Florin tersentak bangun dari tidurnya. Dia merasa sudah tidur dengan waktu yang sangat lama karena melihat suasana sekitar pun hari sudah sangat siang. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, sepertinya dia terlalu kelelahan kemarin. Walau begitu, tetap saja Florin merasa ini aneh.
Melihat pada Chenna, hewan itu sudah bangun sedari tadi, namun dia masih dalam posisi duduknya karena telah menjadi sandaran empuk tidur Florin semalaman. Florin mengelus macan kumbang itu dan memeluknya sekali lagi untuk berterima kasih.
"Malam yang panjang, bukan begitu, Chenna?" ucap Florin diakhiri tawa kecil. "Aku masih tidak tahu bagaimana nasibku kedepannya, dan sepertinya kita masih harus mengikuti pemuda itu. Apa kau melihatnya, Chenna? Dia pasti sudah bangun, 'kan?"
Menoleh ke atas pohon, Florin tak melihat siapa pun di sana. Matanya melebar penuh keterkejutan. Menoleh ke sekeliling, tak ada juga tanda-tanda pergerakan. Lelaki Winged Elves itu benar-benar sudah pergi. Dia pergi meninggalkan Florin saat gadis itu masih tertidur dengan pulas.
"Sial!"
Lompatan Florin ke atas punggung Chenna langsung dimengerti apa tujuannya. Chenna yang sempat melihat arah perginya sang Winged Elves segera mengejar. Florin sendiri berharap lelaki itu belum pergi terlalu jauh agar bisa ditemukannya. Meskipun lelaki itu memang masih asing baginya, tetapi tidak ada siapa pun lagi yang bisa Florin ikuti selain dia.
Hari-hari sebelumnya lelaki itu tidak pernah seperti ini. Justru biasanya Florin terbangun karena pergerakan si pemuda yang sedang memakan buah. Entah kenapa pagi ini dia ditinggalkan tanpa diberitahu apa pun. Apakah lelaki itu sebenarnya sudah muak diikuti olehnya? Kemungkinan apa pun itu tidak bisa langsung Florin terima. Setidaknya si pemuda harus memberitahunya lebih dulu jika memang dia tidak mau diikuti lagi.
Berhenti di persimpangan, Florin melihat arahnya satu per satu untuk memperkirakan persimpangan mana yang diambil lelaki itu. Ternyata keberuntungan masih berpihak padanya, Florin melihat lelaki itu di persimpangan arah kiri sedang berjalan tidak terlalu jauh. Tanpa disadari senyumannya mengembang begitu saja.
"Kita ikuti dia, Chenna. Tetapi kau jalan pelan-pelan saja di belakangnya."
Chenna menurut untuk berjalan mengikuti pemuda Winged Elves secara perlahan di belakangnya. Pergerakan Winged Elves yang tiba-tiba diam ikut membuat Chenna terdiam juga, ternyata lelaki itu berbalik untuk melihat ke arah mereka. Florin tak tahu harus bereaksi bagaimana, dia sudah hendak berbicara tetapi lelaki itu kembali melanjutkan perjalanannya.
Florin meminta Chenna untuk lanjut berjalan, mereka mengikuti lagi dengan pelan-pelan. Setelah cukup lama diliputi keheningan, lelaki itu kembali berbalik menatapnya. Terlihat jelas bahwa tatapannya menunjukkan ketidaksukaan. Sepertinya lelaki itu tidak nyaman terus diikuti oleh Florin dan Chenna.
"Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini," sahut Florin cukup keras.
"Aku tidak memiliki tanggung jawab apa pun atas keberadaanmu di sini." Jawaban cukup panjang untuk pertama kalinya keluar dari si pemuda. Nada yang begitu dingin menujukkan penegasannya.
"Y-ya, kau benar, tapi dalam keadaan saat ini aku tidak bisa sembarang pergi ke suatu tempat jika tak mau nyawaku terancam lagi. Aku juga tidak punya tempat tujuan karena rumahku sudah dihancurkan oleh mereka, bibiku dibawa pergi dan–" Keterdiaman yang seketika merupakan akibat dari kesadaran bahwa Florin sampai tidak sengaja mengatakan kondisi yang menimpanya. "Intinya aku tidak tahu harus pergi ke mana," lanjut gadis itu yang kemudian mengalihkan pandangan karena tak tahan dengan sorot dingin sang pemuda.
"Mengikutiku juga bukan pilihan aman."
"Aku tahu, setidaknya aku tidak sendirian. Aku juga bisa menjaga diriku jadi kau tidak terbebani dengan melindungiku. Aku hanya butuh teman perjalanan, itu saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNUS
FantasiaEternus, tanah para makhluk immortal, kini berada di ambang kehancuran. Valey, penguasa Dark Elves, kembali dengan dendam lama dan ambisi besar-menguasai Permata Kehidupan dan mengembalikan kejayaannya yang pernah direnggut. Dua keturunan half-blood...
