Lagi dan lagi roti kering adalah makanan yang mereka dapatkan. Sudah bukan helaan napas lagi yang bisa dikeluarkan, bahkan berteriak pun tidak akan ada gunanya. Di bawah naungan bayangan, Ellgar hanya bisa menatap makanan itu tanpa ada keinginan untuk menyentuhnya sama sekali. Dia sudah kehilangan selera makannya sejak hari pertama ditempatkan di dalam sel ini.
Entah sudah berapa lama, Ellgar tidak bisa mengetahui pergantian hari karena letak penjara ini berada di bawah tanah. Hanya kegelapan yang menguasai setiap waktu, diiringi suara rintihan kesakitan dari setiap selnya, suasana di tempat ini sudah bagai kutukan baginya. Apalagi ketika dirinya melihat keputusasaan dari klannya yang memilih untuk tunduk pada kegelapan, harapannya semakin pudar.
"Ellgar..."
Panggilan disertai suara batuk dari seorang wanita membuat Ellgar langsung menoleh dan beranjak mendekat. Dia membantu ibunya untuk duduk dan memberikan gelas berisi air untuk diminum.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanyanya.
Sebelumnya Aqsana sempat demam dan tidak bisa tidur. Wanita itu hanya bisa merintih sambil memanggil nama putrinya sesekali. Aqsana juga tidak mau makan, lebih tepatnya dia tidak bisa memakan makanan yang malah semakin menyiksa kerongkongannya. Tidak ada makanan yang layak dia dapatkan di sini. Hal itu juga membuat tubuhnya jadi mengurus dengan cepat.
"Sudah lebih baik." Aqsana menjawab sambil mengelus tangan Ellgar.
"Tetapi tangan Ibu masih gemetar."
"Aku hanya perlu lebih banyak istirahat. Kau juga jangan sampai lupa memperhatikan keadaanmu sendiri, Ellgar. Ibu tidak mau kau sakit juga dalam situasi seperti ini. Kau adalah satu-satunya harapan Ibu saat ini."
Harapan. Sebagai satu-satunya pangeran yang tersisa dan memiliki kedudukan sebagai putra mahkota, Ellgar merupakan satu-satunya harapan ibunya serta semua rakyatnya di sini. Dia bagai setitik cahaya kecil dalam kegelapan yang terlalu pekat. Cahaya dari sebuah api kecil yang sebenarnya selalu tergoyahkan dan mudah padam kapanpun udara berhembus. Begitulah yang Ellgar rasakan, dia juga bisa saja tergelincir ke dalam jurang kekalahan jika harapan itu sendiri sudah hilang dalam dirinya.
Tentu saja Ellgar tidak akan membiarkan harapan itu padam. Harapan yang ada di dalam dirinya dia gantungkan pada seseorang di luar sana. Seseorang yang memungkinkan untuk melakukan perlawanan, sementara dirinya sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Seseorang yang selalu dia percaya dan akan terus seperti itu. Meskipun Ellgar sendiri tidak mengetahui pasti keberadaannya dan bagaimana kabarnya, Ellgar percaya bahwa Edgar akan menjadi penyelamatnya.
Di tengah kesunyian yang jarang terjadi, Aqsana yang sudah hampir bisa tertidur tiba-tiba terlonjak karena suara teriakan yang begitu mengejutkan. Ellgar juga sampai menoleh karena asal suaranya yang terasa sangat dekat. Meskipun sudah sering mendengarnya, mereka tidak akan pernah terbiasa. Jeritan-jeritan itu selalu terdengar mengerikan dan ikut menyayat hati mereka.
"Ellgar, kau belum mendapatkan kabar dari Mereline hari ini?"
Meskipun Mereline terpisahkan dari mereka, mereka selalu saling memberi kabar satu sama lain. Itu yang bisa membuat mereka tetap kuat untuk bertahan sampai saat ini, namun rasanya sudah cukup lama Mereline belum memberi kabar lagi pada mereka. Tentunya kekhawatiran muncul mengingat mereka tak pernah berada di dalam situasi aman sama sekali.
"Belum, kalau begitu aku yang akan lebih dulu menanyakan keadaannya," balas Ellgar.
"Ya, segera tanyakanlah. Aku sangat khawatir padanya, aku harap dia tidak merasakan apa yang kita rasakan di sini."
Bagi Klan Winged Elves, cara mereka mengirim pesan singkat pada satu sama lain dalam jarak dekat adalah dengan menggunakan pesan udara. Mereka hanya tinggal mengucapkan pesan yang akan mereka sampaikan setelah mengucapkan mantra pesannya. Lalu pesan itu akan pergi dengan sendirinya bagai angin yang berlalu dan menyampaikan isi pesannya bagai sebuah bisikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNUS
FantasyEternus, tanah para makhluk immortal, kini berada di ambang kehancuran. Valey, penguasa Dark Elves, kembali dengan dendam lama dan ambisi besarㅡmenguasai Permata Kehidupan dan mengembalikan kejayaannya yang pernah direnggut. Dua keturunan half-blood...
