I.VIII. Utusan

193 22 8
                                        

"Sampai saat ini kekuatan Putri Laquiana belum juga muncul. Berapa lama lagi kita harus menunggu untuk hal itu? Apa kita harus menunda pergantian pemimpin ini sampai Putri Laquiana mendapatkan kekuatannya? Bagaimana jika hal itu tidak terjadi?"

Laquiana yang baru sampai di dekat pintu ruang singgasana tidak sengaja mendengar perbincangan yang sedang berlangsung di dalam sana. Tujuannya datang sebenarnya untuk mengetahui siapa utusan yang akan pergi ke Kerajaan Crystallion demi memenuhi permintaan dari Raja Logreo yang akan mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah penyerangan Dark Elves.

Perbincangan yang sudah dimulai lebih cepat ternyata menyebutkan dirinya sebagai salah satu topik. Apalagi topik yang dibahas adalah perihal kekurangannya. Mungkin jika orang lain yang berbicara akan berbeda rasanya, tapi kenyataannya yang berbicara seperti itu adalah Raja Throny, ayahnya sendiri.

Lutut Laquiana terasa lemas seketika, dia tak mampu melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam sana. Jantungnya berdetak cepat karena perasaan yang campur aduk. Dia merasa sedih, marah, dan kecewa. Kekurangannya menjadi ketakutan terbesar bagi kedua orang tuanya. Walaupun Laquiana sudah berusaha keras dan menonjolkan kelebihannya yang lain, namun kekurangan itu bagai sebuah lubang hitam besar yang tak akan pernah bisa ditutupi dengan apa pun.

"Sebab itu, keputusan untuk menjadikan Pangeran Xeron sebagai kandidat kedua sudah mutlak. Bahkan kemungkinan Pangeran Xeron terpilih lebih besar. Jadi kalian harus bisa menerima itu," ucap salah satu petinggi kerajaan yang ikut menambahkan.

Laquiana dibuat terperangah mendengar hal itu. Semakin lama dia berdiam diri di sana, semakin banyak juga nama Xeron disebut hingga diagung-agungkan. Berbeda ketika namanya disebut, keraguan besar terdengar jelas olehnya. Tanpa sengaja, Laquiana jadi tahu pandangan orang-orang terhadapnya selama ini. Walaupun sudah dia duga, tetapi tetap saja dia merasa sakit saat mendengarnya langsung.

Tak kuat berlama-lama lagi di sana, Laquiana pun beranjak pergi. Dia memanggil hippocampusnya untuk datang. Dia ingin kuda laut raksasanya itu membawanya pergi menuju ke permukaan agar dia bisa menjauhkan diri dari sumber kekesalan.

Sampai di permukaan, Laquiana kembali berada di dalam istana bagian atas. Dia segera pergi dengan berlari keluar menuju halaman belakang istana. Menarik sebilah pedang dan menyambit angin kosong. Melampiaskan segala perasaan yang bercampur aduk dalam dirinya, berteriak getir.

Laquiana jatuh terduduk dan langsung menelungkupkan wajahnya. Menahan cairan bening di matanya agar tidak lolos membanjiri pipi.

"Mau berduel?" Terdengar suara seorang pemuda di hadapan Laquiana.

Mendengar suara familiar ini, hatinya kembali bergemuruh. Wajar saja dia merasa kesal mendengar pembicaraan di ruang tahta tadi. Tetapi dia juga tidak boleh sampai membenci pemuda di hadapannya ini.

Untuk mencegah ledakan dari perasaannya, sepertinya dia akan menghindari Xeron untuk beberapa waktu. Pemuda itu juga pasti belum mengetahui hal tentang dirinya yang dijadikan kandidat raja berikutnya. Entah akan seperti apa jika dia sudah mengetahuinya nanti.

Laquiana bangkit membalikkan tubuh membelakangi Xeron. Dia berjalan keluar dari arena pelatihan dan menyimpan kembali pedang yang dibawanya ke tempat semula. Di tengah lapang sana, Xeron hanya menatap bingung sepupunya yang semakin menjauh hingga hampir menghilang dari pandangan.

"Biasanya kau menghabiskan waktu seharian hanya untuk berlatih, ada apa?" tanya Xeron sambil berlari menyusul Laquiana.

Sampai di depan kamarnya, Laquiana hanya menoleh sekilas pada Xeron sebelum masuk dan langsung menutup pintu. Tak memberikan Xeron jawaban sepatah kata pun. Helaan napas terdengar, Xeron berusaha memahami kondisi Laquiana. Sepertinya ada sesuatu yang telah membuat suasana hati sepupunya kacau, dan gadis itu belum mau menceritakan hal itu padanya.

ETERNUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang