Derap langkah kaki menimbulkan kebisingan di tengah lorong yang sunyi. Sosoknya yang tegap tinggi dibalut tunik hitam berhiaskan sulaman emas membentuk liukan seekor ular. Dia menatap lurus sebuah ruangan yang berada di ujung dengan dua pengawal berdiri di tiap sisinya. Tombak yang langsung disilangkan di depan pintu ketika dirinya tiba menjelaskan bahwa ada tamu lain di dalam sana. Untungnya dia tidak perlu menunggu lama karena sesaat kemudian pintu terbuka dari dalam.
Cahaya dari beberapa lilin di dalam ruangan langsung padam seketika bersamaan dengan sosoknya yang masuk ke dalam. Asap-asap tipis dari setiap lilin itu terlihat menguar ke seluruh penjuru ruangan. Sebuah kursi yang ada di dekat lemari buku dia tempati, membiarkan tubuhnya rileks dan mengangkat salah satu kakinya untuk ditumpukan. Sang penghuni ruangan sedari tadi hanya bisa mengamati secara diam, tak merasa keberatan dengan sikap seenaknya.
"Aku sudah mengirimkan suratnya," ucap lelaki berambut pendek itu sambil menggerak-gerakkan jemarinya.
Bukan hanya satu-dua rencana yang Dark Elves miliki. Mereka sudah menyusun semuanya sebaik mungkin sejak lama. Selesai dengan penyerangan di Kerajaan Liberind dan menjadikannya markas kedua, mereka langsung berlanjut pada rencana berikutnya. Mengirimkan surat yang dimaksud Algaren merupakan salah satunya. Entah pada siapa surat itu dikirimkan, hanya mereka saja yang tahu.
"Apa kau sudah mengecek keadaan tahanan istimewa kita?" sang penghuni ruangan yang duduk di singgasana kecil mengangkat topik baru untuk dibicarakan.
Helaan napas terdengar di sebrang sana. "Belum. Aku dengar mereka masih keras kepala."
"Justru itu, aku ingin kau yang mengurusnya. Buat mereka berada di pihak kita juga." Suara berat Valey yang terdengar cukup lembut mengesankan perintah tak terbantahkan.
Tak cukup hanya dengan menguasai tempatnya saja, dia juga menginginkan lebih banyak elf yang tunduk padanya. Dia membutuhkan lebih banyak pasukan yang akan setia padanya. Pasukan yang akan maju bersamanya demi mencapai tujuannya.
"Baiklah." Algaren mengubah posisi duduknya hendak pergi, namun perkataan yang keluar tanpa diduga dari ayahnya itu membuat tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.
"Aku heran mengapa kau bisa menangkap putri elf yang sudah terlatih itu sendirian tetapi tak bisa menangkap gadis hutan terkutuk itu walau sudah membawa puluhan pasukan."
Valey menyinggung soal Florin yang gagal ditangkap putranya pada hari penyerangan, padahal Algaren bisa menangkap Mereline sendirian. Seharusnya keberadaan pasukan dapat membantunya. Seharusnya gadis itu sudah menjadi salah satu tahanannya juga.
"Aku tak sempat berhadapan langsung dengan gadis itu, namun aku yakin pasukanku yang mengikutinya bisa dia kalahkan dengan mudah." Algaren memberikan alasannya.
"Jadi, gadis itu pandai bertarung juga?"
"Dilihat dari caranya yang bisa menangkap lesatan panah dari arah belakang, sepertinya dia ahli. Tak salah lagi pasti wanita itu yang mengajarinya secara langsung. Kemampuannya juga tidak main-main walau baru pulih dari pengaruh serbuk pelemah."
Dalam keremangan cahaya, Valey dibuat bertanya-tanya karena ucapan Algaren. Tatapannya pada satu-satunya lawan bicara di ruangan ini menajam. Rasa penasarannya muncul akan seseorang yang selama ini merawat Florin hingga mengajarinya bertarung. Dia pasti bukan seorang elf biasa seperti dugaannya selama ini.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Valey pada akhirnya.
"Liana Zarton."
Nama salah satu kesatria terhebat Klan Wood Elves disebut oleh Algaren. Wanita itu adalah putri ketiga raja Wood Elves terdahulu, adik bungsu dari Orobus dan Drullen. Pantas saja gadis terkutuk yang dia incar tumbuh menjadi seorang gadis yang ahli juga dalam pertarungan. Tentunya Liana tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengasah kemampuan keponakannya agar bisa tumbuh seperti dirinya. Mengingat bagaimana hebatnya Liana, wanita itu merupakan elf yang berhasil memasukkan dirinya ke dalam lingkaran sihir pada peperangan lima ratus tahun yang lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNUS
FantasíaEternus, tanah para makhluk immortal, kini berada di ambang kehancuran. Valey, penguasa Dark Elves, kembali dengan dendam lama dan ambisi besar-menguasai Permata Kehidupan dan mengembalikan kejayaannya yang pernah direnggut. Dua keturunan half-blood...
