4. Para Suami Tampan

31.4K 1K 22
                                        

Seorang wanita berumur 24 tahun berjalan di sebuah pusat perbelanjaan di sebuah toko kecantikan dengan mengunakan dress coklat muda motif bunga selutut.

Sederhana yang mahal. Orang awam akan menganggapnya itu hanyalah dress platform online shop. Sekitarnya bahkan tahu aroma parfum yang wanita itu gunakan, elegan, bunga-bunga lembut dan sedikit manis dan segar citrus.

Ditemani bodyguard dibelakangnya dia berjalan, memilih-milih berbagai macam produk kecantikan dari serum wajah hingga perlengkapan mandi. Menggenggam keranjang pada salah satu tangannya.

"Mhm ... istrinya Darren suka apa ya? Aku 'kan belum pernah bertemu dia." katanya berpikir. Memandang satu-persatu produk kecantikan import dalam rak.

Dia memanggil staff. Kesukaan istri sahabat suami pastilah tidak jauh berbeda. Menikah dengan Darren adalah benang kehidupan emas penuh kemewahan. Istri Darren pasti terbiasa dengan hal-hal seperti itu juga. Mengingat usia Darren sendiri, istrinya pastilah berumur tidak jauh dengannya.

Pandai-pandai membeli hadiah. Wanita itu punya sesuatu yang dia bawa langsung dari Belanda. Sisa hadiah yang lain hanya bentuk kesopanan dan ketulusan sebagai tamu dan sahabat lama Darren.

***

"Gua jadi nostalgia sama tempat ini. Hebat lu beli tempat ini sebelum punah ya," kata Gaston sambil mengangkat gelas anggur nya.

Darren tersenyum bangga. "Gua masih ingin memiliki tempat ini tanpa ada gangguan, jadi gua beli tempat ini, kalau lagi bosen kerja."

"Haduh ... sebosen-bosen nya kerja gua juga kali, siapa yang enggak bosen bulak-balik negara hingga kota cuma buat bisnis. Untung istri gua enggak ngomel dibawa ke sana kemari." Darren hanya bergumam.

Kedua pria itu menatap keindahan pantai dari atas balkon sebuah villa milik Darren—keluarga Amero. Mereka duduk di meja melingkar, ada dua kursi yang masih kosong. Yaitu milik para istri.

Gaston menarik nafas dalam, lalu menghela nafasnya. Ia sangat rindu dengan udara kota Jakarta, sudah beberapa tahun dia tinggal di Belanda dan Jakarta tidak banyak berubah.

Didalam keheningan mereka yang diiringi suara musik jaz, tiba-tiba seorang wanita melangkah menuju balkon dimana para pria itu berada, sambil menggenggam dua paper bag.

"Hai semua!!" Sapa wanita ber-dress bunga, membuat kedua pria itu menoleh kompak.

Gaston tersenyum hangat, istrinya itu memeluk Gaston sambil mencium bibir pria itu sesaat. "Hey, Darren, lama tidak bertemu. Nice too meet you," ucap wanita itu tersenyum ramah.

Darren tersenyum, "Hey," katanya bertos dengan wanita itu.

Seorang pramusaji datang, lalu menuangkan anggur ke gelas dihadapan istri Gaston. "Udah lama kita gak kumpul-kumpul gini. Mumpung Gaston lagi free jadi kita balik ke indo deh, thanks ya buat sambutan hangatnya."

"Tenang aja. Mudah kok ini."

"Sebenarnya aku masih betah di Belanda. Cuma karena denger kamu sudah punya istri, jadi aku tertarik ikut deh, pengen tahu cewek mana yang kamu pilih. Sekarang, dimana istrimu itu?" tanya wanita itu menyapu pandangan ke seluruh balkon yang cukup luas.

Darren meletakan gelas anggurnya, "Dia lagi bersiap. Sebentar lagi juga dateng," ucapnya membuat kedua sahabatnya mengangguk mengerti.

"Jadi seperti apa dia? Namanya siapa? Dia berasal darimana?" tanya istri Gaston bertubi-tubi.

"Dia masih sangat muda, mahasiswi di Universitas Pelita Harapan. Dia anak dari pengusaha lokal. Kita baru lima bulan menikah dan urusan nama, nanti kita lihat sendiri."

Hai Om! Husband?! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang