Tanda pada leher Aleana yang sempat redup, kini mulai bersinar lagi. Hal itu tak lepas dari pandangan Alvandor yang terus berjaga di samping gadis itu. Dia melihat bola mata Aleana yang tertutup oleh kelopak terlihat bergerak-gerak sebelum akhirnya memperlihatkan manik birunya.
Rasa sakit seolah menyerang kesadaran Aleana. Gadis itu sampai melenguh karena tubuhnya terasa kaku. Penderitaannya semalam masih teringat jelas, bagaimana rasa sakitnya dua kali lebih besar dari sebelumnya. Dia merasakan itu dalam bawah sadarnya, dan itu benar-benar menyiksa.
"Aleana."
Panggilan Alvandor menyadarkan bahwa Aleana tak sendirian berada di sini. Dia melihat keberadaan lelaki itu di sampingnya, sontak Aleana hendak bangkit untuk menghindar tetapi tubuhnya merasa sangat lemas.
"Jangan terlalu banyak bergerak, kau belum sepenuhnya pulih. Mungkin masih ada sisa sedikit racun di dalam tubuhmu."
Racun. Aleana mencoba mengingat hal terakhir yang terjadi padanya sebelum berakhir di tempat yang menyesakkan ini. Tanaman lilit yang menyeretnya masuk, menyebarkan racun ke dalam tubuhnya. Mungkin karena hal itulah tubuhnya masih terasa sakit seperti ini.
Aleana berdecak dan hanya bisa menolehkan kepalanya ke arah lain. Melihat dinding berbatu yang hampir menutup seluruh sisi hingga menyisakan satu sisi untuk jeruji-jeruji besi. Ruangan ini memiliki pencahayaan remang-remang serta menghantarkan perasaan tak nyaman bagi siapapun yang menempatinya.
Entah bagaimana Aleana bisa berakhir di tempat seperti ini, dia dibuat penasaran dengan tujuan para siren yang menangkapnya. Selama ini ambisi yang selalu mereka perlihatkan adalah menghabisi semua duyung. Mereka ingin bangsa duyung lenyap dari muka bumi ini.
Penangkapan terhadapnya pasti memiliki tujuan lain. Jika mereka selalu dikatakan membunuh para duyung tanpa pandang bulu, lalu kenapa dirinya dan Alvandor masih hidup? Pasti ada sesuatu yang mereka inginkan, atau mungkin sedang ada yang mereka rencanakan.
Aleana tak bisa membiarkan para siren mencapai keberhasilan mereka. Dia juga tak sudi menjadi tahanan mereka seperti ini. Dia akan berusaha mencari cara untuk membebaskan diri dan pergi dari sini.
"Aleana, kau masih merasa sakit?"
Pertanyaan Alvandor mengusik perasaan gadis berambut pirang itu. Dia benci terlihat lemah seperti ini. Walau memang lelaki itu sudah mengetahui sisi lemahnya sejak lama, tetap saja Aleana selalu benci ketika waktu kutukan yang membuatnya lemah itu tiba.
"Jangan pedulikan aku."
"Aku hanya—"
Kenapa Alvandor begitu peduli? Entahlah. Dia merasa peduli pada gadis ini. Dia tak mau melihat Aleana terus merasa kesakitan, tetapi dirinya tak berdaya dan tak bisa melakukan apa pun yang membantu selain hanya terus menemani di sisinya.
"Aku selalu peduli padamu, Aleana. Bahkan sejak dulu."
Kepedulian itu sudah muncul dalam diri Alvandor sejak pertemuan pertama mereka. Suara tangis dari seorang duyung kecil berhasil membuatnya datang mendekat. Sisi lemah Aleana itulah yang pertama Alvandor ketahui, dan Alvandor tak pernah sekalipun benci telah mengetahui sisi Aleana yang seperti itu.
Kepedulian itu kini terasa membesar, mengubah sebagian perasaannya menjadi rasa takut untuk kehilangan, dan sebagian lagi menjadi rasa yang masih sulit Alvandor sendiri pahami. Setelah menemukan Aleana sejak kepergiannya saat itu, dia tak mau mengulang kesalahan yang sama. Dia tak mau membuat Aleana merasa kecewa lagi, walau mungkin gadis itu masih belum memaafkan kesalahannya yang dulu.
Dia merasa ingin memperbaiki semuanya dan ingin suasana di antara mereka kembali seperti saat awal-awal mereka kenal. Dia ingin melakukan banyak hal lagi bersama Aleana. Berbagi setiap kesenangan maupun kesedihan. Menjadi tempat bersandarnya satu sama lain. Dia juga ingin Aleana terus berada di sisinya. Mungkin terdengar egois, tapi itulah keinginannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNUS
FantasyEternus, tanah para makhluk immortal, kini berada di ambang kehancuran. Valey, penguasa Dark Elves, kembali dengan dendam lama dan ambisi besarㅡmenguasai Permata Kehidupan dan mengembalikan kejayaannya yang pernah direnggut. Dua keturunan half-blood...
