11. Cinderella Dari Solokan

21.4K 856 31
                                        

Ansa sebenarnya tidak mau sekolah, sudah tiga hari Martha dirawat dirumah sakit. Nafasnya masih harus dibantu oksigen karena ia mengalami sesak nafas sejenak. Sebenarnya Martha sudah boleh dibawa pulang dihari ketiga, namun Gaston yang posesif terus meminta Martha agar terus tinggal dirumah sakit sampai stamina wanitanya benar-benar kembali. Dan Darren tidak masalah karena itu, toh dia dan Ansa jadi bisa lebih leluasa di pagi hari saat berangkat atau pulang dari sekolah.

Walau Ansa masih merasa bersalah, Darren selalu menghiburnya dan mengatakan, 'Semua akan baik-baik saja,' karena itu disinilah dia-Dikelas yang berisik saat Bu Dhira si wali kelas masuk sambil membawa sebuah aquarium berisi gulungan kertas misterius. Disekolah Ansa bahkan harus bertingkah seolah tidak terjadi apapun untuk menutupi rasa bersalahnya.

Seorang wanita berumur 27 tahun berjalan didepan kelas membagikan selembaran kertas yang dibawanya. "Oke anak-anak dengar.. Pentas seni akan segera diselenggarakan satu minggu dari sekarang, sebagai bagian dari pentas seni saya sudah memilih tampilan apa yang akan kelas kita mainkan. Sekarang kalian baca sendiri naskah nya," ujar bu Dhira disela-sela kegiatannya.

"Semua mengerti?"

"Iyaaa." jawab para murid dikelas mendapatkan masing-masing naskahnya.

Ansa mengerutkan kening membaca Naskah drama yang ia dapatkan. "Cinderella?"

"Yah ... ini mah udah biasa, bu!" sahut seorang gadis dikelas.

"Basi bu basi!"

Ketua kelas bangkit, "Bu emang gak ada drama lain gitu? Yang lebih gak pasaran?" gurau cowok berkacamata.

Kedua bahu Dhira mengangkat, "Ya mana saya tahu. Sekolah cuma mengizinkan drama yang ringan untuk ditampilkan," ucapnya membuat seluruh murid bersorak kecewa.

"Udah udah. Semua dengarkan. Sekarang kita akan memilih tugas yang akan kalian dapatkan nanti, ada yang menjadi karakter dalam cerita ada menjadi bagian properti, musik, kostum, dan sebagainya. Jadi enggak ada satu orangpun yang enggak kerja, semua harus bekerja!" Dhira berjalan mengambil sebuah akuarium bulat yang sudah berisi gulungan kertas. "Oke, kalau gitu mari kita lakukan undian." Nanti setiap murid satu persatu maju kedepan untuk mengambil kertas itu.

"Baik kita mulai dari barisan kiri dulu." Satu murid maju lalu disusul murid berikutnya.

Ansa menghela nafas tidak peduli karena giliran dia masih lama, Rabea tiba-tiba menepuk lengannya membuat gadis itu menoleh.

"Lo mau masuk karakter atau jadi tim kreator?" tanya Rabea menaikan kedua alisnya.

Bahu Ansa terangkat acuh. "Gue sih berharap jadi tim kreator aja biar nggak usah tampil dipanggung, sekali manggung mahal soalnya. Gue kan artis papan atas,"

"Najis!" timpal Rabea menoyorkan kepala Ansa.

Gadis itu terkekeh, "Enggak sih. Gue malas aja menghafal naskah, behh ribet." ujar Ansa membuat Rabea mengangguk paham.

"Tapi ya gue pengen jadi Ibu tiri deh, biar gue bisa siksa siapapun yang jadi cinderella." Tawa jahat Rabea di akhir kalimat membuat Ansa bergidik.

"Dasar antagonis!" Ansa menimpali.

"Selanjutnya!" panggil Bu Dhira, sekarang adalah giliran Ansa. Ia menarik kursi lalu melangkah kedepan kelas.
Tangannya terulur mengambil satu gulungan kertas di aquarium.

Bu Dhira menatap sorot mata Ansa, "Eits, jangan dibuka dulu!" sergah wanita itu ketika melihat Ansa yang akan membuka gulungan kertas yang digenggamnya.

Gadis itu berdecak, "Iyiyaa.." ucap dia malas sebelum kembali kekursi. Lalu Rabea yang gantian maju kedepan dilanjut murid-murid yang lain.

"Oke karena semua sudah kebagian kertas nya. Kalian boleh buka bareng-bareng, dari... Sekarang!"

Hai Om! Husband?! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang