat aku. Malam yang enggak berganti jadi pagi. Rasanya selalu kelam, selalu sunyi. Bahkan saat siang hari."
"Malam itu, jadi malam yang paling ditakuti sama semua orang yang kamu sayang, Ra."
Enggak peduli gue di tatap aneh oleh orang-orang sekitar. Gue cuman ingin bercerita dengan perempuan gue, sama seperti saat dia masih ada di hadapan gue sedang mendengarkan penjelasan-penjelasan gue tentang materi yang dia enggak mengerti, dan mendengarkan gue tentang cerita-cerita gue yang kadang enggak penting itu.
"Harusnya kamu udah mulai nyiapin tugas akhir kamu biar kamu bisa wisuda tahun ini. Bu Yusi sedih banget pas denger kabar kamu."
Gue mengusap nisannya pelan. Menghilangkan debu yang ada di keramik berwarna hitam. Enggak mau ada hal yang mengotori tempat istirahat perempuan gue.
"Tanaman di rumah kamu masih aku tata rapih, besi penyangga kanopinya masih rutin aku cat biar enggak cepet keropos, rumput liarnya juga rutin aku pangkas biar enggak ganggu rumput gajahnya. Kamu pasti makin jadi anak rumahan kalau lihat rumah kamu sekarang."
"Ibu kangen tuh. Harusnya kamu sempet nyobain bolu ibu, sekali aja. Pasti ibu seneng. Bapak juga sering main ke sini sama aku, katanya biar rasa kangen kamu ke ayah yang jauh bisa disalurkan dari bapak."
Ada sesak yang tiba-tiba gue rasa. Ini kali pertama gue sesesak ini saat menyapanya. Kali pertama setelah malam itu, malam saat gue mendengar kabar terburuk tentangnya.
"Ra, aku udah nepatin janji buat enggak nangis saat pisah sama kamu. Bahkan saat pisah dunia sama kamu pun aku enggak nangis. Ternyata sesak ya, Ra? Sesak saat liat kamu terkubur di bawah sana. Sesak saat mendengar semua orang meronta memanggil nama kamu untuk kembali saat kamu udah tertidur dengan nyenyaknya. Aku boleh nangis sekarang kan? Kan udah lama pisah sama kamunya."
Air mata gue jatuh secara perlahan. Air mata yang udah gue tahan selama hampir satu tahun. Akhirnya dia jatuh di atas pusaran perempuannya.
"Ra, kamu dulu yang bilang panggilan aku-kamu lucu kan? Sekarang aku pake panggilan ini ke kamu. Masih lucu gak? Masih dong, kan aku yang pake."
Gue semakin rindu dengan dirinya. Rindu dengan tatapan sinisnya, rindu dengan protes galaknya, rindu dengan semua yang ada di dirinya. Yang buat gue semakin sakit karena enggak akan melihat hal itu lagi selamanya.
"Ra, aku masih suka jajan soto di tempat langganan kamu. Rasanya jadi hambar, kayaknya gara-gara gak ada kamu ya?"
Kalau aja ada Zora saat gue bilang gini, pasti lengan gue udah dipukul sama dia. Geli katanya. Gue enggak pernah bisa ngegombal untuknya karena dia anti gombal-gombalan. Gue enggak pantes ngegombal katanya.
"Ra, siapa yang jatuh lebih dulu di sini? Kenapa malah kamu yang pergi dari hidup aku sejauh ini?"
Kalaupun lo yang jatuh lebih dulu, gue akan tetap pergi jauh dari lo dengan alasan lo tetap berada di dunia yang sama dengan gue. Hadir lo berharga buat gue, Ra.
"Ra, pamit ya? Cantiknya Hanan, makasih udah pernah hadir meski singkat. Ra, aku harus jalanin hidup aku lagi. Bantu aku dari atas sana ya? Terus bahagia di atas sana, jangan berhenti tersenyum ya, cantiknya Hanan."
"Ra, aku sayang kamu, selalu."
Gue bangkit dengan meninggalkan senyuman singkat. Berjalan perlahan meninggalkan perempuan yang gue sayang. Meninggalkan tempat beristirahat miliknya.
Gue harus terus menghadapi hidup gue. Hidupnya telah selesai. Cerita-ceritanya enggak bisa bertambah. Usianya udah berhenti. Berbeda dengan gue. Hidup gue masih berlanjut, cerita gue akan terus bertambah, usia gue masih berjalan. Sama dengan perasaan gue untuknya yang masih terus hidup hingga saat ini.
Akan selalu ada namanya di diri gue, akan selalu ada dirinya di ingatan gue, akan selalu ada tawanya di telinga gue, akan selalu ada senyumnya di mata gue, akan selalu ada hangat peluknya di tubuh gue.
Zora Nyran Zaylee, you're gonna live forever in me.
END
□ □ □
Yeay! Akhirnya sampai diujung cerita dari Hanan–Zora. Makasyii yaa yang udah baca dari awal sampai akhir, udah ikut ke ceritanya Hanan–Zora.
Mungkin cerita ini masih banyak kurangnya, tapi semoga ada lebih yang bisa membuat kalian nyaman dan seneng baca cerita ini ya hihihi. Maaf banget kemarin aku sempet nunda cerita ini lamaaakkk banget:( tapi akhirnya cerita ini bener-bener sampai di titik akhir.
Seneng karena bisa menyelesaikan cerita ini, sedih karena harus berpisah sama Hanan–Zora:(
Oiyaaaa, masih ada sedikit cerita tentang Hanan–Zora yang mungkin bisa kalian baca. Ada di akun twitter aku yaa yang ada di bio, atau bisa ke link ini:
https://twitter.com/awanconvo/status/1613906036116840450?t=lWC0EY8LH9Nnp2XV4Xitjw&s=19
Enjoy and thank you<3
With love, Aya.
See you di kisah selanjutnya yaaa!!♡
KAMU SEDANG MEMBACA
92 Almost Forever
Fiksi Umum"Kalau akhirnya lo yang jatuh lebih dulu, lo harus pergi sejauh-jauhnya dari hidup gue." "Deal." Hanan, seorang asisten dosen di salah satu prodi sekolah vokasi ternama yang hidupnya hanya berjalan sesuai dengan target yang telah dia buat. Terkesa...
