Keramaian kota di pagi hari menjadi pemandangan bagi sang raja yang setia mengamatinya dari atas balkon. Kota bawah laut milik ras duyung ini memiliki keunikan tersendiri yang tidak dapat dilihat di tempat lain. Selain diramaikan juga oleh hewan-hewan laut kecil, bentuk bangunannya juga menjadi ciri khas. Seperti berbentuk kerang, terumbu karang yang berlubang-lubang, dan tak sedikit juga terdapat menara yang megah nan indah.
Meski terlihat tenang, sebenarnya Raja Alantony sedang diliputi keresahan. Akhir-akhir ini kehidupan bawah laut sedang digemparkan dengan muncul kembalinya siren setelah ratusan tahun menghilang. Mereka menyerang duyung-duyung yang sedang berada di luar wilayah perbatasan. Serangan itu menjadi teror yang meresahkan dan membuat para duyung ketakutan.
Sebagai seorang raja, Alantony tentunya khawatir akan keselamatan rasnya. Teror yang dilakukan para siren pasti memiliki alasan kuat yang tak lain merupakan pembalasan dendam. Walau dia tahu jumlah siren saat ini belum cukup banyak karena hampir terjadinya kemusnahan di masa lalu, tetap saja sebuah peperangan pasti tak dapat terhindarkan.
Untuk saat ini Alantony hanya bisa memberikan aturan baru yang tak memperbolehkan para duyung keluar dari wilayah perbatasan di saat waktu malam. Dia juga ingin para duyung mengurangi kegiatan yang mengharuskan mereka keluar dari wilayah perbatasan itu. Sedangkan untuk pertahanannya, Alantony mengerahkan pasukan kecil untuk berjaga dan memantau keadaan di sana.
Pikiran Alantony yang begitu penuh ini seketika saja buyar dengan dirasakannya pergerakan seseorang di belakang. Dengan menoleh sekilas, Alantony bisa melihat kedatangan putranya yang sepertinya ingin menyampaikan sesuatu padanya.
"Ayah, kali ini salah satu prajurit yang menjadi korbannya," ucap Alvandor langsung pada tujuan utama kedatangannya ke sini.
"Bagaimana bisa? Mereka masih berani mendekat meski para prajurit berjaga di sana?"
Jika sudah seperti ini artinya para siren itu sudah sangat berani. Alantony jadi mengkawatirkan jumlah mereka yang sepertinya sudah meningkat kembali. Melihat situasi yang semakin kacau ini Alantony juga harus memberitahukannya pada seluruh duyung.
"Ini merupakan hal yang janggal, Ayah," ucapan Alvandor membuat Alantony berbalik menghampirinya.
Alvandor belum pernah menyaksikan langsung bagaimana para siren itu menyerang, namun dia selalu meminta si pelapor menceritakan kejadiannya dengan rinci. Dari semua penyerangan siren yang terjadi itu terdapat satu kesamaan yang menarik rasa curiga Alvandor.
"Para siren tidak mungkin langsung maju secara langsung untuk melakukan teror penyerangan ini, secara jumlah mereka mungkin tak sebanyak dulu. Mereka mempergunakan siren-siren yang telah gila demi mempertahankan keutuhan pasukan mereka," Alvandor mengungkapkan dugaannya.
"Siren-siren gila? Apakah maksudmu siren-siren yang selamat dari kejadian di masa lalu dan mereka mengalami kegilaan?" tanya Alantony memastikan.
Alvandor juga baru mengetahui bahwa siren bisa mengalami kegilaan. Entah memang karena kejadian di masa lalu itu atau bagaimana. Dari serangannya, siren gila ini sama ganasnya, namun mereka tidak bisa melakukan pertahanan ketika mendapat serangan balasan. Itu sebabnya siren yang menyerang salah satu prajurit di perbatasan bisa ditangkap dengan cukup mudah.
"Aku sudah menemui siren yang tertangkap oleh para prajurit perbatasan. Dia tidak bisa diajak berbicara dan seolah tak menganggap keberadaanku sama sekali. Jika Ayah penasaran, Ayah bisa melihatnya secara langsung."
Raja Alantony tentu selalu mempercayai perkataan putranya. Jika dia mengatakan bahwa siren itu gila, maka memang benar begitu. Alantony akui dia juga menjadi penasaran, dan dia akan melihat keadaan siren itu setelah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNUS
FantasyEternus, tanah para makhluk immortal, kini berada di ambang kehancuran. Valey, penguasa Dark Elves, kembali dengan dendam lama dan ambisi besar-menguasai Permata Kehidupan dan mengembalikan kejayaannya yang pernah direnggut. Dua keturunan half-blood...
