I.XI. Percikan Ketakutan

133 21 2
                                        

Tersisa dia seorang ketika yang lain pergi meninggalkan ruang makan. Meja makan panjang masih cukup banyak dipenuhi oleh makanan yang tak tersentuh. Selain karena berkurangnya anggota yang hadir, tak ada selera makan yang sama seperti sebelumnya. Mereka masih merasakan kegemparan dari situasi yang belum lama terjadi.

Aredhelle melirik sedih pada sisaan makanan yang berderet di hadapannya. Suasana makan malam bersama orang tuanya tadi begitu sunyi. Hanya dentingan alat makan yang terdengar mewakili kehampaan penggeraknya. Dampak dari kekhawatiran akan kepergian, meskipun di baliknya ada tujuan mengatasnamakan pertolongan.

Tak memiliki pilihan lain, Arness dan Guivero memang harus melakukan pencarian sendiri untuk menemukan keberadaan Florin. Semakin cepat mereka menemukan gadis itu akan semakin baik. Tak ada yang tahu bahaya apa yang mengancam di luar sana jika mereka sampai terlambat untuk datang.

Karena sudah berlalu beberapa hari dan masih belum ada kabar atau tanda-tanda kepulangan mereka, seisi istana dilanda khawatir. Mereka hanya bisa mengharapkan hasil yang baik tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Kini bukan hanya satu, tetapi tiga nyawa berada dalam bahaya.

Aredhelle mungkin harus menenangkan kedua orang tuanya setelah ini, namun dia akan pergi menemui Liana lebih dulu. Akhir-akhir ini wanita kesatria itu jadi terus menyibukkan dirinya. Setiap siang hari Aredhelle melihatnya berlatih senjata, lalu malamnya sibuk pada hal lain di dalam kamar sampai melupakan makan malam.

"Tolong siapkan satu porsi makan malam untuk Lady Liana," pinta Aredhelle lembut pada seorang pelayan yang telah dipanggilnya mendekat.

Bersama seorang pelayan yang bantu membawa nampan berisi hidangan makan malam di tangannya, gadis berambut putih panjang itu beranjak pergi ke tempat tujuan. Bagi gadis yang tak bisa menyembunyikan perasaan pada raut wajahnya, kecemasan dapat terlihat jelas. Apalagi jemarinya yang terus digerakkan dan saling bertaut, mendukung perasaan itu.

"Semoga beliau akan memakannya," gumaman kecil keluar dari bibirnya.

Pintu kamar yang terbuka mempermudahkan Aredhelle untuk dapat melihat situasi yang ada di dalam. Kesendirian Liana hanya bertemankan sesuatu yang tengah dikerjakan oleh tangannya. Rupanya wanita berambut keemasan itu sedang menyulam di sebuah selimut berwarna putih dengan begitu sungguh-sungguh.

Tak lama ketukan pintu terdengar dan disusul suara lembut Aredhelle yang terpaksa menginterupsi kegiatan. "Waktunya makan malam, Lady."

"Tolong taruh saja, aku akan makan nanti," balas Liana setelah melirik sekilas sebelum kembali fokus pada sulamannya.

Aredhelle tidak begitu yakin harus meninggalkan makanan ini dan pergi begitu saja. Jika semakin ditunda, akan buruk bagi kondisi Liana. Dia tahu keadaan hati wanita itu sedang diliputi kegelisahan di setiap saatnya. Hanya saja bukan berarti wanita itu juga jadi mengabaikan segalanya.

"Kau pergi saja, biar aku yang antarkan makanan ini ke dalam," ucap Aredhelle, dia segera mengambil alih nampan berisi makanan dari tangan pelayan dengan kehati-hatian.

Mengabaikan apa yang telah diucapkan Liana, Aredhelle semakin mendekat hingga duduk tepat di samping wanita itu. Nampan makanan sudah beralih ke pangkuannya, dan manik violetnya kini dapat melihat sulaman yang dikerjakan Liana dengan sangat jelas.

"Aredhelle, kenapa kau tidak meletakannya saja?" Sebuah pertanyaan tidak bisa ditahan meski tangannya masih bergerak dengan memegang jarum jahit.

"Sulaman ini masih bisa dilanjut nanti, Lady."

"Tidak apa-apa, lagi pula aku tidak terlalu lapar."

"Lady mungkin bisa berkata begitu, tetapi tetap saja tubuh anda memerlukannya. Kecemasan itu jangan sampai membuat jiwa anda juga tersesat. Jika mereka kembali di esok hari, justru mereka akan merasa sedih melihat kondisi anda yang seperti ini."

ETERNUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang